Panik Pajak

Suryopratomo
06/4/2016 06:00
Panik Pajak
(MI/ARYA MANGGALA)

PENGARAHAN Presiden Joko Widodo kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah Pajak, pekan lalu, sangat jelas. Presiden meminta aparat pajak bertindak lebih keras untuk memenuhi target pajak tahun ini. Tak boleh ada alasan tak bisa mencapai target Rp1.546,7 triliun yang sudah ditetapkan. Caranya? "Kalau belum bayar pajak, suruh bayar! Kalau kurang bayar, suruh bayar!" kata Presiden.

Persoalan besar perpajakan ialah rendahnya rasio pajak. Produk domestik bruto Indonesia meningkat dari US$200 miliar pada 2000 menjadi sekitar US$900 miliar pada 2015, tetapi penerimaan pajak di bawah Rp1.000 triliun. Baru tahun lalu, penerimaan pajak Rp1.050 triliun. Namun, angka itu hanya 85% dari target Rp1.360 triliun. Tahun ini, pemerintah menargetkan rasio pajak naik menjadi 13%. Itulah yang membuat pemerintah berani menargetkan penerimaan pajak Rp1.546,7 triliun saat menyusun APBN 2016.

Kalau dibandingkan, antara realisasi penerimaan pajak tahun lalu dan target tahun ini, ada kenaikan di atas 40%. Kalau hanya dilihat dari rasio pajak, kelihatan wajar. Namun, jika dilihat dari realitas bisnis yang melesu akibat belum pulihnya perekonomian global, kenaikan penerimaan di atas 40% terlalu ambisius.

Hal itu bisa dilihat dari perbandingan penerimaan pajak dalam tiga bulan pertama. Tahun lalu, penerimaan pajak hingga Maret di atas 10%, tahun ini sekitar 9%. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengakui penerimaan pajak tahun ini diperkirakan Rp290 triliun di bawah target. Penetapan target pajak yang tidak realistis membuat aparat pajak seperti drunken master. Mereka melakukan segala cara agar terlihat bekerja sungguh-sungguh.

Salah satu yang menghebohkan ialah keharusan bank penerbit kartu kredit melaporkan semua transaksi secara rinci. Tujuannya melihat profil pemegang kartu kredit, apakah sesuai dengan laporan pajak mereka.

Demi menopang pembangunan dan memenuhi keinginan membangun kemandirian, kita setuju pajak digiatkan. Semua warga harus ikut menanggung beban pembangunan sesuai dengan kemampuan. Hanya, upaya meningkatkan penerimaan pajak jangan sampai justru berdampak negatif terhadap perekonomian.

Upaya peningkatan penerimaan pajak ibarat orang beternak ayam petelur. Ketika kita mengharapkan ayam produktif menghasilkan telur, kita harus membuat ayam nyaman dan dapat pakan yang baik. Kalau ayam stres, bukan telur yang didapatkan, melainkan ayamnya malah mati.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa rasio pajak kita rendah? Salah satu jawabannya perekonomian bangsa ini lebih banyak ditopang sektor informal. Sekitar 60% angkatan kerja di sektor informal, hanya 40 % di sektor formal. Dengan profil seperti itu, tidak semua bisa diakses aparat pajak. Saat menjabat menteri keuangan, Agus Martowardojo pernah mengeluarkan kebijakan mengenakan pajak final bagi pedagang kaki lima. Namun, itu tidak berjalan maksimal karena sumber daya yang harus dikeluarkan tidak seimbang dengan penerimaan pajak yang bisa diperoleh.

Pekerjaan utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan rasio pajak ialah membawa semua kegiatan ke sektor formal. Sepanjang ekonomi masih berjalan di wilayah abu-abu, apalagi gelap, tidak usah heran pajak tidak tergali.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima