Korea Selatan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/5/2016 06:00
Korea Selatan
(Kim Hong-Ji/Pool Photo via AP)

PRESIDEN Joko Widodo mendapat karpet merah dalam kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan. Berbagai rencana kerja sama ekonomi pun ditandatangani. Korsel menyatakan komitmen mereka untuk ikut dalam pembangunan pembangkit listrik dan farmasi.

Sebenarnya bukan hal baru pengusaha Korsel berinvestasi di Indonesia. Begitu besarnya investasi ‘Negeri Ginseng’ itu, komunitas orang Korea merupakan yang terbesar di Jakarta. Jumlah mereka beserta keluarga setidaknya mencapai 70 ribu orang.

Tidak usah heran apabila sampai ada televisi untuk komunitas Korea di Jakarta. Televisi itu menayangkan informasi dan hiburan khas Korea. Program mereka ditayangkan melalui TV kabel.

Hanya, dalam urusan investasi, sering kita lebih terpukau oleh mereka yang belum menanamkan modal di Indonesia. Kita berani menjanjikan insentif menarik kepada investor yang mau masuk. Sebaliknya, mereka yang sudah bertahun-tahun menanamkan modal sering terlupakan.

Tidaklah keliru jika ada yang mengatakan kita menerapkan prinsip kejarlah daku, kau kutangkap. Kita begitu menggebu menarik investor masuk, sesudah itu mereka seperti masuk perangkap. Mau keluar telanjur investasi sudah besar, mau terus tidak banyak manfaat yang didapatkan.

Kita perlu memahami prinsip my word is my bond. Kalau sudah memberikan janji, itulah yang harus dipenuhi. Jangan hanya menjadi pemanis bibir, tetapi tidak ada realisasi.

Pemerintah Korsel pernah menyampaikan kekecewaan mereka kepada Indonesia. Mereka diajak membangun perusahaan baja di Cilegon pada 2009. PT Krakatau Steel mengikat kerja sama dengan Pohang Steel Company untuk membangun industri baja terpadu dengan investasi pertama sebesar US$2,66 miliar, atau lebih dari Rp30 triliun.

Ketika proyek sedang berjalan, kita memberikan izin investasi industri yang sama kepada perusahaan Jepang, Nippon Steel. Memang, kita tidak akan memberikan hak monopoli kepada sebuah perusahaan. Namun, memberikan izin yang sama kepada proyek yang investasinya raksasa di dalam dunia bisnis dinilai sebagai ‘perselingkuhan’.

Praktik seperti itu membuat investor enggan menanamkan modal di Indonesia. Bisnis berbicara tentang proyeksi ke depan. Tidak pernah ada yang bisa menduga apakah proyeksi itu akan bisa terealisasi atau tidak. Namun, yang namanya pengusaha akan berusaha keras mencapainya.

Agar bisnis bisa berjalan baik, dibutuhkan kepastian. Kalau kebijakan sering berubah di tengah jalan, tidak pernah ada orang yang berani berinvestasi di Indonesia. Ketidakpastian yang terlalu tinggi membuat orang harus berspekulasi.

Kalau pemerintah ingin komitmen investasi terealisasi, kita harus mengubah sikap dan perilaku. Berikan kepastian dan kenyamanan kepada mereka yang sudah berinvestasi di Indonesia. Keberhasilan dari usaha yang sudah ada akan menjadi promosi yang luar biasa bagi investor lain. Kalau yang ada saja ‘ditelantarkan’, bagaimana investor baru mau menanamkan modalnya di sini?

Kunjungan Presiden ke Korsel baik untuk belajar bagaimana negara merencanakan masa depan. Sekarang kita sedang mendengungkan soal ekonomi digital. Korsel sudah melakukan itu sejak 2002. Dengan perencanaan yang baik dan tahapan pencapaian yang jelas, Korsel berhasil menggelindingkan ‘Korean waves’ ke seluruh dunia. Salah satunya diakui Presiden karena putrinya, Kahiyang Ayu, menjadi penggemar fanatik musikus Korsel, Choi Min-ho.

Korsel mengajarkan kepada dunia soal culture matters. Kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan seberapa banyak kekayaan alam yang dimiliki, tetapi seberapa banyak manusia yang memiliki kultur disiplin, kerja keras, dan selalu ingin menjadi pemenang.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima