Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA sepenuhnya sadar tak sedang hidup dalam era Plato. Namun, bukan berarti kita tak boleh berharap apa yang pernah dikatakan sang filsuf itu. Bahwa, “Pendidikan seharusnya melahirkan orang baik, dan orang baik akan bertindak mulia.”
Katanya, pendidikan membentuk watak. Karena itu, jikapun menjadi orang kebanyakan, orang berpendidikan akan mudah dipimpin, tetapi sulit dipaksa; mudah diperintah, tetapi mustahil diperbudak.
Para pendidik bersepakat, pendidikan ialah cermin bangsa. “Jika ingin melihat sebuah bangsa maju atau terbelenggu, lihatlah pendidikannya.” Karena itu, jika pendidikan masih tak kunjung menghasilkan ‘orang baik’ yang ‘bertindak mulia’, itu artinya pendidikan kita memang dirundung mala. Jika negeri ini masih terlalu banyak yang mudah diperbudak, itu tanda pendidikan kita serupa cermin yang retak.
Satu dasawarsa terakhir, dengan perasaan masygul, kita terpaksa berkaca pada cermin retak itu. Peringkat pendidikan kita kian menuju nadir. Lihat saja yang tergolong baru, yakni daftar pendidikan negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi Pembangunan (OECD) yang dirilis BBC dan Financial Times, tahun silam. Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, berurutan menempati lima puncak. Indonesia di posisi nadir, yakni 69 dari 76 negara. Vietnam negara yang baru bangkit karena perang, di posisi 12. Ke mana rasa masygul ini harus dialamatkan?
Padahal, Undang-Undang Pendidikan (2003) dan Undang-Undang Guru dan Dosen (2005) dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Anggaran pendidikan melonjak tinggi menjadi 20%, program sertifikasi guru pun dibuat. Tunjangan guru 2015 saja mencapai Rp80 triliun. Namun, tunjangan sebesar itu seperti tak meninggalkan jejak perbaikan apa pun.
Dewan pendidikan dan komite sekolah juga setali tiga uang. Dalam banyak kasus, kinerja mereka lebih banyak dipertanyakan daripada diapresiasi. Mereka lebih banyak tidak paham bagaimana mengembangkan pendidikan di wilayah mereka.
Padahal, kedua perwakilan masyarakat itu seharusnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan anak didik di tempat masing-masing. Komite sekolah dalam banyak fakta hanya berfungsi sebagai penggalang dana untuk kegiatan sekolah. Jika ada anggota komite sekolah yang kritis, justru dengan cepat pihak sekolah menggantinya.
“Berupaya menyelesaikan masalah, tetapi selalu menimbulkan masalah,” agaknya inilah persoalan yang tengah mendera dunia pendidikan kita. Fakta yang paling benderang ialah hanya 10% kepala sekolah di Indonesia (sekitar 208 ribu kepala sekolah) yang tesertifikasi.
Padahal, menurut aturan, seorang kepala sekolah mesti besertifikat kepala sekolah. Inilah data 2014/2015 yang dirilis Advisor for Knowledge and Communication yang dikeluarkan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), 2 hari silam.
Dari jumlah itu pun hanya sepertiga yang terserap menjadi kepala sekolah di kabupaten/kota masing-masing. Sebab, seorang guru dapat menjadi orang nomor satu di sebuah sekolah diputuskan bupati atau wali kota untuk SD dan SMP serta gubernur untuk SMA.
Beruntunglah jika mempunyai kepala daerah yang memahami pendidikan. Jika tidak, sia-sialah kepala sekolah yang telah tesertifikasi yang mereka ambil selama berbulan-bulan itu. Akan kian jauhlah kualitas pendidikan kita dari harapan.
Kita cemas, ketika pendidikan bangsa lain telah terbang tinggi, kita masih berkutat dengan persoalan dasar: guru. Jangan-jangan cermin itu tak lagi retak, tetapi pecah.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved