KATAKAN dengan nostalgia. Kita beruntung punya nostalgia itu. Inilah nostalgia yang diberi makna sesuai dengan konteks zamannya, ia terasa menjadi ada, menjadi hidup kembali. Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, (KAA) pada 18-24 April, saya kira, nostalgia serupa itu.
Kerinduan sejarah justru ketika hari-hari ini kita seperti tengah kehilangan kepercayaan diri. KAA semacam suntikan vitamin untuk menguatkan tubuh, memompa semangat baru meniti masa depan.
KAA bermula dari pertemuan lima negara di Kolombo yang menjadi sponsor, Indonesia, India, Pakistan, Myanmar (dulu Birma), dan tuan rumah Sri Lanka, pada April 1954. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengusulkan dengan gigih, Soekarno memboboti secara brilian agar pertemuan itu dilebarkan untuk bangsa Asia-Afrika. Setahun kemudian berkonferensilah 23 negara Asia dan enam negara Afrika, di Bandung, Indonesia.
Dunia tercengang! Masa itu ialah era penuh rivalitas dua kubu raksasa yang membelah geopolitik secara diametral. AS memimpin Blok Barat yang liberal dan Uni Soviet mengomandani Blok Timur yang komunis. Merekalah yang menghegemoni seluruh 'kebenaran' di muka bumi. Bagi AS, negara yang tak bersekutu dengannya, ia musuh! KAA bukan saja tak berblok, melainkan juga berkomitmen membangun kesederajatan manusia, menghargai HAM, dan mendesak dekolonisasi.
Tak mudah. Asia juga penuh warna. India dan Pakistan juga punya sengketa soal Kashmir. Tiongkok, yang amat penting, dibenci Taiwan dan tak disukai Filipina, Thailand, Pakistan, dan Sri Lanka. Demi spirit bersama mereka bersatu.
Tuah KAA segera terasa. Sudan lepas dari Inggris, Aljazair, Maroko, dan Tunisia merdeka dari Prancis. KAA kemudian menjadi modal Gerakan Non-Blok. Sayang, setelah Soekarno tak berkuasa, semangat Bandung jadi senyap. Baru pada 2005 dihidupkan kembali. Kini lebih dimaknai lagi.
Tak salah bernostalgia. Pidato Presiden Jokowi berani menggugat ketidakadilan global. Ia mendesak reformasi PBB, membentuk sistem ekonomi dunia yang berkeadilan, menjalin kerja sama menghadapi kekerasan dan radikalisme, dan menuntut sengketa antarnegara diselesaikan dengan diplomasi.
"Ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok negara enggan mengakui realitas dunia yang telah berubah. Pandangan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB ialah pandangan usang yang perlu dibuang," kata Jokowi di depan pemimpin yang mewakili 86 negara.
Pesan yang juga amat sesuai dengan Dasasila Bandung, yakni Palestina. Jokowi seperti menemukan panggung tepat untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. "Kita harus mendukung lahirnya negara Palestina merdeka."
KAA tak hanya bukti sebuah mimpi para pemimpin yang serius diwujudkan, tetapi juga spirit kerelawanan (gotong royong) yang hidup. Kerja sama politik dan ekonomi Asia-Afrika sudah mulai terasa. Yang belum kerja sama bidang kebudayaan. Ini penting karena dua benua itu tidak hanya dihuni sekitar dua pertiga penduduk dunia, tetapi sesungguhnya kekuatan dan bagian terdalam kekuatan dunia.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.