Brexit

Saur Hutabarat
25/4/2016 07:21
Brexit
(FOTO: AFP/AP)

KUNJUNGAN Presiden RI Jokowi dan Presiden AS Barack Obama ke London, pekan lalu, jangan-jangan merupakan lawatan terakhir mereka ke Inggris sebagai anggota Uni Eropa. Pada 23 Juni, melalui referendum, rakyat Inggris bakal memutuskan apakah Inggris tetap bertahan atau keluar dari UE.

Jajak pendapat terakhir (12-14/4) menunjukkan ketatnya pertarungan. Yang memilih tetap bergabung UE hanya unggul 1%, yaitu 40% berbanding 39%. Tidak memilih 5%, tidak tahu 16%, yang mungkin berubah akibat kampanye 15 April-22 Juni.

Berbeda dengan Presiden Obama, tentu saja Presiden Jokowi tidak cawe-cawe perihal Brexit (British exit). Ia mengoptimalkan kunjungannya demi kemaslahatan ekonomi Indonesia. Presiden, misalnya, mengajak warga Inggris agar tidak hanya ke Bali, tetapi juga ke bagian lain Tanah Air yang indah.

Sebaliknya, Obama datang ke Inggris memang hendak mencegah sekutu AS paling setia sejak Perang Dunia II itu agar tidak keluar dari UE.

Alasannya, Inggris yang kuat ialah Inggris yang tetap bergabung di UE yang kuat. NATO hanya efektif bila Inggris tetap di UE. Ia mengajak warga Inggris agar tak terpengaruh kaum xenofobia.

Yang tidak dikatakan ialah Brexit membuat Inggris juga keluar dari Transatlantic Trade and Investment Partnership dan memberi peluang bagi Presiden Rusia Vladimir Putin lebih agresif membangun Eurasian Union, 'tandingan' UE.

Inggris sendiri mulai merasakan efek negatif kekhawatiran keluar dari UE. Dalam 6 bulan ini, nilai mata uangnya anjlok 10% terhadap dolar AS.

Posisi pound sterling kini terendah sejak 2009. Pasar properti Kota London turun 21% dari tahun lalu. Bila Brexit terjadi, London bakal 'dipecat' sebagai pusat keuangan kliring euro.

Namun, semua itu tak menakutkan mereka yang pro-Inggris keluar UE. Mereka berdalih ekspor Inggris ke UE hanya 13% GDP. Ekspor terbesar (60%) justru ke luar UE.

Selain itu, kaum ekstrem nasionalis dan xenofobia keberatan Inggris membayar kewajiban kepada UE, besarnya 8,8 miliar pound (2014/2015), naik hampir dua kali lipat (2009/2010).

David Cameron berjanji, bila terpilih kembali sebagai PM (2015), ia akan melaksanakan referendum sebelum 2017. Ia sepertinya tak mungkin menjilat ludah sendiri, kendati ia memilih Inggris tetap dalam UE.

Ada yang berpandangan hanya pemimpin penggemar permainan rolet Rusia yang mau mempertaruhkan keputusan negara melalui referendum yang hasilnya spekulatif, tergantung suasana hati warga saat pencoblosan.

Bila Brexit terjadi dan Marine Le Pen terpilih jadi Presiden Prancis, tidakkah Brexit bakal diiikuti Frexit (French exit)? Rontoklah kenyataan sejarah bahwa UE satu-satunya kerja sama internasional paling berhasil.

Apakah Inggris peduli dengan itu? Entahlah. Yang aneh bila Inggris ahistoris terhadap globalisasi, yang antara lain terwujud di Uni Eropa. Skenario terburuk, Inggris kehilangan 9,5% GDP bila keluar dari UE. Namun, tidak ada warga yang ingin bertambah miskin. Karena itu, seperti Grexit (<>Greek exit) yang tidak terjadi, Brexit pun ditengarai bakal lenyap begitu saja, setelah hari referendum.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.