Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI-HARI belakangan setiap melintas di depan Istana Merdeka, saya kerap berhenti sejenak untuk memandangi Monumen Nasional (Monas).
Monas yang mulai dibangun pada 1961 di masa Bung Karno untuk mengenang perjuangan rakyat merebut kemerdekaan itu kerap terlihat dingin dan sedih.
Ia seperti tengah memandang segala penjuru Jakarta yang kian berat bebannya.
Saya kerap bergumam, relasi Monas dengan gedung-gedung sekitarnya, seperti Istana Presiden, Mahkamah Agung, Kementerian Dalam Negeri, serupa hubungan suami-istri menjelang talak tiga.
Dingin dan nyaris beku.
Entah kenapa asosiasi ini muncul.
Ada rasa iba pada Monas. Bangunan setinggi 132 meter dengan pucuk patung lidah api yang dilapisi emas serupa misbah, pelita besar, justru kerap dijadikan lokus sesumbar untuk bunuh diri para politikus.
Dosa apa Monas?
Tiga tahun lalu, Anas Urbaningrum sesumbar akan menggantung diri di Monas jika terbukti korupsi.
Nyatanya, ia jadi orang rantai, 14 tahun.
Tak ada perkabungan tanda bekas pembesar Partai Demokrat itu mengakhiri hidupnya di pucuk Monas.
Saya juga tak berharap, memang.
Kini politikus Gerindra, Habiburochman, dalam Twitter-nya, sesumbar akan terjun bebas dari pucuk Monas jika KTP yang dikumpulkan Teman Ahok memenuhi syarat untuk menjadi cagub perseorangan pada 2017.
'Saya berani terjun bebas dari puncak Monas kalau KTP dukung Ahok beneran cukup untuk nyalon. #KTPdukung Ahokcumaomdo?' tulisnya.
Saya tak berharap ada politisi yang mati bukan karena banyak kerja, melainkan karena memenuhi sesumbarnya yang lajak.
Ia tidak saja takabur, melihat kemuskilan yang hanya dari subjektivitasnya--mungkin ketidaksukaannya--yang berlebihan.
Dalam soal Habiburochman, saya juga tak berharap ada lelayu di Monas karena politikus pemberani menepati janjinya.
Sesumbar menggunakan Monas sebagai tempat memenuhi janji untuk mati meneguhkan betapa gombalnya kaul para politikus di negeri ini.
Mereka mudah saja menyemburatkan sebuah prasetia, sebuah janji, di tengah khalayak, sesudah itu melupakan begitu saja.
Lidah yang kodratnya tidak bertulang itu seperti dieksploitasi memenuhi hasrat lancungnya.
Tak usah jauh-jauh memberi tafsir atas 'janji mati di Monas'.
Bahasa yang meluncur dari mulut lantas dilupakan begitu saja, jelas tanda pikirannya keruh. Bahkan keji pada diri sendiri.
Politik, kata Vaklav Havel, mantan Presiden Ceko, bukanlah keharusan untuk menipu, melainkan kemuliaan untuk membangun kepercayaan.
Karena itu, janji politisi yang diperlakukan serupa berak, yang dikeluarkan dan tak berharap kembali lagi, tak dipertanggungjawabkan; ia menipu.
Janji tak saja utang, tetapi ia serupa diandem dan mahkotanya sang mulut.
Karena itu, ada aforisme Jawa, Ajining diri saka lathi.
Harga diri berasal dari apa yang diucapkan mulut (pemiliknya).
Janji gantung diri dan terjun bebas di dan dari Monas mungkin banyak yang menganggap biasa saja.
Laku seperti itu juga kian membuktikan bahwa politik kita memang dunia penuh ingkar janji.
Tak mengapa tidak dipercaya, mungkin ini kredonya.
Akan tetapi, ini menguatkan apa yang dikatakan Francis Fukuyama, masyarakat yang tingkat 'kepercayaannya rendah' (low trust society) akan sulit membangun masyarakatnya.
Jangan cemari Monas dengan sesumbar-sesumbar yang vulgar. Biarlah Monas menyandang maknanya yang luhur itu.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved