Setelah Pesta Usai

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/4/2015 00:00
Setelah Pesta Usai
(Grafis/SENO)
PESTA mengembalikan 'Semangat Bandung' usai sudah. Yang tersisa mungkin rasa lelah, mungkin sedikit kecewa karena merasa tak sempurna. Namun, acara Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika yang sukses mesti menjadi obat pemulih 'stamina'. Acara raksasa, berkumpulnya 91 pemimpin negara yang mewakili dua pertiga penduduk bumi, sungguh tak sederhana. Ia butuh rancangan matang, pelaksanaan prima. Beruntunglah Bandung! Beruntunglah Indonesia punya Ali Sastroamidjojo. Punya Bung Karno! Selain mengapresiasi seluruh pihak, khususnya panitia di bawah Kepala Staf Kepresidenan Luhut Pandjaitan, nama Wali Kota Bandung Ridwan Kamil harus disebut. Presiden Jokowi mendapuk Emil, sapaan akrabnya, memberesi Bandung. Ia dinilai mampu 'menyulap' kota itu dalam waktu amat singkat menjadi 'siap pakai' untuk acara raksasa sekelas KAA. Emil memang harus bekerja serupa Bandung Bondowoso.

Jokowi juga menugasi Emil membacakan Dasasila Bandung. Dalam bahasa Inggris yang bersih, Emil menarasikan teks itu jadi hidup. Sebelumnya, ia memperkenalkan diri, menyambut tetamu dengan sanjungan. "Selamat datang untuk Macan Asia dan Singa Afrika. Selamat datang di Bandung, ibu kota Asia-Afrika dan kota pertama yang ramah HAM. Hatur nuhun." Setelah itu, segera tagar #haturnuhun mendunia. Ia memang populer di dua dunia; nyata dan maya. Luhut pun memuji Emil sebagai wali kota kelas satu. "Beliau menyulap Kota Bandung dalam waktu enam minggu dan biaya sangat minimal." Emil memang amat maksimal, termasuk mengerahkan para relawan. Ia memang arsitek berkelas dunia. Emil terpilih sebagai wali kota pada 2013, ketika Bandung disorot dalam kesemrawutan akut. Predikat Bandung sebagai ‘Paris van Java’ sudah lama menjadi olokolok sebagai 'Parit van Java'.

Emil segera bergerak, antara lain membuat taman tematik, membenahi pedagang kaki lima, bus sekolah, koneksi internet, dan parkir prabayar. Pembawaan yang tenang, wawasan yang luas, dan kepekaan akan Bandung yang seolah menjadi denyut napasnya membuat Bandung bergairah. Bandung tentu belum sepenuhnya nyaman. Namun, kita percaya di tangan Emil Bandung akan kian bercahaya. Momentum KAA adalah bonus. Ia serupa ekstravitamin menata Bandung menjadi penuh harkat. Bandung yang telah dimaklumatkan Emil sebagai ibu kota Asia-Afrika tak boleh menjadi omong kosong. Ia harus nyaman, aman, kreatif, modern, menjaga nilai tradisi, membangun kesederajatan, persaudaraan, dan menjadi inspirasi.

Kita juga ingin Asia tak meranggas seperti ditulis Afrizal Malna dalam sajak Asia Membaca. 'Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan. Mengantar pembisuan jadi jalan-jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta yang lain lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca, menulis yang tak boleh ditulis'. Kita ingin Afrika juga tak menjadi 'raksasa malas' seperti dalam sajak Nyanyian Ocol dan Nyanyian Lawino karya penyair Uganda, Okot p'Bitek. 'Apakah Afrika/Bagiku?/Kegelapan/ Kegelapan yang dalam/Dalam tak terkirakan/Afrika/Raksasa malas/Berjemur diri di mentari/Tidur, ngorok/ Berkedut dalam mimpi'. Emil tak hanya harapan untuk Bandung, tapi juga untuk Indonesia, untuk Asia-Afrika.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.