Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI atas lahan 3 hektare di Bekasi, PT Arkon Prima Indonesia sibuk mengerjakan berbagai pesanan perusahaan mancanegara. Sebagai pelaku pada industri steel fabrication, PT Arkon menyediakan kerangka untuk pengecoran beton pembangunan jembatan layang dan pembangkit listrik. Saat ini mereka juga diminta untuk membuat kerangka bagi pembangunan struktur terowongan mass rapid transit di Jakarta.
Ada kebanggaan melihat karya anak-anak Indonesia, apalagi ketika produk mereka dipesan berbagai perusahaan Jepang, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Ternyata produk mereka diakui dunia. Pekan lalu, dalam acara Economic Challenges, kita mendapat penjelasan produk pendukung bandar udara, garbarata, yang sudah diekspor ke 14 negara. Setidaknya sudah 700 garbarata produk PT Bukaka Teknik Utama yang dipakai bandara-bandara di dunia. Bahkan, produk industri canggih, yakni komponen pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia, sejak lama dipakai Airbus. Bagian sayap pesawat jumbo A-380 dibuat di pabrik PT DI di Bandung.
Kalau kita rajin melihat industri dalam negeri, banyak yang membanggakan. Sayangnya, mereka bekerja dalam sepi. Bahkan, sa king sepinya mereka terlupakan. Mereka dipaksa berjuang sendiri di tengah aturan yang tak mendukung. Perusahaanperusahaan itu tidak membutuhkan insentif khusus. Mereka hanya meminta kesempatan membuktikan diri. Kalau produk mereka dipakai untuk keperluan dalam negeri, mereka meminta perlakuan setara dengan produk impor.
Direktur Utama PT DI Budi Santoso mencontohkan aturan perpajakan pembelian pesawat oleh perusahaan dalam negeri jika dibandingkan dengan impor. Perusahaan penerbangan dalam negeri harus membayar 10% lebih mahal ketika membeli dari PT DI karena dikenai pajak pertambahan nilai. Untuk menyiasatinya, terpaksa PT DI membuka perusahaan di Singapura dan perusahaan penerbangan dalam negeri membeli dari Singapura karena bisa lebih murah. Keberpihakan kepada industri dalam negeri itulah yang tidak lagi ada. Tidak usah heran apabila terjadi perlambatan pembangunan industri nasional.
Kontribusi industri terhadap produk domestik bruto turun, dari 32% di era Orde Baru menjadi hanya sekitar 23% saat ini. Bandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan dalam membangun industri. Dukungan dari dalam negeri membuat mereka mampu bersaing di pasar internasional. Konsumsi dalam negeri terhadap produk industri di kedua negara tersebut mencapai 55%, baru sisanya masuk pasar ekspor.
Pertanyaannya, ke mana sebenarnya arah pembangunan industri kita? Apakah kita bersungguhsungguh ingin menjadi negara industri yang disegani, atau hanya mau menikmati sebagai konsumen produk industri dunia? Dengan arah kebijakan seperti sekarang, kita pantas kasihan dengan anak-anak Indonesia. Mereka bekerja keras untuk membuat produk, tetapi karya mereka tidak dihargai. Kalau kemudian mereka dibajak perusahaan asing, sangatlah wajar karena mereka memiliki keahlian, tetapi kita tidak pernah mau mengakui karya mereka.
Jawaban atas persoalan ini tak hanya ada di tangan Kementerian Perindustrian, tapi juga jadi komitmen seluruh warga bangsa. Kalau putra Indonesia bisa melakukannya, beri kesempatan kepada mereka untuk membuktikannya. Jangan semua proyek dilakukan dengan model turn key sehingga tenaga kerja pun didatangkan dari Tiongkok. Tanpa arah pembangunan industri yang jelas, kita hanya akan terus melihat ironi-ironi. Kemampuan anak bangsa tak akan berkembang optimal karena mereka dibiarkan berjalan sendirian.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved