Ironi dari Timur

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
01/3/2016 06:00
Ironi dari Timur
(YOUTUBE)

SAYA melihat sebuah kegembiraan sekaligus kegetiran dari Timur di Youtube.

Dipimpin seorang tokoh agama, sekolompok masyarakat: lelaki-perempuan, tua-muda, di atas jalan yang tengah dibangun, memanjatkan doa bersama.

Setelah berdoa mereka mencium jalan beraspal.

Secara spontan mereka kemudian menggu-ling-gulingkan tubuh di atas jalan yang belum sepenuhnya selesai itu.

Seolah-olah aspal yang baru mengisi separuh jalan itu serupa permadani Persia yang empuk dan lembut yang baru diturunkan dari langit.

"Terima kasih jalan ini diaspal. Kami selama ini hanya mimpi," kata seorang pria berkumis yang memimpin 'guling bersama' pertengahan Januari silam.

Aksi itu terjadi di Desa Waukuni, Kecamatan Sawerigadi, Muna Barat.

Sebuah daerah otonomi baru, bersama Buton Tengah dan Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, yang diresmikan 23 Juli 2014.

Menurut sebuah koran lokal, Desa Waukuni terakhir punya jalan beraspal di masa kolonial Belanda; sejak kemerdekaan pembangunan jalan di Muna umumnya berjalan mundur.

Saya tercenung. Muna Barat, yang berada di Pulau Muna, tidak saja sama-sama berada di Sulawesi Tenggara, tetapi juga bersebelahan dengan Pulau Buton.

Pulau seluas 4.408 km persegi itu, kata guru ilmu bumi di sekolah dasar kami dulu, ialah daerah penghasil aspal terbaik.

Lalu ke mana aspal-aspal itu dikirim? Sementara di daerahnya sendiri infrastruktur jalan menjadi masalah utama.

Seorang kawan asal Buton bertutur pilu, tak usah di Muna, di Pulau Buton sendiri betapa banyak jalan berlumpur.

Lebih tercengang lagi penuturan Rektor Universitas Halu Oleo, Prof Dr Usman Riance.

Dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, 15 kabupaten masuk kategori tertinggal (meskipun menurut versi pemerintah pusat hanya tiga daerah).

Inilah ironi dari Timur.

Provinsi berpenduduk 2.418 juta jiwa itu, menurut Usman, memang menjadi provinsi yang selalu 'terlewati' dari perhatian pusat.

Sulawesi Tenggara, seperti kata seorang pengajar Universitas Halu Oleo, seperti anak yang selalu dilupakan ibunya.

"Mungkin karena di daerah kami tidak ada bencana gunung berapi, tidak ada banjir, maka tidak menjadi perhatian pusat. Tidak dibangun jalan yang layak seperti daerah lain yang kerap banjir dan ada letusan gunung berapi. Apa untuk memperhatikan kami harus ada bencana dulu?" tanyanya seusai acara pemutaran film dokumentasi-drama Doa Anak Seorang Pemukul Bel di Jakarta, beberapa waktu silam.

Menurut Usman, yang berasal dari Muna Barat, siapa pun dari Jakarta, setiap bicara Sulawesi, seolah hanya ada Makassar.

Daerah lain di Sulawesi Tenggara seperti terlewati.

"Padahal dengan tulus, setiap ada bencana gunung berapi atau banjir di daerah lain, kami kerap menggalang dana ikut menyumbang. Namun, kami sendiri tak ada yang peduli," kata Usman yang dalam perjalanan hidupnya seperti ditampilkan film dokumenter itu penuh perjuangan.

Ia tak hanya tak berpunya, tetapi kerap menjadi hinaan guru-gurunya.

Film yang sesungguhnya berisi potret buram pendidikan di Indonesia itu, menurut rencana akan dikembangkan menjadi film layar lebar agar menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia di pelosok-pelosok negeri yang hidup dengan keterbatasan.

Tentu yang tak kalah pentingnya 'memperkenalkan' geografi yang terlupakan itu.

Muna Barat dan Buton hanyalah salah satu dari banyak ironi dari Timur.

Bukankah dari 122 (menurut versi pemerintah pusat) daerah yang masuk kategori tertinggal, 75% dari Indonesia Timur.

Timur yang selama ini identik dengan keindahan alami dan kekayaan bumi memang masih dalam realitas yang kosokbali dari Indonesia bagian barat.

Ia masih menjadi ironi yang belum jelas kapan diakhiri.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima