Mahkamah

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
22/4/2016 05:30
Mahkamah
(ANTARA/FANNY OCTAVIANUS)

"KALAU kepemimpinan yang elitis dan tertutup dipaksakan terus, MA akan rapuh."

Inilah autokritik keras, yang dilontarkan hakim agung Gayus Tapone Lumbuun atas kepemimpinan yang ia nilai lemah di Mahkamah Agung.

Menurut sang guru besar hukum itu, pengawasan internal di lembaga yang sering disebut sebagai 'gerbang terakhir pencari keadilan' itu tak berjalan baik.

Kritik dari kalangan dalam ini mestinya punya bobot faktual yang tinggi.

Gayus melontarkan kritik itu ketika merespons berbagai kasus yang melanda MA, terutama tertangkapnya Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata dan Tata Laksana Perkara Perdata MA Andri Tristianto Sutrisna oleh KPK, pertengahan Februari silam.

Kasus Andri, kata Gayus, bagian kecil kerapuhan di MA.

Puluhan hakim dan beberapa pegawai MA yang lain menjadi broker perkara.

Menurut mantan politikus PDIP itu, selama ini semua hakim dan pegawai pengadilan di seluruh Indonesia hanya dikendalikan sembilan orang di pucuk pimpinan MA.

Padahal, yang dikendalikan di institusi yudikatif sangat banyak.

Setidaknya ada sekitar 8.000 hakim dan 32.583 tenaga nonhakim.

Sebagai orang dalam, Gayus merasa tak pernah dilibatkan oleh pimpinan MA dalam pengambilan keputusan.

Alhasil, keputusan yang diambil sering blunder.

Menurut bahasa Gayus, selama ini para hakim agung hanya dijejali perkara dan diasingkan di tempat sunyi.

Seharusnya para hakim agung disertakan dalam pengambilan keputusan.

Ia memberi contoh, di DPR ada rapat paripurna. Di kampus ada sidang senat. Di pemerintahan ada sidang kabinet paripurna.

Namun, tak ada rapat pleno di MA.

Ia berharap tertangkapnya Andri menjadi pelajaran bagi pimpinan MA untuk ketat dalam pengawasan dan melibatkan para hakim agung dalam pembuatan keputusan. Gayus menduga Andri tidak sendirian.

KPK juga menduga ada jalinan besar dalam perkara suap penundaan salinan di MA. Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengamsalkan serupa gunung es.

Untuk membongkar, KPK memeriksa beberapa pejabat MA sebagai saksi, juga Sekretaris MA, Nurhadi.

Lagi-lagi, ketika KPK menangkap panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution, bersama dua orang lainnya (20/4), Sekretaris MA Nurhadi kembali disorot.

KPK tidak hanya menggeledah ruang kerjanya di MA, tapi juga rumah mewahnya di Jl Hang Lekir, Kebayoran Baru.

Harta kekayaannya Rp30 miliar kerap jadi pertanyaan.

Karena itu, kritik Gayus mestinya tak ditanggapi sepi.

Mengatur begitu banyak manusia di lingkup MA tentu tak mudah.

Ia butuh pemimpin yang tak hanya punya visi, tetapi punya seni memimpin.

Sebab, oleh kalangan pimpinan sendiri, pucuk pimpinan MA juga kerap dinilai kurang terbuka.

Padahal, ini prasyarat utama mengelola institusi negara.

Cetak biru visi MA 2010-2035, yakni 'Mewujudkan Badan Peradilan yang Agung', mestinya menjadi pegangan para hakim dan seluruh penghuni keluarga besar Mahkamah Agung.

MA seharusnya punya cara terbaik bagaimana menyeleksi orang-orang lancung. Terlalu sayang mahkamah yang agung dibiarkan limbung karena mereka itu.

Terlalu sayang mereka, para hakim, yang punya dedikasi tinggi dalam mengabdi, terganggu para elite dengan karakter kepemimpinan yang tak agung.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.