Arus Kas

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
05/3/2016 06:00
Arus Kas
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Perlambatan ekonomi global membuat permintaan dunia bergeming. Akibatnya, harga tidak beranjak membaik, terutama harga minyak dunia yang masih tertekan dan akibatnya harga komoditas lain juga ikut tertekan. Turun tajamnya harga berbagai komoditas otomatis berpengaruh terhadap penerimaan, lalu arus kas. Tidak sedikit pula yang keuntungannya menurun dan akibatnya kemampuan untuk mengembangkan usaha tersendat. Memburuknya kondisi keuangan perusahaan tak pelak memengaruhi penerimaan negara.

Pajak penghasilan yang dibayarkan perusahaan otomatis turun. Apabila belanja masyarakat ikut terkena, penerimaan pajak pertambahan nilai pasti ikut turun. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro memprediksi penerimaan pajak bisa Rp290 triliun di bawah target. Untuk itulah Menkeu segera mengajukan RAPBN Perubahan kepada DPR. Harapannya akan bisa dilakukan penyesuaian besaran penerimaan pajak. Penyesuaian sisi penerimaan otomatis akan berpengaruh terhadap sisi pembelanjaan. Pertanyaannya, sektor mana yang akan dikorbankan? Pemerintah jelas tidak bisa mengurangi biaya rutin.

Mau tidak mau yang harus dikorbankan ialah anggaran pembangunan. Padahal, Presiden Joko Widodo begitu berambisi membangun infrastruktur di seluruh Tanah Air. Memang pengurangan anggaran pembangunan berdampak negatif terhadap persepsi pasar. Selama ini, kekuatan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla justru pada percepatan pembangunan infrastruktur. Namun, pil pahit harus ditelan karena APBN yang lebih prudent dan kredibel tak kalah penting diperhatikan karena berpengaruh terhadap kepercayaan pasar.

Untuk bisa menjawab tantangan ini, pemerintah harus fokus pada ekonomi, jangan terbawa arus politisasi. Persoalan yang perlu diselesaikan dengan pendekatan ekonomi, jawab dengan pertimbangan ekonomi, bukan politik. Kelebihan Presiden Jokowi selama ini ialah cepat mengambil keputusan. Pertimbangan yang dipakai tidak macam-macam, kecuali ekonomi dan manfaat bagi masyarakat. Konsistensi itulah yang dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Terus terang, kita menyayangkan Presiden harus terbawa arus permainan politik dalam urusan pengelolaan Blok Masela.

Keputusan yang seharusnya bersifat teknis dibawa menjadi urusan politik. Padahal, dalam politik tidak selalu satu ditambah satu ialah dua. Selalu ada pembenaran. Selama Republik berdiri, urusan plan of development blok minyak dan gas cukup ditangani menteri energi dan sumber daya mineral. Kita memiliki Satuan Kerja Khusus Migas yang fungsinya menyelesaikan secara profesional semua urusan proyek migas. Yang perlu dilakukan hanya pembenahan sistem agar berdasarkan prinsip tata kelola perizinan yang jauh dari hanky-panky. Bertele-telenya pengambilan keputusan pengelolaan Blok Masela bukan hanya memberi sinyal negatif dalam menarik investasi, tetapi membuat kita kehilangan kesempatan.

Padahal, kian cepat investasi dilakukan, makin cepat manfaat bisa dipetik. Bayangkan, sampai awal Februari lalu, penerimaan negara baru 5% dari target, sedangkan belanja sudah mencapai 9%. Itu menggambarkan ada persoalan pada arus kas negara. Sepanjang tak segera diselesaikan, itu akan memberi sinyal buruk kepada pasar.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.