Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Itulah moto negeri Panama yang berarti 'untuk kepentingan dunia'.
Negeri di tenggara Amerika Tengah berpenduduk 3,5 juta jiwa itu memang secara geografis mujur.
Salah satunya ia punya Terusan Panama, yang memang dirancang untuk memfasilitasi komunikasi antara pantai Samudra Atlantik dan Pasifik, serta lokus perdagangan global yang penting.
Negeri bekas koloni Spanyol itu tak hanya masyhur sebagai firdaus bagi 14.000 spesies ikan, tetapi surga bagi para investor.
Dalam soal investasi, ia serupa Dubai di Timur Tengah.
Akan tetapi, sisi kelam kenyamanan firdaus bagi para pemilik modal itu kini tengah dimaklumatkan kepada dunia. Investigasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalist, yang didukung ratusan organisasi pers di dunia, membuka praktik gelap di negeri surga menyimpan harta itu.
Investigasi itu mengungkap bocornya 11,5 juta dokumen selama 40 tahun milik firma hukum Mossack Fonseca, yang melibatkan selusin pemimpin negara, lebih dari 140 politikus, banyak pesohor, dan ribuan saudagar.
Beberapa nama saudagar kaya Indonesia juga disebut.
Para penyimpan fulus itu, sayangnya, untuk menyembunyikan aset, menghindari pajak, dan melakukan pencucian uang.
Itulah tsunami dokumen yang bisa jadi akan memorakporandakan tatanan politik di banyak negara, bahkan dunia.
Sebab, nama-nama yang disebut bukanlah figur biasa-biasa saja.
Tercatat, antara lain, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma, PM Malaysia Najib Razak, Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Khalifa bin Sayed bin Sultan al-Nahyan, dan PM Eslandia Sigmundur David Gunnlaugsson.
Ini memang bocoran yang perlu verifikasi dan pendalaman, tetapi korban telah jatuh.
Gunnlaugsson mengundurkan diri Selasa silam.
Dia korban pertama, yang bisa jadi serupa bola salju.
Inilah skandal paling kelam dalam dunia investasi, transaksi, serta lalu lintas uang dan barang yang kian hari dituntut setia pada transparansi.
Wajar pula jika ada yang bilang, di Panama, yang laknat diberi panggung agung.
Adalah jamak mereka yang dituduh membela diri.
Presiden Putin menuduh pembocoran dokumen itu sebagai penyerangan terhadap negerinya.
Harian berbahasa Inggris Tiongkok, The Global Times, edisi 5 April, menuduh AS mengontrol penuh pemberitaan Dokumen Panama.
Sebab, yang menyangkut Barat beritanya seperti diredam, sedangkan yang berkaitan dengan negara bukan Barat diumbar besar-besar.
Berita tentang Putin, misalnya, amat gencar.
Adapun yang menyangkut Perdana Menteri Inggris, terkesan kalem-kalem saja.
Kabarnya, jaringan keadilan pajak yang berbasis di Inggris terlibat dalam bisnis gelap ini.
Mengherankan pula, AS yang tengah gencar memburu para penggelap pajak, hanya ada 240 nama, itu pun tak terlalu penting, yang ada dalam Dokumen Panama.
Sejak firma Mossack Fonseca berdiri pada 1977 dan berbasis di Panama, layanan hukumnya tersebar di 35 negara, bekerja sama sedikitnya dengan 14.000 bank dan firma hukum.
Wajar jika Panama menjadi negeri dengan pertumbuhan ekonomi berkilau.
Salah satu pendiri firma itu, Ramon Fonseca, berang bukan kepalang.
Ia menuding beberapa negara, terutama Amerika, tak suka dengan cara Panama berkompetisi untuk memajukan perekonomian.
Dokumen Panama merupakan sebuah ironi dunia global.
Antara tuntutan bisnis dan investasi dengan derajat transparansi tinggi versus membungkus rapat dalam-dalam.
Jika skandal itu benar, kian benar apa yang dikatakan Francis Bacon, "Ada banyak cara menjadi kaya, dan kebanyakan adalah kotor."
Indonesia yang punya banyak penyimpan uang dan pebisnis di banyak negara harus mengambil pelajaran berharga dari Panama.
Mereka yang berharta harus mampu membuktikan bahwa tuduhan Francis Bacon tak berlaku di negeri ini.
Negeri yang kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin kian meninggi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved