Melarang atau Melegalkan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
03/3/2016 06:00
Melarang atau Melegalkan
(ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)

TERHADAP berbagai masalah di bawah ini, manakah lebih baik bagi negara, melarang atau melegalkan?

Untuk sejumlah negara seperti Belanda, lebih baik melegalkan daripada melarang.

Setelah dilegalkan, sepertinya bagi mereka urusan pengawasan menjadi lebih mudah.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pertanyaan manakah 'lebih baik' melarang atau melegalkan, harus serentak ditanyakan bersamaan dengan, manakah 'lebih mudah', melarang atau melegalkan?

Sebab, 'baik' dan 'mudah' tidak boleh dipisahkan.

Bahwa setelah dilarang, pengawasan ternyata sulit, nantilah diurus.

Posisi berdiri negara itu tidak selalu posisi berbasiskan konstitusi, atau diturunkan dari tafsir atas konstitusi.

Sebab ada 'konstitusi' yang hebat dan kuat, bahwa melarang dipilih sesuai dengan prinsip yang jauh tinggi, agama, misalnya.

Karena itu, negara dan warga umumnya, bahkan tidak membuka seinci pun ruang publik untuk membahasnya, sekalipun semata untuk mengasah argumentasi melarang atau melegalkan.

Prostitusi sebaiknya dilarang, tidak dilegalkan.

Bahwa selalu ada 'penjual' dan 'pembeli' yang sepertinya abadi, menunjukkan realitas klasik dan kuno perihal 'kebutuhan', tidak berarti negara memilih melegalkannya.

PSK bukan profesi atau pekerjaan, tetapi pelanggaran moral, akhlak, dan agama.

Karena itu, Kalijodo harus dibumihanguskan.

Bagaimana dengan ganja?

Substansi jawaban sama.

Perbedaannya, lebih sulit melegalkan ganja ketimbang prostitusi.

Melokalisasikan prostitusi relatif lebih mudah daripada melokalisasikan tempat mengisap ganja.

Bagaimana melokalisasikan hal mengisap yang dapat dilakukan di 'sembarang' tempat?

Lagi pula, tidak mudah menakar berapa konsumsi ganja yang diizinkan.

Padahal, dosis/takaran itulah yang juga harus dilegalkan.

Sementara 'jual-beli cinta', bagaimana menakar dosisnya yang legal?

Akan tetapi, berulang kali tertangkapnya ganja, khususnya asal Aceh, menunjukkan kegagalan negara membasmi penanamannya.

Dari sudut pandang itu, keberhasilan polisi menangkap barang ilegal itu di hilir, bukan prestasi negara, sebaliknya malah menunjukkan kegagalan negara di hulu persoalan.

Aborsi pun lebih baik dan lebih mudah melarangnya daripada melegalkannya.

Polisi menggerebek dua klinik yang melakukan aborsi di Jalan Raden Saleh, Jakarta.

Akan tetapi, pertimbangan serius, mendalam dan arif, harus dilakukan dalam perkara berkaitan medis.

Dilema itu dihadapi Brasil.

Banyak ibu hamil terserang virus Zika yang akan melahirkan bayi microcephaly, kepala abnormal kecil beserta dampak lainnya seperti disabilitas intelektual, masalah penglihatan, dan keterlambatan perkembangan.

Ibu hamil penderita Zika lebih baik aborsi, tapi Brasil pemeluk Katolik, melarang aborsi.

Dalam hukum negara, aborsi pun ilegal. Sejumlah advokat, aktivis, dan ilmuwan meminta Mahkamah Agung agar aborsi yang ilegal itu diizinkan dilakukan terhadap ibu hamil penderita Zika.

Kita tidak ingin virus itu menyerang ibu hamil di negeri ini.

Namun, bila terjadi, pemuka agama dan negara harus berani menjawabnya.

Apakah kita lebih memilih lahir bayi-bayi microcephaly?

Yang paling sulit dari semua isu itu kiranya perihal LGBT (lesbian, gay, biseks, transgender), yaitu mengingkari fitrah manusia.

Seorang pakar sosiologi mengenai trendi berpandangan LGBT itu trend setter.

Jika ia benar, bagaimana melarang trend setter?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima