DIPONEGORO hidup kembali! Satu setengah abad lebih pangeran dari Tegalrejo itu bersemayam di bawah batu nisan dan epitafnya di Makassar. Namun, pahlawan Perang Jawa (1825-1830) yang suka dipanggil Sultan Ngabdul Khamid Erucakra itu hadir di Jakarta, di tengah cuaca politik yang bergemuruh.
Pangeran kelahiran Yogyakarta 11 November 1785 itu tampil gagah, penuh percaya diri, dan berwibawa. Di tangan Raden Saleh Syarif Bastaman, Diponegoro tak runduk pada penjajah seperti yang diwartakan Belanda.
Itulah impresi saya atas pameran lukisan dalam sejarah bertajuk Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini, yang digelar di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran dibuka Mendikbud Anies Baswedan 5 Februari, diisi diskusi dan aneka pentas, akan berakhir 8 Maret. Masyarakat amat antusias. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, umumnya anak-anak muda.
Pameran yang dikuratori Jim Supangkat (Indonesia), Peter Carey (Inggris), dan Werner Kraus (Jerman) itu memang menarik. Ini hasil kerja sama Goethe Institut, Galeri Nasional Indonesia, Kedubes Republik Federasi Jerman, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Erasmus Huis, Galeri Foto Jurnalistik Antara, dan Universitas Paramadina.
Selain lukisan Raden Saleh yang patriotik, Penangkapan Pangeran Diponegoro dan dua lukisan lain, pameran yang ditata apik itu melibatkan 20 perupa lain. Semula Raden Saleh dianggap propenjajah, tetapi dengan lukisan yang ia buat pada 1857, dunia tahu ke mana seniman besar itu berpihak. Inilah untuk pertama kali pelukis Indonesia mengangkat sejarah sosial politik, bahkan disebut sebagai protonasionalisme di Indonesia.
Saleh menghadiahkan lukisan itu pada Raja Belanda, William III. Ada kritik, penangkapan penuh khianat, pangeran yang alim itu dijebak. Lukisan itu semacam jawaban atas lukisan berjudul sama yang dibuat pada 1835 oleh Nicolass Pieneman yang menggambarkan Diponegoro takluk. Ratu Juliana mengembalikan lukisan itu kepada Indonesia pada 1978.
Kita tahu Perang Diponegoro ialah pertempuran yang memakan korban 200 ribu jiwa dari pihak Diponegoro dan 15 ribu dari Hindia Belanda. Bacalah autobiografi sang pangeran, Babad Diponegoro, ditulis di pengasingan, Manado, (Mei 1831-Februari 1832) berisi 1.150 halaman tulisan tangan. Itulah naskah indah yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Memory of the World Register, Daftar Ingatan Kolektif Dunia.
Baca pula buku hasil penelitian sejarawan Peter Carey (Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014). Sejarawan Inggris itu menghabiskan waktunya selama 40 tahun untuk Diponegoro. ''Bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah, dari pengorbanan Diponegoro yang luar biasa itu. Keberanian dan kearifan ada padanya,'' kata Peter Carey kepada para pengunjung.
Saya juga ingin menyambut sang Pangeran dari Tegalrejo itu dengan sajak Diponegoro karya Chairil Anwar yang lama tak saya baca.
'Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU'
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima