Artikulator

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
07/3/2016 05:30
Artikulator
(ANTARA/RENO ESNIR)

DI tengah kebebasan berbicara dan kemudahan berkomunikasi melalui media sosial, kiranya tetaplah diperlukan artikulator.

Celakanya, makhluk satu ini malah kian langka.

Bahkan, layak diprihatinkan, jangan-jangan bangsa ini gagal menghasilkan artikulator baru, sesuai permintaan dan kebutuhan zaman.

Dalam pengertian klasik, meminjam pandangan seorang pakar tentang cendekiawan, artikulator berperan menyambung lidah bagi mereka yang tidak bisa menyuarakan aspirasi sendiri.

Mereka kesulitan menghadapi kekuasaan, yang cenderung tidak mendengarkan sehingga memerlukan artikulator.

Peran itu dimainkan cendekiawan, yaitu kaum yang mampu menangkap, mengartikulasikan, serta membawa aspirasi yang tidak bisa disuarakan itu ke ruang publik melalui akses media yang mereka miliki.

Kehadiran media sosial, sedikit banyak, mengubah makna strategis akses media yang dimiliki kaum cendekiawan.

Medium is the message praktis berada dalam genggaman warga yang memungkinkan kapan saja melalui media sosial dapat menerobos kesulitan menghadapi kekuasaan.

Bahkan, pesan dapat merebak dan menjalar luas dalam tempo sesingkat-singkatnya menjadi viral (kata sifat), yang kata bendanya ialah virus.

Dalam perubahan itu, suka atau tidak suka, peran sang artikulator sebagai penyambung lidah bagi mereka yang tidak bisa menyuarakan aspirasi sendiri sebetulnya tidak lagi istimewa, apalagi monopoli cendekiawan.

Peran itu terbuka dapat diambil siapa saja.

Yang dicintai publik ialah bila kekuasaan itu sendiri mentransformasikan dirinya menjadi artikulator yang efektif.

Tentu saja tidak gampang kekuasaan berubah menjadi artikulator yang dipercaya publik.

Syaratnya, berani mengatakan apa yang diyakininya benar, yang sebetulnya merupakan 'teks kolektif', tetapi terbenam/tersingkirkan/terdistorsi dalam sistem yang korup.

Syarat lain, terbuka kepada publik dan membuka akses bagi publik. Sudah tentu, dipastikan bukan koruptor.

Semua syarat itu, kembali meminjam pendapat pakar, ialah merujuk kepada seorang pemimpin yang menginterpretasikan publik untuk kekuasaan dan kekuasaan untuk publik.

Pemimpin yang hadir di ruang publik, menyuarakan teks kolektif dan menjadikannya aksi kepublikan yang hasilnya nyata dinikmati warga.

Itulah sejatinya seorang pemimpin berkualitas, artikulator sekaligus eksekutor.

Berapa banyak pemimpin jenis itu di Republik ini?

Sangat langka.

Setelah Jokowi menjadi presiden, di tingkat daerah tinggal Gubernur Jakarta Ahok, satu-satunya pemimpin jenis itu.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wali Kota Surabaya Risma, maaf, belum sampai ke level itu.

Oleh karena itu, kiranya tergolong melecehkan aspirasi publik, apabila petahana kepala daerah berkualitas artikulator dan eksekutor 'teks kolektif', diminta mendaftarkan diri ke partai politik untuk mengusungnya menjadi calon kepala daerah.

Pemimpin jenis itu patutnya dilamar partai politik, bukan melamar.

Namun, warga tidak buta, tidak tuli, tidak pula tidur.

Mereka berinisiatif.

Narasi baru kiranya tengah terbentuk, sejuta warga melamarnya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima