Remah-Remah

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
19/5/2016 06:00
Remah-Remah
(ANTARA/MAULANA SURYA)

WIBAWA Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan terakhir dan tertinggi sepertinya tinggal remah-remah, yaitu sisa-sisa yang ketinggalan hanya pada diri seorang hakim agung Artidjo Alkostar.

Itu pun lebih pas disebut sebagai wibawa peradilan yang menakutkan daripada wibawa peradilan yang terbit karena agungnya keadilan.

Semua perkara kasasi korupsi yang ditangani Artidjo berakhir dramatis, diganjar lebih berat.

Hotasi Nababan, yang dihukum bebas pengadilan tipikor, dihukum penjara 4 tahun. Anas Urbaningrum yang dihukum 7 tahun penjara, diperberat dua kali lipat menjadi 14 tahun.

Hotasi membahasakan putusan itu sebagai hukum tanpa takaran, sedangkan Anas mendoakan Artidjo makin tenar di kuburan.

Putusan Artidjo memperberat hukuman koruptor memenuhi harapan publik agar tercipta efek jera. Publik kecewa bila koruptor dihukum ringan.

Korupsi telah menjadi kejahatan luar biasa karena itu perlu hukuman luar biasa pula agar orang berpikir sejuta kali untuk korupsi.

Apakah efek jera itu terwujud?

Hingga saat ini tidak ada bukti bahwa korupsi menurun. Faktanya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) makin rajin menangkap basah pelaku korupsi.

Yang terjadi malah sebaliknya, orang jera membawa perkaranya ke Mahkamah Agung. Orang bukan takut korupsi, tapi takut kasasi.

Orang takut mencari keadilan di tempat yang agung karena takut bertemu hakim agung Artidjo Alkostar, yang telah dipersepsikan sebagai monster, tukang jagal.

Tukang jagal harus dihindari.

Bukankah dalam kesempitan ada kesempatan? Terjadilah korupsi, yaitu jual beli jasa agar perkara tidak jatuh ke tangan Artidjo.

Itulah yang dilakukan Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata Mahkamah Agung Andri Tristianto Sutrisna bekerja sama dengan Staf Kepaniteraan Muda Pidana Khusus dan Panitera Muda Pidana Khusus Mahkamah Agung.

Keduanya 'membantu' pihak yang beperkara agar perkara tidak ditangani Artidjo, tetapi ditangani hakim agung yang 'oke'.

Apa pun judgment yang dipakainya, Artidjo hakim yang merdeka. Bukan hakim yang 'oke' menurut para koruptor.

Namun, ketakutan 'ketemu' Artidjo malah mendorong korupsi kian 'kreatif' terjadi di dalam Mahkamah Agung.

Bukan hanya untuk menunda pengiriman salinan putusan terkait korupsi, tetapi juga penentuan hakim menghindari Artidjo.

Semua itu bukan dosa Artidjo. Mahkamah Agung telah menjadi kolam yang keracunan, tinggal seorang Artidjo menjadi ikan yang kebal dan ganas, tidak turut keracunan.

Artidjo ialah remah-remah, yang ketinggalan di Mahkamah Agung. Tapi bukan dalam penilaian sisa-sisa keagungan, melainkan kealgojoan.

Kolam itu harus disterilisasikan.

Caranya?

Sebaiknya Mahkamah Agung ditempatkan jauh dari kekuasaan peredaran uang.

Mahkamah Agung juga dijauhkan dari kemudahan para pihak bertemu dengan hakim agung ataupun pejabat/staf Mahkamah Agung.

Bukankah Mahkamah Agung tidak memeriksa para pihak di persidangan, tapi semata memeriksa berkas?

Mahkamah Agung kini dalam keadaan darurat karena itu pindahkan saja ke Bukittinggi, Sumatra Barat, kota yang pernah menjadi ibu kota negara di masa pemerintahan darurat.

Di kota kecil itu, pers dan KPK, bahkan warga setempat, gampang memantau, mengawasi, bahkan 'menangkap' dengan kamera telepon seluler siapa pun pendatang yang 'berlalu lalang' dengan kepentingannya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima