Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERLUKAH BNN sebagai lembaga naik kelas agar lebih gila menghajar narkoba?
Ide yang mencuat ialah menjadikannya setingkat menteri.
Gagasan ini layak diwujudkan, menimbang narkoba bukannya kian terkikis, malah merajalela.
Presiden menyebut Indonesia berada dalam status darurat narkoba.
Yang terkena narkoba bukan saja person, tetapi juga institusi.
Pembantu rektor menjadi korban, terakhir anggota DPR, bahkan narkoba diperdagangkan di sebuah kompleks militer.
Oleh karena itu, menurut Presiden, tidak ada maaf bagi pelaku narkoba.
Banyak terhukum narkoba meminta pengampunan Presiden.
Semua ditolak.
"Saya juga banyak tekanan dari sana dan sono. Tapi sekali lagi, kita memang berada pada posisi darurat narkoba. Kenapa? Ada 4,5 juta pemuda tidak bisa direhabilitasi."
Terakhir, dalam rapat terbatas di Istana, Jokowi menyebut ada tiga musuh utama, yaitu korupsi, terorisme, dan narkoba.
"Saya ingin ada langkah pemberantasan narkobal lebih gencar lagi, yang lebih berani lagi, yang lebih gila lagi."
Apakah menaikkan kelas kelembagaan BNN setingkat kementerian tergolong langkah gila?
BNN sekarang, menurut UU No 35/2009, merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang berkedudukan di bawah presiden dan bertanggung jawab kepada presiden (Pasal 64).
Bukankah tidak ada lagi lembaga pemerintah lebih tinggi daripada deskripsi, 'berkedudukan di bawah presiden dan bertanggung jawab kepada presiden'.
Undang-undang itu pun mengatur pengangkatan dan pemberhentian kepala BNN seperti kedudukan menteri, yakni diangkat dan diberhentikan oleh presiden (Pasal 68).
Lalu, apa yang bakal berubah menjadikan BNN setingkat kementerian?
Baiklah menjawabnya dengan urusan kecil, menjadikan kedudukan BNN setingkat kementerian mestinya turut mengubah protokoler pengangkatan kepala BNN.
Dari selama ini dilantik oleh Kapolri menjadi dilantik presiden.
Sama seperti menteri.
Dilantik presiden, maka sempurnalah posisi Kepala BNN bertanggung jawab kepada presiden.
Apakah dengan perubahan itu pedagang dan pengedar narkoba menjadi gentar?
Langkah yang diambil mesti lebih gila lagi.
Kenapa tanggung-tanggung?
Jenderal bintang tiga bertanggung jawab kepada presiden kayaknya tidak pas.
Seyogianya kepala BNN, jenderal bintang empat.
Kiranya terasa sangat bergigi karena sejak BNN ada belum terpikirkan, out of the box.
Namun, semua itu belum cukup gila di mata penjahat narkoba.
Perubahan menjadi setingkat kementerian kudu diikuti perubahan besarnya anggaran yang cukup gila pula.
Perang melawan narkoba bukan perang sporadis, melainkan perang sistematis berkelanjutan.
Narkoba tidak hanya menghancurkan anak bangsa, tetapi juga modus pencucian uang besar-besaran.
Terorisme patut ditengarai dibiayai hasil pencucian uang narkoba.
Pemerintah AS melalui Offi ce of National Drug Control Policy, konsisten menganggarkan US$100 miliar per tahun untuk menghajar empat macam narkoba ilegal, yaitu heroin, kokain, methamphetamine, dan marijuana.
Beres?
Masih ada urusan lebih gila lagi: menghapus ego kekuasaan.
Siapakah lebih berkuasa, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Polri atau BNN yang telah naik kelas setingkat kementerian?
Tidakkah terjadi tumpang tindih?
ila keduanya jalan sendiri-sendiri, semua yang gila di atas balik menjadi langkah biasa.
Sebaliknya, ego dapat dibereskan, yakinlah kita Polri dan BNN bakal lebih gila menghajar kejahatan narkoba.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved