Bola Kita

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
21/4/2015 00:00
Bola Kita
(Grafis/SENO)
BERBINCANG sepak bola Indonesia ialah berbicara tentang kekuatan di masa silam, baru setelah itu kisruh yang tak kunjung padam. Ada nostalgia saat timnas kita menahan imbang Uni Soviet di arena Olimpiade 1956, yang membuat kita disegani di Asia Tenggara. Itu dulu! Kini kita harus terus bermimpi dan celakanya, mimpi itu tanggal satu per satu. Kita terus menahan dahaga panjang prestasi sepak bola. Tak mengapa kita bicara kenangan, tapi nostalgia hanya sebagai kenangan, tak menjadi elan kebangkitan, ia menjengkelkan dan menyakitkan. Yang bergemuruh bukanlah prestasi yang menunjukkan grafik naik, melainkan kisruh yang terus bertumbuh. Puncak kekisruhan itu pembekuan PSSI oleh Menpora Imam Nahrawi, Jumat (17/4). Diumumkan hanya hitungan jam menjelang Kongres Luar Biasa PSSI di Surabaya, yang memilih La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai Ketua Umum PSSI yang baru. PSSI mengabaikan tiga kali peringatan Menpora terkait dengan keikutsertaan Persebaya dan Arema Cronus pada Indonesia Super League (kini QNB League).

Menteri Nahrawi berkeyakinan, atas rekomendasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), dua klub itu masih bermasalah soal legalitas. Pembekuan itu sedianya diumumkan Senin (20/4), tapi atas berbagai pertimbangan, dimajukan. Lima tahun lalu, Menpora Andi Mallarangeng juga tak mengakui kepengurusan PSSI di bawah Nurdin Halid. Pastilah pembekuan itu sedikit 'mengguncang' sesaat, tapi jika pemerintah serius menyembuhkan berbagai penyakit di tubuh sepak bola, kita akan menjadi sehat. Dari banyak sumber terungkap, jika benar, betapa mengerikan isi perut sepak bola kita. Ada isu pengaturan skor, perjudian, pemain yang terlambat dibayar (yang ini bukan isu), klub tak bayar pajak, tak punya NPWP, dan bahkan ada yang menyebut ada indikasi klub menjadi tempat pencucian uang. PSSI juga selalu menolak diaudit.

Alasannya ia bukan bagian dari Indonesia, melainkan perpanjangan FIFA (Federation Internationale de Football Association). BOPI pastilah punya banyak data, setelah diverifi kasi, sebaiknya dibuka kepada publik. PSSI lupa ia mendapat dana dan fasilitas dari negara. PSSI memang bagian dari FIFA, tapi Indonesia, tempat PSSI lahir dan berkiprah, bukan sebuah 'lampiran'. PSSI lupa ada publik (suporter) yang membuat sepak bola Indonesia berdenyut dan meriah, perlu tahu bagaimana PSSI mengelola organisasinya, mengelola keuang annya. Apa pun bunyi aturan FIFA, tak bisa menganggap sebagai dewa kebenaran dan negara yang membesarkan dianggap sepi. FIFA harus bisa membedakan upaya pembenahan dan intervensi. Bukankah jika sepak bola kita meluruh, yang buruk nama Indonesia? Karena pembekuan ini soal yang sangat serius untuk menyehatkan sepak bola kita, mestinya jajaran pemerintah satu suara dengan Nahrawi.

Tepatlah keputusan Wapres Jusuf Kalla tak hadir membuka KLB PSSI di Surabaya. Kehadiran Kalla mengesankan ia mendukung PSSI yang tak mengindahkan peringatan Menpora. Membenahi profesionalitas PSSI dan sepak bola Indonesia pastilah akan menghadapi upayaupaya penghadangan dari mereka yang selama ini merasakan nikmatnya bisnis bola. Karena itu, BOPI dan Kemenpora tak boleh tipis nyali. Kemungkinan 'masuk angin', bahkan pengkhianat, selalu ada dalam setiap upaya pembenahan. Tak usah gentar. Termasuk jika FIFA memberi saksi.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima