Jejak Aniaya

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
15/4/2016 05:30
Jejak Aniaya
(ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho)

SEJAK bulan silam kita berbincang ramai tentang Siyono, warga Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten, Jawa Tengah.

Ia diduga teroris, lalu lelaki ini mati setelah dijemput paksa polisi, yakni Detasemen Khusus (Densus) 88.

Mula-mula polisi menjelaskan Siyono dijemput maut karena penat setelah melawan aparat.

Namun, hasil autopsi tim dokter forensik Komnas HAM dan Muhammadiyah menunjukkan ada jejak aniaya dan kekerasan oleh korps Bhayangkara.

Siyono tak melawan seperti dituduhkan polisi.

Kita tahu Densus 88, pasukan antiteror yang didirikan 2003, amat disegani di negeri ini, kabarnya juga di Asia.

Publik umumnya lebih kerap memujinya daripada mencelanya.

Kita memang tak bisa membayangkan apa jadinya negeri ini yang dilanda aksi teror berkali-kali, tanpa ada pasukan antiteror yang mumpuni.

Tentu dalam banyak aksi bukan berarti Densus sempurna.

Namun, beberapa reputasi yang diukirnya mampu menutupi beberapa kekurangannya.

Namun, tak boleh karena ketakutan tinggi pada terorisme, negara boleh semena-mena atas warganya. Kasus Siyono yang ramai disoal itu setidaknya mengandung dua perkara.

Pertama, ujian bagi reputasi Densus 88 yang selama ini cemerlang.

Jika Densus justru tak patuh pada aturan, terlebih derajat pelanggarannya serius, ia akan mereduksi reputasinya yang terpuji.

Kepercayaan publik akan meluruh. Kedua, ujian atas kepedulian masyarakat.

Artinya, jika menyikapi kasus kekerasan terhadap Siyono lalu publik diam, ini justru tanda matinya kepedulian kita atas sesama warga bangsa.

Selanjutnya, sangat mungkin, pasukan antiteror itu pun bisa kian semena-mena.

Padahal, postulatnya jelas: tak boleh ada kekuasaan tanpa pengawasan.

Terlebih menurut Ketua Tim Hukum PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, ada sedikitnya 121 kasus lain serupa Siyono.

Densus 88 harus berbesar hati mengoreksi diri.

Karena itu, sudah tepat aliansi organisasi masyarakat sipil: Komnas HAM, Kontras, dan Muhammadiyah berupaya mencari kebenaran fakta atas kematian suami Suratmi itu.

Mereka melakukan autopsi lagi meski polisi mengaku telah melakukannya.

Ternyata ada bukti fisik kekerasan.

Tak ada perlawanan Siyono pada aparat seperti dikatakan Polri.

Pertanyaannya, seberapa jujur autopsi yang dilakukan dokter forensik polisi?

Karena itu, ada pakar hukum yang mengusulkan agar keluarga Siyono membawa hasil autopsi yang berbeda itu ke jalur hukum.

Yang janggal lagi, Polri juga berupaya menyuap Rp100 juta kepada keluarga Siyono. Pemberian uang itu tanpa tanda terima.

Kata polisi uang itu untuk biaya penguburan dan biaya anak-anak almarhum.

Polisi bilang uang itu bukan dari anggaran negara.

Lalu dari mana?

Karena itu, menjadi tak elok ketika proses autopsi Komnas HAM-Muhammadiyah tengah bekerja, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj justru membela buta Polri.

"Jadi, menurut NU, Siyono ialah teroris. Kalau itu kebijakan negara, NU bersama negara. Densus adalah perangkat negara yang diberi tugas untuk membasmi teroris," kata Said Aqil.

Ucapan itu terdengar sangat patriotik, tetapi membiarkan polisi tak bekerja dengan benar.

Faktanya, Polri kemudian mengakui ada kesalahan prosedur.

Bahwa seluruh pembela kemanusiaan dan perawat Republik setuju dengan upaya pemberantasan terorisme sudah berkali-kali dibuktikan.

Negara punya standar melawan teror dengan bersandar pada UU, rakyat punya cara sesuai nyali dan kreativitasnya.

Kasus Siyono juga sebuah pelajaran bahwa revisi UU Terorisme harus ditunda jika isi dari revisi masih rentan pelanggaran HAM.

Dalam skala yang berbeda, contoh amat benderang di Amerika.

Perang melawan terorisme yang membabi buta kala Presiden Bush berkuasa, justru menyuburkan kekerasan global yang tiada henti-henti hingga kini.

Densus 88, kebanggaan kita, tak boleh meniru Bush yang pandir itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.