Kotak Pandora

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
26/4/2016 08:51
Kotak Pandora
(MI/Panca Syurkani)

BEBERAPA hakim agung pernah mengeluhkan betapa dominannya peran Nurhadi, Sekretaris Mahkamah Agung, di institusi itu. Namun, umumnya mereka hanya berani berkeluh di belakang. Jarang yang berani berterus terang. Ada yang mengatakan siapa yang berseberang jalan dengan Nurhadi alamat dipersulit segala urusan. Ada yang menyebut sebagai pemimpin birokrasi di institusi itu, Nurhadi tergolong orang kuat. Punya dana dan didukung pimpinan.

Ruangan kerjanya yang jembar dan perabotannya yang mahal menunjukkan Nurhadi bukan sembarang Sekretaris MA. Syukurannya yang amat meriah di Semarang setelah dilantik menjadi Sekretaris MA pada 2012 juga semacam permakluman bahwa ia Sekretaris MA yang 'berbeda'. Hartanya yang melimpah kian menguatkan lagi siapa Nurhadi.

Namun, Nurhadi pula yang rajin mengampanyekan antikorupsi di institusinya. Bahkan, ia berteriak lantang tak segan memberi sanksi bagi jajaran MA yang menorehkan citra buruk. Namun, beberapa kali MA diterpa kasus tak sedap membuktikan kehendak baik itu hanya di atas kertas, tak berkorelasi dengan realitas.

Karena itu, hukum harus bisa menjelaskan disitanya tiga tas uang dolar Amerika yang bernilai miliaran rupiah dari rumah Nurhadi oleh KPK dalam kasus panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution. Dari mana dan untuk apakah uang sebanyak itu? Jika uang halal, kenapa tak ditaruh di bank? Kenapa uang menumpuk di rumah?

Tentu, Nurhadi belum tentu salah. Namun, bisakah ia menunjukkan dari mana hartanya yang melimpah sebagai pejabat eselon I? Jika ternyata nanti terbukti ia memang lancung, benarlah gosip tak sedap selama ini tentang dia. Lalu, apa makna capaian yang ia motori? Akan kian habislah citra birokrasi MA. Kian sulitlah masyarakat percaya pada 'gerbang terakhir pencari keadilan' itu.

Padahal, sebagai pejabat negara, berlapis-lapis aturan pastilah sudah diketahuinya. Berkali-kali sumpah-janji, sebagai pejabat karier, pasti telah diikrarkan. Berlapis-lapis tanggung jawab pastilah sudah dimaklumi. Akan tetapi, kita tahu mereka yang terjerat kejahatan, korupsi terutama, justru hidup dalam kepungan aturan dan sumpah yang pernah mereka ikrarkan, bahwa mereka tak akan khianat terhadap negara. Namun, di pundak orang-orang loba, aneka aturan dan sumpah kerap dianggap serupa ketinggian di langit dan kerendahan di bumi. Tak tersambung tak terhubung. Aneka aturan bisa diputar-putar, dikelabui, disiasati, dan dikhianati.

Dalam kasus Nurhadi, ada desas-desus opini, pimpinan MA akan berusaha sekuat mungkin agar ia selamat dari jerat hukum. Risikonya terlalu berat. Ia serupa air, implikasinya bisa mengalir ke mana-mana. Ada yang bilang Nurhadi serupa 'kotak pandora'. Begitu kotak itu dibuka, akan timbul rasa sakit dan guncangan hebat. Demi tegaknya wibawa MA, unsur pimpinan lembaga itu harus bisa membuktikan spekulasi opini seperti itu tidak benar!

Karena itu, di tengah kepercayaan masyarakat yang kian melindap, mestinya MA menerima tawaran KPK yang siap menempatkan personel mereka untuk ikut membenahi sistem. KPK tak akan intervensi soal-soal hukum. Tujuannya agar berbagai kasus yang menimpa MA tidak terulang.

Penerimaan itu punya banyak arti positif. Bahwa MA mengakui institusi mereka punya kelemahan dalam tata kelola keuangan dan manusia. Bahwa MA serius melawan korupsi. Bahwa orang-orang MA tak bisa lagi main-main membelanjakan uang negara juga dalam menerima harta. Mereka akan dilatih menjadi aparat hukum yang profesional dan bersih.

Namun, pada akhirnya, semuanya sangat berpulang pada unsur pimpinan MA. Hendak ke mana MA akan dibawa? Kita tak mau MA dibawa ke dasar jurang.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima