Smelter

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
27/2/2016 05:15
Smelter
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

ISU perlunya memperoleh nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki sudah lama digaungkan.

Hal itu diingatkan kembali oleh Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, dalam dialog nasional saat peringatan Hari Kemerdekaan pada 2010.

Kata BJ Habibie, kita seperti menghadapi VOC jilid dua apabila sumber daya alam kita ekspor dan mengimpor produk jadi, karena nilai tambahnya dinikmati oleh bangsa lain.

Sentilan Habibie kemudian melahirkan kebijakan hilirisasi.

Semua pengelola pertambangan diharuskan membangun pabrik pengolahan mineral.

Pemerintah membekukan izin ekspor apabila tidak ada komitmen untuk membangun smelter.

Setelah beberapa tahun berjalan, muncul wacana untuk mengkaji kembali kebijakan tersebut.

Menko Perekonomian Darmin Nasution melihat, momentum kebijakan hilirisasi hilang ketika harga komoditas terpuruk seperti sekarang.

Kita sering mengingatkan pentingnya pengkajian secara menyeluruh.

Kebijakan industrialisasi harus melihat kemampuan industri dalam negeri.

Jangan sampai nilai tambah justru dinikmati bangsa lain karena kita harus mengimpor barang modal.

Ambil contoh pabrik pengolahan tembaga.

Investasi yang harus ditanamkan untuk membangun smelter sekitar US$2 miliar.

Namun, barang modal untuk membangun smelter harus diimpor karena hanya Jepang, Tiongkok, atau Amerika Serikat yang memiliki teknologi tersebut.

Persoalannya, nilai tambah yang didapat dari pengolahan konsentrat ternyata hanya 5%.

Kita harus mengekspor produk olahan itu karena kita tidak memiliki industri hilir lanjutan seperti industri kabel dan katoda.

Hal yang sama berlaku pada aluminium.

Nilai tambah akan semakin tinggi apabila kita memiliki industri permesinan yang kuat.

Industri otomotif sangat membutuhkan aluminium untuk keperluan mesin dan komponen.

Untuk itulah kita memerlukan desain besar pembangunan industri nasional.

Sampai saat ini kita belum memiliki kebijakan nasional yang menggabungkan sistem pendidikan dan pembangunan ekonomi yang hendak kita tuju.

Sejak zaman Mendikbud Wardiman Djojonegoro kita berkutat pada persoalan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri.

Tidak usah heran apabila kita kemudian menjadi gamang.

Apalagi ketika dihadapkan pada perekonomian global yang masih terus melambat.

Harga komoditas terus tergerus sehingga investasi pengolahan mineral dirasakan menjadi tidak feasible.

Kita tidak pernah bosan mengajak bangsa ini bertindak lebih cerdas. Jangan kebijakan dikeluarkan hanya karena sikap emosional.

Masukan yang diberikan Habibie bukan dimaksudkan untuk sesuatu yang tidak feasible.

Kita sudah terlalu lama tidak memperkuat pe-nguasaan ilmu dasar.

Akibatnya, kita kekurangan ahli yang bisa membawa kita menguasai industri barang modal.

Hampir semua permesinan industri harus diimpor dan akibatnya setiap tahun bisa terlihat dari besarnya defisit neraca transaksi berjalan.

Kita tidak perlu malu untuk merevisi kebijakan yang kurang tepat.

Yang terpenting ada kesadaran untuk memperbaiki kelemahan yang ada agar kelak kita dapat mengoptimalkan sumber daya alam untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.