CSR

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
28/5/2016 05:00
CSR
(Antara)

KASUS tertangkap tangannya pemimpin DPRD DKI M Sanusi berkaitan dengan reklamasi Teluk Jakarta membuka banyak masalah lain. Salah satunya berkaitan dengan isu corporate social responsibility. Apalagi setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaitkan CSR dengan kewajiban pengembang untuk membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial.

Ada pemahaman yang keliru soal CSR. Tanggung jawab sosial dari korporasi bukan dimaksudkan agar perusahaan pura-pura peduli kepada masyarakat dan lingkungan. Ini program yang sungguh-sungguh untuk menjamin keberlanjutan perusahaan itu sendiri.

CSR muncul karena ketimpangan antara negara kaya dan miskin, antara warga kaya dan miskin, yang kian lebar. Ahli ekonomi Jeffrey Sachs dalam artikel terbarunya menyoroti ketimpangan yang juga terjadi di Amerika Serikat. Koefisien Gini AS mencapai 0,40, bandingkan dengan Kanada yang 0,32, Jerman 0,29, Swedia 0,27, dan Inggris 0,35. Semua ini terjadi karena selama 35 tahun, AS memberikan kenikmatan kepada para orang kaya. Para eksekutif di negara itu mendapatkan gaji yang nilainya mega dan selalu mendapatkan keringanan pajak.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melihat ketimpangan di dunia akan sangat membahayakan masa depan. Untuk itulah kemudian digulirkan program Millennium Development Goals yang salah satunya mengurangi kemiskinan. Kini program MDGs dilanjutkan dengan Sustainable Development Goals yang jangkauannya diperluaskan menjadi 17 indikator perbaikan.

Peran korporasi diperlukan agar mereka ikut memikirkan masa depan bersama. Perusahaan jangan hanya memikirkan keuntungan para pemegang saham, tetapi juga harus memikirkan nasib karyawan, masyarakat sekitar, dan lingkungan hidup. CSR bukan program charity, melainkan pemberdayaan masyarakat. Kegiatannya terbuka terhadap pilihan yang ditetapkan perusahaan, yang penting bisa mengurangi kemiskinan dan kelaparan, menjaga ketersediaan air dan kesehatan, mengatasi ketertinggalan, serta memberdayakan keluarga.

Perusahaan toko serbaada AS, Tesco, misalnya, memilih memberdayakan petani kopi di Amerika Latin. Hal itu dilakukan karena Tesco merasa keuntungan yang didapat dari penjualan produk kopi begitu besar dan sebagian perlu dikembalikan ke sana agar kehidupan petani kopi di Amerika Latin lebih sejahtera dan dengan itu diharapkan, kualitas kopi yang dihasilkan juga lebih baik.

Dalam kasus Jakarta, kita kaget CSR dipakai bagian dari perjanjian bisnis. Pemerintah Provinsi DKI meminta pengembang melakukan program CSR dan itu bisa diperhitungkan sebagai pembayaran kewajiban kepada pemerintah. UU Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas 2012, meski tidak menetapkan besaran CSR yang harus dialokasikan, menggariskan kewajiban korporasi menyisihkan keuntungan untuk kepedulian kepada warga dan lingkungan sekitar. Kita ingin mengajak korporasi untuk tak rakus dan memikirkan diri sendiri. Mereka harus merasa gundah terhadap kehidupan warga bangsanya.

Kita tidak boleh lupa koefisien Gini Indonesia sama dengan AS, yakni 0,40. Kalau tidak membangun kepedulian bersama, kita akan membangkitkan kecemburuan sosial. Wakil Presiden Jusuf Kalla berulang kali mengingatkan kalangan pengusaha untuk belajar dari pengalaman 1998. Kalau kita hanya memikirkan diri sendiri, itu akan membuat rakyat yang merasa tertinggal marah dan akhirnya merusak hasil pembangunan yang sudah kita lakukan.

Karena itu, CSR jangan hanya dipakai sebagai tameng, apalagi menjadi perjanjian bisnis. Kewajiban untuk membangun fasum dan fasos merupakan kewajiban yang melekat pada para pengembang. CSR merupakan kepedulian untuk membuat seluruh rakyat bisa ikut menikmati hasil pembangunan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.