Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

SEANDAIANYA ia menekuni matematika, pelajaran yang ia sukai sejak mula, agaknya Indonesia tak punya ahli bahasa Indonesia terkemuka bernama Jusuf Sjarif Badudu.
Publik Indonesia mengenalnya sebagai Jus Badudu. Bahasa Indonesia, yang kemudian 'terpaksa' ia tekuni, justru membuatnya jatuh cinta.
Di Pulau Jawa, tanah impiannya untuk mengajar, ia menamatkan S-1 di Fakultas Satra Universitas Padjadjaran (1963).
S-2 linguistik ia selesaikan di Leidse Rijksuniversiteit, Leiden, Belanda (1973), dan S-3 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975) dengan disertasi berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.
Jabatan profesor disandangnya (1982) dari almamaternya yang pertama, Unpad, menabalkan kepakarannya dalam ilmu bahasa.
Jus Badudu lahir di Gorontalo, Sulawesi, 19 Maret 1926. Sepekan lagi mestinya ia genap 90 tahun.
Namun, maut menghentikan laju usia sang tokoh kita ini, Sabtu (12/3) malam di RS Hasan Sadikin Bandung.
Jasadnya disemayamkan dengan upacara tentara di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung, sehari kemudian.
"Bangsa Indonesia kehilangan JS Badudu. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk bahasa Indonesia. Pengabdiannya jadi teladan kita bersama," kicau Presiden Joko Widodo, di akun Twitter-nya, Ahad silam.
Kita berduka karena perjuangan Jus Badudu yang panjang dan dedikasinya yang tulus pada pendidikan bahasa Indonesia.
Kita mengucapkan selamat berpulang pada tempatnya yang abadi untuk memulai hidupnya yang baru.
Namun, epitafnya yang tertancap di pusara mestinya bukan hanya jadi pengingat namanya, melainkan juga jadi penyebar ajaran-ajarannya.
Nyatanya bahasa Indonesia yang ia bina sejak lama kini kerap 'dihina' bangsanya sendiri.
Dunia dagang dengan para saudagar yang tak tahu makna budaya sendiri seperti tengah mengasingkan bahasa Indonesia.
Tanpa beban mereka gunakan merek dagang bahasa asing untuk mengepung seantero negeri.
Inferioritas itulah penyebabnya. Kota-kota besar di Indonesia pun kini seperti wajah yang kian berproses menjadi asing.
Badudu menekuni pendidikan sejak usia 15 tahun dan mengakhirinya usia 80.
Puluhan buku dan ratusan artikel telah ia tulis.
Beberapa bukunya antara lain Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993), Kamus Umum Bahasa Indonesia dari revisi kamus Sutan Muhammad Zain (1994), Kamus Serapan Kata-kata Asing (2003), dan Kamus Peribahasa: Memahami Arti dan Kiasan Peribahasa, Pepatah & Ungkapan (2008).
Ia juga membawakan Siaran Pembinaan Bahasa di TVRI (1977-1979), yang membuat namanya kian kesohor.
Dengan bahasa Indonesia yang ia cintai, ia pun menerima rupa-rupa penghargaan dari negara.
Sebagai pegawai negeri dengan pengabdian, kecakapan, kedisiplinan, dan kesetiaannya selama puluhan tahun ia dianugerahi Satyalancana Karya Satya (1987).
Untuk usahanya yang luar biasa dalam mengembangkan bahasa Indonesia ia diganjar Bintang Mahaputra Naraya (2001).
Sebagai Guru Besar (profesor) Unpad yang yang aktif meningkatkan mutu perguruan tinggi, ia diberi Anugerah Sewaka Winayaroha (2007).
"Dedikasi beliau terlihat dari riwayat mengajarnya," kata Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad ketika melepas jenazah almarhum di Masjid Al-Jihad Unpad. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berharap Jus Badudu menjadi teladan. Jus menikah dengan Eva Henriette Alma Koroh, dikaruniai 9 anak, 23 cucu, dan 2 cicit. Sang istri tercinta mendahului berpulang dua bulan silam.
Para pujangga mengamsalkan bahasa ialah pakaian bagi pikiran.
Jika pikiran merusak bahasa, bahasa juga merusak pikiran.
Pikiran yang tak menghargai miliknya sendiri yang paling berharga, bahasa Indonesia yang menyatukan kita, sesungguhnya memang tengah merobek-robek diri sendiri.
Karena itu, kepergian Jus Badudu menjadikan kita kian kehilangan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved