Anggrek Baja

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
18/3/2016 05:30
Anggrek Baja
(AFP/ROSLAN RAHMAN)

DI Asia Tenggara perempuan rupanya punya takdirnya yang agung.

Sejarah seperti menitahkan para puan untuk menunaikan tugas luhur itu, yakni menjadi penantang para penguasa yang lancung.

Di Filipina, Qory Aquino menjungkalkan Ferdinand Marcos.

People power yang digerakkannya tak hanya menumbangkan sang diktator, tapi juga menjadi inspirasi banyak negara.

Sejarah pun mengukir penanya: Aquino, perempuan lembut itu, menjadi presiden perempuan pertama di Asia (1986-1992).

Di Indonesia, Megawati Soekarnoputri, jelas menjadi penantang Soeharto yang membuat penguasa jadi berang.

Lewat Partai Demokrasi Indonesia, yang lalu menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Mega melawan. Di Malaysia, setelah tokoh oposisi Anwar Ibrahim dipenjara, Wan Azizah wan Ismail dan Nurul Izzah (istri dan anak Anwar) menjadi penantang penguasa.

Lewat Partai Keadilan Rakyat ibu-anak itu menjadi ikon demokrasi yang kini mulai jadi mimpi di negeri itu.

Tentu saja, cerita penuh drama dan ketegangan, ada di Birma (kini Myanmar).

Aung San Suu Kyi, yang kini baru beberapa tahun menikmati kebebasan, memenangi pemilu yang digelar November lalu.

Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menguasai parlemen.

Pada Selasa (15/3), orang kepercayaan Suu Kyi, Htin Kyaw, terpilih menjadi presiden dengan dukungan 367 suara dari total suara parlemen.

Sarjana komputer berusia 69 tahun itu akan mengakhiri kekuasaan rezim militer yang telah berkuasa lebih dari setengah abad.

Htin akan didampingi wakilnya, Myit Swe, yang memenangi 213 suara.

Namun, tunggu dulu! Benarkah kemenangan sepenuhnya ada di tangan?

Benarkan Htin akan dilantik akhir bulan ini dan Jenderal Thein Sein akan meninggalkan kursinya?

Memori lama wajar mengemuka, di sebuah masa, 1990, ketika kemenangan partai Suu Kyi dirampas tentara dan ia justru dipenjara.

Wajar jika memori itu muncul kembali.

Fakta bahwa Suu Kyi dijegal tentara lewat konstitusi, agar tak bisa menjadi presiden, tanda yang paling benderang bahwa tentara menyimpan ketakutan hingga ke ubun-ubun pada 'Si Kamboja Baja dari Asia Tenggara' itu.

'Asal bukan Suu Kyi' pastilah batas minimal negosiasi kubu tentara, sementara batas minimal Suu Kyi 'yang penting demokrasi mulai bersemi di Birma'.

Menyaksikan sepenggal biografinya dalam The Lady (2012), putri pasangan pejuang kemerdekaan Birma Jenderal Aung San dan aktivis sosial Daw Khin Kyi, memang punya modal psikososial yang kuat.

Sang ayah ditembak mati ketika ia berusia 2 tahun.

Tiga bersaudara itu yatim sejak balita.

Adiknya meninggal ketika masih belia, sang kakak menjadi warga Amerika.

Ia memikul beban sejarah itu.

Ia harus berpisah dengan suami, Michael Aris, dan dua anaknya yang tinggal di Inggris.

Bahkan, ketika Aris meninggal, militer melarang ia melihat untuk terakhir kali wajah suaminya.

Kita terpesona segala ketabahan wanita yang ditahan tanpa pengadilan selama bertahun-tahun.

Ada rasa sakit terpilin-pilin.

Kelahiran Yangon, 19 Juni 1945 itu, punya pendidikan bagus, doktor ekonomi-politik, punya suami hebat, juga anak-anak.

Namun, ia memilih melaksanakan titah sejarah: membebaskan rakyat Myanmar dari para bigot.

Namun, jangan lupa, wakil Htin Kyaw, ialah Myint Swe, tak hanya didukung tentara, tapi ia sohib pemimpin junta militer Than Shwe. Dengan 20% tentara di parlemen, demokrasi di Myanmar sesungguhnya baru akan memasuki musim tanam.

Belum musim semi.

Namun, galibnya banyak patriot, seluruh kendala itu jadi nisbi karena ia percaya pada tanah airnya, bahwa di sana ada harapan, meski itu kerap serupa fatamorgana.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima