Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TERHADAP berbagai masalah di bawah ini, manakah lebih baik bagi negara, melarang atau melegalkan?
Untuk sejumlah negara seperti Belanda, lebih baik melegalkan daripada melarang.
Setelah dilegalkan, sepertinya bagi mereka urusan pengawasan menjadi lebih mudah.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pertanyaan manakah 'lebih baik' melarang atau melegalkan, harus serentak ditanyakan bersamaan dengan, manakah 'lebih mudah', melarang atau melegalkan?
Sebab, 'baik' dan 'mudah' tidak boleh dipisahkan.
Bahwa setelah dilarang, pengawasan ternyata sulit, nantilah diurus.
Posisi berdiri negara itu tidak selalu posisi berbasiskan konstitusi, atau diturunkan dari tafsir atas konstitusi.
Sebab ada 'konstitusi' yang hebat dan kuat, bahwa melarang dipilih sesuai dengan prinsip yang jauh tinggi, agama, misalnya.
Karena itu, negara dan warga umumnya, bahkan tidak membuka seinci pun ruang publik untuk membahasnya, sekalipun semata untuk mengasah argumentasi melarang atau melegalkan.
Prostitusi sebaiknya dilarang, tidak dilegalkan.
Bahwa selalu ada 'penjual' dan 'pembeli' yang sepertinya abadi, menunjukkan realitas klasik dan kuno perihal 'kebutuhan', tidak berarti negara memilih melegalkannya.
PSK bukan profesi atau pekerjaan, tetapi pelanggaran moral, akhlak, dan agama.
Karena itu, Kalijodo harus dibumihanguskan.
Bagaimana dengan ganja?
Substansi jawaban sama.
Perbedaannya, lebih sulit melegalkan ganja ketimbang prostitusi.
Melokalisasikan prostitusi relatif lebih mudah daripada melokalisasikan tempat mengisap ganja.
Bagaimana melokalisasikan hal mengisap yang dapat dilakukan di 'sembarang' tempat?
Lagi pula, tidak mudah menakar berapa konsumsi ganja yang diizinkan.
Padahal, dosis/takaran itulah yang juga harus dilegalkan.
Sementara 'jual-beli cinta', bagaimana menakar dosisnya yang legal?
Akan tetapi, berulang kali tertangkapnya ganja, khususnya asal Aceh, menunjukkan kegagalan negara membasmi penanamannya.
Dari sudut pandang itu, keberhasilan polisi menangkap barang ilegal itu di hilir, bukan prestasi negara, sebaliknya malah menunjukkan kegagalan negara di hulu persoalan.
Aborsi pun lebih baik dan lebih mudah melarangnya daripada melegalkannya.
Polisi menggerebek dua klinik yang melakukan aborsi di Jalan Raden Saleh, Jakarta.
Akan tetapi, pertimbangan serius, mendalam dan arif, harus dilakukan dalam perkara berkaitan medis.
Dilema itu dihadapi Brasil.
Banyak ibu hamil terserang virus Zika yang akan melahirkan bayi microcephaly, kepala abnormal kecil beserta dampak lainnya seperti disabilitas intelektual, masalah penglihatan, dan keterlambatan perkembangan.
Ibu hamil penderita Zika lebih baik aborsi, tapi Brasil pemeluk Katolik, melarang aborsi.
Dalam hukum negara, aborsi pun ilegal. Sejumlah advokat, aktivis, dan ilmuwan meminta Mahkamah Agung agar aborsi yang ilegal itu diizinkan dilakukan terhadap ibu hamil penderita Zika.
Kita tidak ingin virus itu menyerang ibu hamil di negeri ini.
Namun, bila terjadi, pemuka agama dan negara harus berani menjawabnya.
Apakah kita lebih memilih lahir bayi-bayi microcephaly?
Yang paling sulit dari semua isu itu kiranya perihal LGBT (lesbian, gay, biseks, transgender), yaitu mengingkari fitrah manusia.
Seorang pakar sosiologi mengenai trendi berpandangan LGBT itu trend setter.
Jika ia benar, bagaimana melarang trend setter?
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved