Diponegoro!

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
17/2/2015 00:00
Diponegoro!
(MI/ADAM DWI)
DIPONEGORO hidup kembali! Satu setengah abad lebih pangeran dari Tegalrejo itu bersemayam di bawah batu nisan dan epitafnya di Makassar. Namun, pahlawan Perang Jawa (1825-1830) yang suka dipanggil Sultan Ngabdul Khamid Erucakra itu hadir di Jakarta, di tengah cuaca politik yang bergemuruh.

Pangeran kelahiran Yogyakarta 11 November 1785 itu tampil gagah, penuh percaya diri, dan berwibawa. Di tangan Raden Saleh Syarif Bastaman, Diponegoro tak runduk pada penjajah seperti yang diwartakan Belanda.

Itulah impresi saya atas pameran lukisan dalam sejarah bertajuk Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini, yang digelar di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran dibuka Mendikbud Anies Baswedan 5 Februari, diisi diskusi dan aneka pentas, akan berakhir 8 Maret. Masyarakat amat antusias. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, umumnya anak-anak muda.

Pameran yang dikuratori Jim Supangkat (Indonesia), Peter Carey (Inggris), dan Werner Kraus (Jerman) itu memang menarik. Ini hasil kerja sama Goethe Institut, Galeri Nasional Indonesia, Kedubes Republik Federasi Jerman, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Erasmus Huis, Galeri Foto Jurnalistik Antara, dan Universitas Paramadina.

Selain lukisan Raden Saleh yang patriotik, Penangkapan Pangeran Diponegoro dan dua lukisan lain, pameran yang ditata apik itu melibatkan 20 perupa lain. Semula Raden Saleh dianggap propenjajah, tetapi dengan lukisan yang ia buat pada 1857, dunia tahu ke mana seniman besar itu berpihak. Inilah untuk pertama kali pelukis Indonesia mengangkat sejarah sosial politik, bahkan disebut sebagai protonasionalisme di Indonesia.

Saleh menghadiahkan lukisan itu pada Raja Belanda, William III. Ada kritik, penangkapan penuh khianat, pangeran yang alim itu dijebak. Lukisan itu semacam jawaban atas lukisan berjudul sama yang dibuat pada 1835 oleh Nicolass Pieneman yang menggambarkan Diponegoro takluk. Ratu Juliana mengembalikan lukisan itu kepada Indonesia pada 1978.

Kita tahu Perang Diponegoro ialah pertempuran yang memakan korban 200 ribu jiwa dari pihak Diponegoro dan 15 ribu dari Hindia Belanda. Bacalah autobiografi sang pangeran, Babad Diponegoro, ditulis di pengasingan, Manado, (Mei 1831-Februari 1832) berisi 1.150 halaman tulisan tangan. Itulah naskah indah yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Memory of the World Register, Daftar Ingatan Kolektif Dunia.

Baca pula buku hasil penelitian sejarawan Peter Carey (Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014). Sejarawan Inggris itu menghabiskan waktunya selama 40 tahun untuk Diponegoro. ''Bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah, dari pengorbanan Diponegoro yang luar biasa itu. Keberanian dan kearifan ada padanya,'' kata Peter Carey kepada para pengunjung.

Saya juga ingin menyambut sang Pangeran dari Tegalrejo itu dengan sajak Diponegoro karya Chairil Anwar yang lama tak saya baca.

'Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU'



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima