Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo mendapat karpet merah dalam kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan. Berbagai rencana kerja sama ekonomi pun ditandatangani. Korsel menyatakan komitmen mereka untuk ikut dalam pembangunan pembangkit listrik dan farmasi.
Sebenarnya bukan hal baru pengusaha Korsel berinvestasi di Indonesia. Begitu besarnya investasi ‘Negeri Ginseng’ itu, komunitas orang Korea merupakan yang terbesar di Jakarta. Jumlah mereka beserta keluarga setidaknya mencapai 70 ribu orang.
Tidak usah heran apabila sampai ada televisi untuk komunitas Korea di Jakarta. Televisi itu menayangkan informasi dan hiburan khas Korea. Program mereka ditayangkan melalui TV kabel.
Hanya, dalam urusan investasi, sering kita lebih terpukau oleh mereka yang belum menanamkan modal di Indonesia. Kita berani menjanjikan insentif menarik kepada investor yang mau masuk. Sebaliknya, mereka yang sudah bertahun-tahun menanamkan modal sering terlupakan.
Tidaklah keliru jika ada yang mengatakan kita menerapkan prinsip kejarlah daku, kau kutangkap. Kita begitu menggebu menarik investor masuk, sesudah itu mereka seperti masuk perangkap. Mau keluar telanjur investasi sudah besar, mau terus tidak banyak manfaat yang didapatkan.
Kita perlu memahami prinsip my word is my bond. Kalau sudah memberikan janji, itulah yang harus dipenuhi. Jangan hanya menjadi pemanis bibir, tetapi tidak ada realisasi.
Pemerintah Korsel pernah menyampaikan kekecewaan mereka kepada Indonesia. Mereka diajak membangun perusahaan baja di Cilegon pada 2009. PT Krakatau Steel mengikat kerja sama dengan Pohang Steel Company untuk membangun industri baja terpadu dengan investasi pertama sebesar US$2,66 miliar, atau lebih dari Rp30 triliun.
Ketika proyek sedang berjalan, kita memberikan izin investasi industri yang sama kepada perusahaan Jepang, Nippon Steel. Memang, kita tidak akan memberikan hak monopoli kepada sebuah perusahaan. Namun, memberikan izin yang sama kepada proyek yang investasinya raksasa di dalam dunia bisnis dinilai sebagai ‘perselingkuhan’.
Praktik seperti itu membuat investor enggan menanamkan modal di Indonesia. Bisnis berbicara tentang proyeksi ke depan. Tidak pernah ada yang bisa menduga apakah proyeksi itu akan bisa terealisasi atau tidak. Namun, yang namanya pengusaha akan berusaha keras mencapainya.
Agar bisnis bisa berjalan baik, dibutuhkan kepastian. Kalau kebijakan sering berubah di tengah jalan, tidak pernah ada orang yang berani berinvestasi di Indonesia. Ketidakpastian yang terlalu tinggi membuat orang harus berspekulasi.
Kalau pemerintah ingin komitmen investasi terealisasi, kita harus mengubah sikap dan perilaku. Berikan kepastian dan kenyamanan kepada mereka yang sudah berinvestasi di Indonesia. Keberhasilan dari usaha yang sudah ada akan menjadi promosi yang luar biasa bagi investor lain. Kalau yang ada saja ‘ditelantarkan’, bagaimana investor baru mau menanamkan modalnya di sini?
Kunjungan Presiden ke Korsel baik untuk belajar bagaimana negara merencanakan masa depan. Sekarang kita sedang mendengungkan soal ekonomi digital. Korsel sudah melakukan itu sejak 2002. Dengan perencanaan yang baik dan tahapan pencapaian yang jelas, Korsel berhasil menggelindingkan ‘Korean waves’ ke seluruh dunia. Salah satunya diakui Presiden karena putrinya, Kahiyang Ayu, menjadi penggemar fanatik musikus Korsel, Choi Min-ho.
Korsel mengajarkan kepada dunia soal culture matters. Kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan seberapa banyak kekayaan alam yang dimiliki, tetapi seberapa banyak manusia yang memiliki kultur disiplin, kerja keras, dan selalu ingin menjadi pemenang.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved