Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sebuah obrolan santai di sebuah kedai kopi, di sebuah sudut Kota Jakarta, di Hari Kebangkitan Nasional, kami tiba-tiba berbincang tentang etnik, tentang suku. Seorang kawan, seorang akademisi yang tekun, bercerita ia pernah mengalami banyak peristiwa di banyak kota yang berkaitan dengan kegagahan sebuah suku dan meng anggap suku lain tak penting. Itu terutama terjadi di awalawal otonomi daerah dimulai.
Saya segera teringat pada sebuah pentas stand-up-comedy di Gedung Kesenian Jakarta ua tahun lalu. Seorang komedian, Ernest Prakasa, mengutip apa yang pernah dikatakan komedian Amerika Serikat, George Carlin. Betapa menjadi suku apa saja tak perlu dibanggakan, sebab ia suatu garis hidup. “Orang tak seharusnya bangga dengan etnik atau suku apa pun yang dia punya. Kenapa? Karena itu bukan prestasi, karena bukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Itu pemberian Tuhan,
sudah dari sananya,” kata Ernest mengutip George Carlin.
Ia mengucapkan dengan tekanan yang memberat. Tak ada makna lebih ketika kita membaca ucapan Carlin. Akan tetapi, itu men jadi ‘penuh makna’ ketika Ernest Prakasa mengutipnya. Saya merasa Ernest tak sekadar mengutip. Namun, segera tertangkap memang ada ‘problem’ di situ. Menjadi anggota etnik tertentu bukanlah sebuah dosa. Anak muda itu seperti tengah melepaskan beban berat yang menindihnya, sebagai anak Indonesia yang berdarah China.
Semula saya agak kaget dengan ucapan itu. Akan tetapi, inilah kejujuran. Saya segera memberi konteks menurut jalan pikiran saya, “Menjadi China itu bukan pilihan, melainkan takdir. Tanpa syarat. Kami sebagai orang Indonesia tak bisa memilih menjadi Jawa, Padang, Sunda, Batak.... Seperti kalian.... Janganlah sebuah takdir ini dipersoalkan dan dihinakan.” Benar juga. Ernest pun melanjutkan. “Dipanggil China itu enggak enak, bukan karena kami terlahir sebagai China. Enggak enak karena ada trauma di sana. Ada memori yang terlintas.
Ada hal-hal yang ingin kami lupakan, tapi datang kembali karena panggilan itu.” Sama juga ketika memanggil suku lain dengan menekankan stereotip yang tak nyaman. Namun, memanggil China memang lebih tidak nyaman. Kecuali Gubernur DKI Jakarta Ahok, yang tak peduli dengan panggilan apa pun. Setahu saya ia menikmati saja apa pun panggilannya. Saya menghela napas. Panggilan China saja sudah menimbulkan trauma. Karena itu, umumnya etnik China di Indonesia dihaluskan menjadi Tionghoa.
Saya justru merasa dengan menyebut ‘China’ jauh lebih menghargai, sebab lebih berkarakter. Itu merujuk pada peradaban tua; dan dalam konteks hari ini sebuah bangsa yang dengan semangat tinggi kini mulai menguasai dunia. Ernest agaknya anak muda Indonesia yang tengah mendefinisikan dirinya, generasinya. Mungkin ‘demi Indonesia’ yang plural dan kerap memendam ‘prasangka’ pada yang bernama China.
Luka karena stigma memang tak lekas bisa di sembuhkan. Namun, sekurangnya reformasi yang kini berusia 18 tahun telah meletakkan dasar kesetaraan warga negara yang berpuluhpuluh tahun menjadi mimpi. Inilah salah satu buah reformasi. Sungguh tak masuk akal jika ada yang mengatakan zaman Orde Baru jauh lebih baik. Itu pernyataan yang menggelikan; bagaimana penindasan manusia disebut lebih baik? Di masa itu prasangka justru dipupuksuburkan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved