Tidak sekadar Nostalgia

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
24/4/2015 00:00
Tidak sekadar Nostalgia
(GRAFIS: SENO/FOTO: AP)
KATAKAN dengan nostalgia. Kita beruntung punya nostalgia itu. Inilah nostalgia yang diberi makna sesuai dengan konteks zamannya, ia terasa menjadi ada, menjadi hidup kembali. Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, (KAA) pada 18-24 April, saya kira, nostalgia serupa itu.

Kerinduan sejarah justru ketika hari-hari ini kita seperti tengah kehilangan kepercayaan diri. KAA semacam suntikan vitamin untuk menguatkan tubuh, memompa semangat baru meniti masa depan.

KAA bermula dari pertemuan lima negara di Kolombo yang menjadi sponsor, Indonesia, India, Pakistan, Myanmar (dulu Birma), dan tuan rumah Sri Lanka, pada April 1954. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengusulkan dengan gigih, Soekarno memboboti secara brilian agar pertemuan itu dilebarkan untuk bangsa Asia-Afrika. Setahun kemudian berkonferensilah 23 negara Asia dan enam negara Afrika, di Bandung, Indonesia.

Dunia tercengang! Masa itu ialah era penuh rivalitas dua kubu raksasa yang membelah geopolitik secara diametral. AS memimpin Blok Barat yang liberal dan Uni Soviet mengomandani Blok Timur yang komunis. Merekalah yang menghegemoni seluruh 'kebenaran' di muka bumi. Bagi AS, negara yang tak bersekutu dengannya, ia musuh! KAA bukan saja tak berblok, melainkan juga berkomitmen membangun kesederajatan manusia, menghargai HAM, dan mendesak dekolonisasi.

Tak mudah. Asia juga penuh warna. India dan Pakistan juga punya sengketa soal Kashmir. Tiongkok, yang amat penting, dibenci Taiwan dan tak disukai Filipina, Thailand, Pakistan, dan Sri Lanka. Demi spirit bersama mereka bersatu.

Tuah KAA segera terasa. Sudan lepas dari Inggris, Aljazair, Maroko, dan Tunisia merdeka dari Prancis. KAA kemudian menjadi modal Gerakan Non-Blok. Sayang, setelah Soekarno tak berkuasa, semangat Bandung jadi senyap. Baru pada 2005 dihidupkan kembali. Kini lebih dimaknai lagi.

Tak salah bernostalgia. Pidato Presiden Jokowi berani menggugat ketidakadilan global. Ia mendesak reformasi PBB, membentuk sistem ekonomi dunia yang berkeadilan, menjalin kerja sama menghadapi kekerasan dan radikalisme, dan menuntut sengketa antarnegara diselesaikan dengan diplomasi.

"Ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok negara enggan mengakui realitas dunia yang telah berubah. Pandangan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB ialah pandangan usang yang perlu dibuang," kata Jokowi di depan pemimpin yang mewakili 86 negara.

Pesan yang juga amat sesuai dengan Dasasila Bandung, yakni Palestina. Jokowi seperti menemukan panggung tepat untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. "Kita harus mendukung lahirnya negara Palestina merdeka."

KAA tak hanya bukti sebuah mimpi para pemimpin yang serius diwujudkan, tetapi juga spirit kerelawanan (gotong royong) yang hidup. Kerja sama politik dan ekonomi Asia-Afrika sudah mulai terasa. Yang belum kerja sama bidang kebudayaan. Ini penting karena dua benua itu tidak hanya dihuni sekitar dua pertiga penduduk dunia, tetapi sesungguhnya kekuatan dan bagian terdalam kekuatan dunia.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.