Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PALESTINA ialah negeri dengan takdirnya yang penuh ironi.
Ia konon tanah yang dijanjikan Tuhan, tetapi seperti para patriotnya yang hebat seperti Yasser Arafat, nasibnya terus terlunta.
Inilah satu-satunya negara peserta Konferensi Asia Afrika 1955 yang mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1988, tetapi sesungguhnya masih dalam penjajahan Israel.
Solidaritas Asia-Afrika, dukungan 137 negara PBB, dan kekuatan negara-negara Islam (OKI), seperti majal.
Ia serupa 'raksasa tidur siang, mengutip penyair Uganda Okot p'Bittek, yang limbung melawan satu negeri kecil berpengaruh besar: Israel.
Rentang waktu 60 tahun, sejak KTT Asia-Afrika pertama itu, untuk memperjuangkan sebuah negara, adalah juga ironi komitmen kesetaraan para pemimpin dunia.
Karena itu olok-olok kita pada Amerika ialah, berani melawan siapa saja kecuali Israel. Ia bisa menyelesaikan seribu persoalan, kecuali satu hal: mendukung kemerdekaan Palestina.
Barack Obama, sosok yang disambut dengan penuh pengharapan untuk menyelamatkan wajah Amerika dan dunia, ternyata juga tak berdaya menghadapi negara 'Yudea'.
Ironi yang bukan alang kepalang, penentang utama kemerdekaan Palestina itu justru dua negara yang mengklaim paling demokratis. Israel di Timur Tengah, Amerika mengaku suhu demokrasi dunia.
Lebih dari 60 resolusi PBB untuk Israel, seperti gumam.
Ia tak hanya tanpa makna tapi tak terdengar.
Karena itu, setiap ada upaya pembelaan terhadap Palestina, seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Ke-5 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar di Jakarta kali ini, ia sebuah kemuliaan solidaritas, tapi juga sebuah ironi.
Ia menunjukkan himpunan kuatan 56 negara Islam itu, seperti tak punya arti.
Inilah himpunan negara dengan daya tawar yang rendah. Tak berdaya melawan satu negara. Lobi Yahudi di parlemen Amerika kokoh sepanjang masa. Lobi OKI? Konon baru akan merencanakannya.
Ironi yang lain, isu Palestina menguras energi yang luar biasa justru bukan di negeri-negeri Timur Tengah, melainkan negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Pakistan.
Tiga negara ini seperti memupuk kebenciannya pada Israel hingga ke ubun-ubun.
Di Indonesia, dukungan terhadap Palestina, bahkan menjadi janji politik pimpinan nasional.
Tak ada negara yang konsen begitu rupa selain pada Palestina.
Memberi bantuan finansial, mendirikan rumah sakit, masjid, dan aneka penggalangan solidaritas. Negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Kuwait, justru seperti memanfaatkan situasi ini. Mereka terlihat mendukung Palestina setengah hati.
Ironi seperti ini seharusnya diakhiri. Indonesia yang diminta khusus Presiden Palestina Mahmoud Abbas menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa Ke-5 OKI memang sebuah kehormatan.
Namun, tak berani melakukan terobosan berani, perjuangan OKI hanya menjadi rutinitas KTT.
Saya sependapat dengan almarhum Abdurrahman Wahid, Indonesia mestinya membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Justru dengan relasi diplomasi ini, dukungan untuk Palestina mungkin bisa lebih nyata.
Bukankah seperti kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Israel harus banyak ditekan? Jika selama ini kita hanya menekan dari luar, dengan hubungan diplomatik, Indonesia bisa 'menekan' dari dalam.
Berani mencoba yang tak biasa ialah ikhtiar mulia.
Ia sama sekali tak 'berdosa'.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved