Cahaya Fajar?

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
19/4/2016 05:30
Cahaya Fajar?
(ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA)

BARU kali ini hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjadi kehebohan luar biasa.

Sebabnya pihak yang diaudit, Pemprov DKI Jakarta, melawan keras karena hasil audit pembelian lahan RS Sumber Waras berbeda jauh dari seharusnya.

Menurut BPK, ada indikasi korupsi.

Perang alasan antara Ketua BPK Harry Azhar Azis versus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama serupa acara berbalas pantun.

Penonton menunggu respons terbaik setelah pernyataan dari satu pihak dilontarkan.

Bagi para pendukung Ahok, mereka percaya sang gubernur membeli lahan dengan jalan lurus, tak lancung.

Tak ada kerugian negara Rp191 miliar dari pembelian lahan seluas 3,64 ha seharga Rp755,689 miliar, seperti dituduhkan BPK.

Tanah di Jl Kyai Tapa, Jakarta Barat, itu dijual sesuai NJOP (nilai jual objek pajak) 2014 seharga Rp20,7 juta per meter persegi.

Bahkan, seperti kata pihak RS Sumber Waras, Pemprov DKI diuntungkan karena tidak harus membayar nilai bangunan Rp25 miliar sesuai dengan kesepakatan awal.

BPK menggunakan NJOP 2013 senilai Rp15, 5 juta per meter persegi.

Artinya, Pemprov DKI Jakarta justru untung.

Mereka menilai Ahok yang selama ini nyaring berteriak antikorupsi tak mungkin berbuat pandir, bunuh diri dengan korupsi.

Mereka justru menuduh BPK tak steril dari gosip tak sedap, yakni adanya dugaan kekuatan hepeng di balik banyak audit.

Terlebih, nama sang ketuanya, Harry Azhar Azis, tercantum dalam dokumen Panama.

Bagaimana meluruskan pihak lain kalau di rumahnya sendiri, BPK, integritas para penghuninya masih centang-perenang?

Bagi para musuh politik Ahok, hasil audit BPK itu menjadi amunisi amat ampuh untuk menggebuk.

Mulutnya yang kerap bicara keras, emosinya yang meledak-ledak, kian memudahkan jalan serangan.

Mereka menuduh Ahok seperti kebenaran itu sendiri, yang tak boleh dikritik.

Latar belakangnya yang Tionghoa dan nonmuslim menjadi peluru lain lagi yang lebih menohok.

Ia dituduh melakukan perselingkuhan dengan para pengusaha besar.

Mereka tak gerah 'bermain SARA'.

Salah satu tayangan video yang diungguh ke Youtube dari seseorang yang mengaku auditor BPK, Imam Haryadi, yang memaki-maki dengan nada rasial, menantang duel, memperlihatkan betapa empuk Ahok untuk digebuk.

Tulisan dan komentar tokoh tentang indikasi kesalahan Ahok disebar.

Tuduhan adanya 'China Connection' pun diumbar.

'Dosa-dosa' Ahok di politik menyatukan 'mereka' yang sakit hati.

Meninggalkan Golkar, Gerindra, mengultimatum partai besar untuk cepat menyerahkan calon wakil gubernur menghadapi Pilkada DKI 2017, dan memilih jalur independen ialah langkah-langkah yang dinilai mempermalukan wibawa parpol.

Ada kecemasan di kedua pihak.

Bagi yang pro, jangan-jangan kali ini Ahok benar-benar roboh.

Bagi yang anti, jika kali ini Ahok tak jatuh, hilanglah sudah kesempatan terbaik untuk mengalahkan 'si mulut keras' itu.

Banyak pihak prihatin menyikapi perseteruan terbuka itu.

Saya justru melihat ini baik untuk menentukan siapa laknat dan siapa terhormat.

Yang melegakan, secara umum pilihan publik tak luruh karena isu SARA.

Kebenaran dalam audit tengah dicari. Namun, seraya mengutip Alkitab, Ahok mengamsalkan, jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.

Kita menunggu cahaya fajar itu, akankah bertambah terang sampai rembang tengah hari atau seperti sinar matahari menuju rembang petang?

Tak ada pilihan, KPK harus bekerja dengan teguh menegakkan hukum yang hanya mengabdi pada kebenaran dan keadilan Dewi Themis.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima