Ironi Palestina

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
08/3/2016 05:30
Ironi Palestina
(MI/PANCA SYURKANI)

PALESTINA ialah negeri dengan takdirnya yang penuh ironi.

Ia konon tanah yang dijanjikan Tuhan, tetapi seperti para patriotnya yang hebat seperti Yasser Arafat, nasibnya terus terlunta.

Inilah satu-satunya negara peserta Konferensi Asia Afrika 1955 yang mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1988, tetapi sesungguhnya masih dalam penjajahan Israel.

Solidaritas Asia-Afrika, dukungan 137 negara PBB, dan kekuatan negara-negara Islam (OKI), seperti majal.

Ia serupa 'raksasa tidur siang, mengutip penyair Uganda Okot p'Bittek, yang limbung melawan satu negeri kecil berpengaruh besar: Israel.

Rentang waktu 60 tahun, sejak KTT Asia-Afrika pertama itu, untuk memperjuangkan sebuah negara, adalah juga ironi komitmen kesetaraan para pemimpin dunia.

Karena itu olok-olok kita pada Amerika ialah, berani melawan siapa saja kecuali Israel. Ia bisa menyelesaikan seribu persoalan, kecuali satu hal: mendukung kemerdekaan Palestina.

Barack Obama, sosok yang disambut dengan penuh pengharapan untuk menyelamatkan wajah Amerika dan dunia, ternyata juga tak berdaya menghadapi negara 'Yudea'.

Ironi yang bukan alang kepalang, penentang utama kemerdekaan Palestina itu justru dua negara yang mengklaim paling demokratis. Israel di Timur Tengah, Amerika mengaku suhu demokrasi dunia.

Lebih dari 60 resolusi PBB untuk Israel, seperti gumam.

Ia tak hanya tanpa makna tapi tak terdengar.

Karena itu, setiap ada upaya pembelaan terhadap Palestina, seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Ke-5 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar di Jakarta kali ini, ia sebuah kemuliaan solidaritas, tapi juga sebuah ironi.

Ia menunjukkan himpunan kuatan 56 negara Islam itu, seperti tak punya arti.

Inilah himpunan negara dengan daya tawar yang rendah. Tak berdaya melawan satu negara. Lobi Yahudi di parlemen Amerika kokoh sepanjang masa. Lobi OKI? Konon baru akan merencanakannya.

Ironi yang lain, isu Palestina menguras energi yang luar biasa justru bukan di negeri-negeri Timur Tengah, melainkan negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Pakistan.

Tiga negara ini seperti memupuk kebenciannya pada Israel hingga ke ubun-ubun.

Di Indonesia, dukungan terhadap Palestina, bahkan menjadi janji politik pimpinan nasional.

Tak ada negara yang konsen begitu rupa selain pada Palestina.

Memberi bantuan finansial, mendirikan rumah sakit, masjid, dan aneka penggalangan solidaritas. Negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Kuwait, justru seperti memanfaatkan situasi ini. Mereka terlihat mendukung Palestina setengah hati.

Ironi seperti ini seharusnya diakhiri. Indonesia yang diminta khusus Presiden Palestina Mahmoud Abbas menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa Ke-5 OKI memang sebuah kehormatan.

Namun, tak berani melakukan terobosan berani, perjuangan OKI hanya menjadi rutinitas KTT.

Saya sependapat dengan almarhum Abdurrahman Wahid, Indonesia mestinya membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Justru dengan relasi diplomasi ini, dukungan untuk Palestina mungkin bisa lebih nyata.

Bukankah seperti kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Israel harus banyak ditekan? Jika selama ini kita hanya menekan dari luar, dengan hubungan diplomatik, Indonesia bisa 'menekan' dari dalam.

Berani mencoba yang tak biasa ialah ikhtiar mulia.

Ia sama sekali tak 'berdosa'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima