Ki Hadjar

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
03/5/2016 05:30
Ki Hadjar
(ANTARA/Doto Karundeng)

DI era digital yang tanpa batas dan tanpa pemerintahan ini, pikiran-pikiran Ki Hadjar Dewantara tengah dihidupkan kembali. Melalui slide, wajah sang pendidik dan kutipan-kutipan pikirannya muncul sepanjang acara peringatan Hari Pendidikan Nasional di Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta, juga di seluruh Indonesia, kemarin.

Wajah pendidik sejati itu bergantian muncul dengan para tokoh lain, juga beserta kutipan mereka tentang pendidikan dan pembangunan bangsa. Untuk memperingati hari penting itu digelar peluncuran dan bedah buku New Business Model in Digital Age karya Sawidji Widioatmodjo, mantan wartawan, Dekan Fakultas Ekonomi Untar.

Para pembahas, guru besar bisnis internasional Nizam Jim Wiryawan, pendiri Tokopedia Leontinus Alpa Edison, dan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Arif Budisusilo. Selaku moderator, saya berkali-kali memandang wajah Ki Hadjar yang berkopiah itu, terasa arkais di tengah dunia kita. Apakah pikiran-pikiran dan jejak Ki Hadjar masih menjadi inspirasi para pendidik generasi kini?

Ki Hadjar tak hanya meningggalkan nama ning-ratnya, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga mengorbankan hidup sepenuhnya untuk Indonesia. Bukankah kini, setelah lebih dari satu abad kelahiran Ki Hadjar, feodalisme baru (para pejabat publik kita yang gila hormat) justru seperti tengah bertumbuh?

Pendidikan Taman Siswa yang ia dirikan pada 1922 adalah perlawanannya yang paling cerdas atas penjajahan. Ia tekankan pendidikan dan pengajaran berdasarkan budaya dan masyarakat Indonesia. Kini, pendidikan kita justru banyak pula yang terce-rabut dari budaya dan masyarakatnya sendiri.

Segera saya teringat artikel Ki Hadjar yang bergelora, yang pernah saya baca semasa sekolah menengah, Seandainya Aku Seorang Belanda (Als Ik Een Nederlander was). Tulisan ini dimuat di surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913. "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, melainkan juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya."

Itulah kritik pedas sebagai respons atas niat pemerintah Hindia Belanda mengumpulkan sumbangan dari kaum pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda yang mereka rebut dari Prancis pada 1913.

Sejarah memang rekonstruksi peristiwa masa silam, tapi sejarah juga menjadi titik pijak membangun masa depan. Juga pikiran-pikiran Ki Hadjar. Di abad ke-21, menurut pakar manajemen Peter F Druker yang juga menjadi salah satu referensi buku Sawidji, masyarakat akan menata kembali konsepsi kehidupan: nilai-nilai utama, struktur sosial dan politik, seni dan sastra, dan pranata kehidupan lain. Di abad ini pula alam akan menyeleksi siapa pemenang dan siapa pecundang. Hanya yang kreatif dan inovatif yang akan tetap berlayar di samudra digital.

Saya tetap meyakini, mesti geografi dan negara menjadi 'musuh' empasan gelombang era digital, selain kecerdasan dan inovasi, kekhasan identitas budaya-bangsa, seperti kata Ki Hadjar, justru menjadi nilai keunggulan tak tertandingi. Bukankah Jerman, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan bergerak maju justru dengan identitas budaya-bangsa mereka yang kukuh itu?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.