Riwayat 35 Ribu Mw-mu

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
21/5/2016 06:00
Riwayat 35 Ribu Mw-mu
(ANTARA/Adiwinata Solihin)

AKHIR tahun lalu, Presiden Joko Widodo meminta Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basyir untuk mengumpulkan individual power producer yang ikut dalam lelang proyek pembangkit listrik.

Presiden ingin tahu apakah perusahaan itu ada dan seberapa serius ingin terlibat dalam pembangunan pembangkit listrik 35 ribu Mw.

Beberapa perusahaan yang disebut namanya oleh Presiden memang absen.

Namun, Presiden bisa diyakinkan, sekitar 19 ribu Mw sudah ada pemenang lelangnya dan mereka akan segera melaksanakan pembangunan proyek.

Lebih dari enam bulan setelah pertemuan itu, kita tak mendengar lagi kelanjutannya.

Seperti di masa-masa lalu, proyek pembangunan pembangkit listrik berhenti pada rencana.

Dari pembangunan 10 ribu Mw yang dicanangkan 10 tahun lalu, baru 3.000 Mw yang direalisasikan.

Apa yang membuat proyek besar untuk menerangi Indonesia selalu gagal? Lemahnya eksekusi.

PLN sebagai pembeli tunggal ragu dengan kemampuan bisa menyerap dan menjual produk tenaga listrik yang dihasilkan.

Saat ini saja PLN mengelola pasokan listrik 47 ribu Mw.

Kalau 7.000 Mw peninggalan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selesai dibangun ditambah 35 ribu Mw yang diinginkan Presiden Jokowi, akan ada tambahan pasokan 42 ribu Mw hingga 2019 nanti.

Pertanyaannya apakah PLN memiliki arus kas yang mencukupi untuk membeli pasokan listrik yang akan mencapai 89 ribu Mw?

Kalau mencukupi, sanggupkah 40 ribu karyawan PLN menjualnya kepada masyarakat?

Di sini manajemen PLN harus terbuka.

Keterbukaan itu penting agar kemudian kita tahu duduk persoalannya.

Pemerintah bisa ikut mencarikan jalan keluar.

Jangan sampai Presiden terus bicara pembangunan 35 ribu Mw dan bahkan menawarkan kepada dunia ketika melakukan kunjungan kenegaraan, tetapi kemudian tidak bisa dilaksanakan.

Seperti belum lama ini ke Korea Selatan, ada komitmen investasi sampai US$18 miliar dan kebanyakan untuk sektor kelistrikan.

Saat ini, dari 30 ribu Mw yang ditargetkan dibangun IPP, baru tiga proyek dengan total 440 Mw yang tingkat pembiayaannya beres.

Itu artinya baru 1,5%.

Sementara itu, dari 5.000 Mw yang harus dibangun PLN, baru 9% yang kontraknya sudah ditandatangani.

Kini juga sedang ramai dibicarakan lelang pembangunan pembangkit listrik yang tiba-tiba ditunda atau diubah tata caranya.

Sepanjang kita tahu, terdapat 44 proyek dengan total 14 ribu Mw (38%) yang sudah perjanjian jual beli listrik.

Ada beberapa yang statusnya tidak jelas karena tata cara lelang diubah, seperti Proyek Jawa 1.

Ada yang dibatalkan PLN seperti kasus Sumsel 8, 9, 10.

Dengan melihat kondisi itu, Presiden harus turun tangan.

Semua pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan pembangkit listrik 35 ribu Mw harus dipanggil duduk bersama.

Secara terbuka harus dijelaskan apa persoalan yang dihadapi, apakah masalah teknis, finansial, atau lahan.

Persoalan penyelesaian ketenagalistrikan bersifat jangka panjang. Pemerintah mempunyai tugas ekstra untuk memenuhi elektrifikasi bagi seluruh rakyat pada 2019.

Jumlah pasokan listrik yang tersedia saat ini tidak mencukupi kebutuhan nasional.

Bahkan di Sumatra masih terus terjadi pemadaman bergilir.

Ketika kita hendak membangun pembangkit listrik, itu tidak bisa selesai setahun.

Butuh waktu panjang mulai penyediaan tanah, pilihan sumber energi, pilihan teknologi, sampai pembangunan transmisi dan gardu untuk sampai ke pengguna.

Kini komitmen pemerintah dipertaruhkan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima