Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA melihat sebuah kegembiraan sekaligus kegetiran dari Timur di Youtube.
Dipimpin seorang tokoh agama, sekolompok masyarakat: lelaki-perempuan, tua-muda, di atas jalan yang tengah dibangun, memanjatkan doa bersama.
Setelah berdoa mereka mencium jalan beraspal.
Secara spontan mereka kemudian menggu-ling-gulingkan tubuh di atas jalan yang belum sepenuhnya selesai itu.
Seolah-olah aspal yang baru mengisi separuh jalan itu serupa permadani Persia yang empuk dan lembut yang baru diturunkan dari langit.
"Terima kasih jalan ini diaspal. Kami selama ini hanya mimpi," kata seorang pria berkumis yang memimpin 'guling bersama' pertengahan Januari silam.
Aksi itu terjadi di Desa Waukuni, Kecamatan Sawerigadi, Muna Barat.
Sebuah daerah otonomi baru, bersama Buton Tengah dan Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, yang diresmikan 23 Juli 2014.
Menurut sebuah koran lokal, Desa Waukuni terakhir punya jalan beraspal di masa kolonial Belanda; sejak kemerdekaan pembangunan jalan di Muna umumnya berjalan mundur.
Saya tercenung. Muna Barat, yang berada di Pulau Muna, tidak saja sama-sama berada di Sulawesi Tenggara, tetapi juga bersebelahan dengan Pulau Buton.
Pulau seluas 4.408 km persegi itu, kata guru ilmu bumi di sekolah dasar kami dulu, ialah daerah penghasil aspal terbaik.
Lalu ke mana aspal-aspal itu dikirim? Sementara di daerahnya sendiri infrastruktur jalan menjadi masalah utama.
Seorang kawan asal Buton bertutur pilu, tak usah di Muna, di Pulau Buton sendiri betapa banyak jalan berlumpur.
Lebih tercengang lagi penuturan Rektor Universitas Halu Oleo, Prof Dr Usman Riance.
Dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, 15 kabupaten masuk kategori tertinggal (meskipun menurut versi pemerintah pusat hanya tiga daerah).
Inilah ironi dari Timur.
Provinsi berpenduduk 2.418 juta jiwa itu, menurut Usman, memang menjadi provinsi yang selalu 'terlewati' dari perhatian pusat.
Sulawesi Tenggara, seperti kata seorang pengajar Universitas Halu Oleo, seperti anak yang selalu dilupakan ibunya.
"Mungkin karena di daerah kami tidak ada bencana gunung berapi, tidak ada banjir, maka tidak menjadi perhatian pusat. Tidak dibangun jalan yang layak seperti daerah lain yang kerap banjir dan ada letusan gunung berapi. Apa untuk memperhatikan kami harus ada bencana dulu?" tanyanya seusai acara pemutaran film dokumentasi-drama Doa Anak Seorang Pemukul Bel di Jakarta, beberapa waktu silam.
Menurut Usman, yang berasal dari Muna Barat, siapa pun dari Jakarta, setiap bicara Sulawesi, seolah hanya ada Makassar.
Daerah lain di Sulawesi Tenggara seperti terlewati.
"Padahal dengan tulus, setiap ada bencana gunung berapi atau banjir di daerah lain, kami kerap menggalang dana ikut menyumbang. Namun, kami sendiri tak ada yang peduli," kata Usman yang dalam perjalanan hidupnya seperti ditampilkan film dokumenter itu penuh perjuangan.
Ia tak hanya tak berpunya, tetapi kerap menjadi hinaan guru-gurunya.
Film yang sesungguhnya berisi potret buram pendidikan di Indonesia itu, menurut rencana akan dikembangkan menjadi film layar lebar agar menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia di pelosok-pelosok negeri yang hidup dengan keterbatasan.
Tentu yang tak kalah pentingnya 'memperkenalkan' geografi yang terlupakan itu.
Muna Barat dan Buton hanyalah salah satu dari banyak ironi dari Timur.
Bukankah dari 122 (menurut versi pemerintah pusat) daerah yang masuk kategori tertinggal, 75% dari Indonesia Timur.
Timur yang selama ini identik dengan keindahan alami dan kekayaan bumi memang masih dalam realitas yang kosokbali dari Indonesia bagian barat.
Ia masih menjadi ironi yang belum jelas kapan diakhiri.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved