Ekonomi Melambat

14/5/2016 06:03
Ekonomi Melambat
(ANTARA/Rivan Awal Lingga)

MOMENTUM pembalikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2015 tak mampu kita pertahankan.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2016 hanya 4,92%.

Perlambatan ekonomi yang kembali terjadi pantas membuat Presiden Joko Widodo kecewa, sebab pemerintah sudah berupaya mempercepat belanja modal untuk mendorong pertumbuhan.

Presiden sudah meminta tender proyek agar dilakukan lebih awal.

Harapannya, begitu pergantian tahun, semua proyek pemerintah bisa dijalankan.

Januari lalu kita merasakan geliat pembangunan yang memberi optimisme dunia usaha.

Namun, geliat itu hanya sesaat.

Pada bulan kedua, semua berjalan seperti biasa lagi.

Penyerapan anggaran kuartal pertama tidak sebaik yang diharapkan.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro bahkan melihat dana transfer ke daerah lebih banyak disimpan di bank.

Inkonsistensi dalam eksekusi menjadi penyebab perlambatan ekonomi.

Apalagi pemerintah melakukan 'kejutan-kejutan' yang tak perlu.

Khususnya, sikap desperate terhadap tak tercapainya target penerimaan pajak tahun ini melahirkan ketakutan.

Padahal, motor pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi.

Meski ingin membuat pertumbuhan lebih berkualitas dengan mendorong investasi, pemerintah tidak boleh mengorbankan konsumsi.

Kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan turun dari 2,73% kuartal lalu menjadi 2,70% kuartal ini.

Salah satu penyebab masyarakat menurunkan konsumsi ialah keputusan Direktorat Jenderal Pajak meminta perbankan melaporkan semua transaksi pengguna kartu kredit.

Tidak adanya penjelasan utuh tentang latar belakang kebijakan tersebut membuat masyarakat takut kesalahan mereka dalam urusan pajak dicari-cari.

Dampaknya dirasakan sektor riil. Sektor otomotif yang sempat tersenyum melihat penjualan Januari dan Februari terpukul lagi Maret.

Sampai Mei, penjualan otomatif belum kunjung membaik.

Hal yang sama dialami sektor ritel.

Konsumsi primer memang masih naik.

Akan tetapi, untuk konsumsi sekunder dan tersier, masyarakat memilih menunda pembelian.

Mereka berpikir dua kali untuk membeli barang, apalagi jika harus menggunakan kartu kredit.

Pemerintah tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri.

Belanja pemerintah ikut berkontribusi pada pertumbuhan.

Namun, yang kontribusinya jauh lebih besar ialah belanja masyarakat dan investasi swasta.

Memang, ketimbang pertumbuhan kuartal I 2015 yang 4,71%, pertumbuhan kuartal I tahun ini jauh lebih tinggi.

Namun, itu sekadar menghibur diri.

Bila dibandingkan dengan kuartal I 2014 yang tercatat 5,41%, pertumbuhan kali ini jauh lebih rendah.

Yang kita butuhkan bukanlah excuse.

Kita harus cari jalan terbaik untuk mendorong pertumbuhan.

Di tengah perlambatan ekonomi global, kita harus fokus pada tiga sumber pertumbuhan, yaitu belanja pemerintah, belanja masyarakat, dan investasi swasta.

Agar investasi swasta dan belanja masyarakat optimal, ketenangan harus diciptakan. Situasi kondusif akan memicu swasta dan masyarakat mau menggunakan sumber daya mereka.

Tak dapat dimungkiri, pemerintah membutuhkan penerimaan untuk melakukan pembangunan.

Namun, hal itu bisa dicapai tanpa harus menimbulkan ketakutan.

Tangkap saja ikannya tanpa harus membuat keruh kolamnya.

Termasuk rencana mengeluarkan undang-undang pengampunan pajak.

Peraturan itu dibuat untuk memperkuat perekonomian, memperbesar basis pajak, di samping menambah penerimaan pajak.

Pemerintah harus menjelaskan tujuan itu secara utuh agar jangan terjadi salah persepsi.

Saat ini muncul kesan pemerintah memberi karpet merah pengemplang pajak demi mengejar target.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima