Suku bunga

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
24/2/2016 00:00
Suku bunga
(ANTARA/Fanny Octavianus)

INDUSTRI perbankan diguncang rumor. Otoritas Jasa Keuangan diisukan akan mengeluarkan aturan tentang pembatasan net interest margin (NIM) dari perbankan. Untuk menekan suku bunga kredit, bank akan dibatasi NIM-nya antara 3% dan 4%.

Keruan saja harga saham perbankan bergejolak. Tekanan jual saham perbankan membuat harga saham perbankan tergerus sampai 5%. Pasar khawatir ekonomi komando akan diterapkan di Indonesia dan membuat saham perbankan tidak menarik.

Ketua Komisioner OJK Muliaman D Hadad sudah menegaskan tidak pernah ada ekonomi komando di Indonesia. OJK tidak pernah berencana mengeluarkan peraturan yang membatasi aktivitas dunia perbankan.

Belakangan ini adanya harapan dari pemerintah agar perbankan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Caranya dengan menurunkan tingkat suku bunga kredit agar dunia usaha lebih kompetitif. Sekarang ini tingkat suku bunga kredit dinilai terlalu tinggi sehingga tidak mendorong masyarakat menanamkan modal mereka.

Tekanan pertama-tama ditujukan kepada Bank Indonesia. Tingkat suku bunga acuan BI terlalu tinggi, di tengah tingkat suku bunga acuan dunia yang cenderung rendah. Dua kali pertemuan Dewan Gubernur BI akhirnya memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga 25 basis poin sehingga kini BI rate berada pada posisi 7%.

Penurunan BI rate memunculkan desakan agar perbankan ikut menurunkan tingkat suku bunga. Salah satu yang menjadi biang keladi ialah tingginya NIM. Penetapan NIM yang terlalu tinggi memang menguntungkan perbankan, tetapi mencekik para pengusaha.

Persoalan itu sebenarnya bukan masalah baru. Tingkat efisiensi perbankan kita memang rendah. Mereka mengompensasi hal itu dengan NIM yang tinggi. Selama ini NIM yang diterapkan perbankan di atas 6%. Itulah yang membuat biaya modal di Indonesia menjadi mahal.

Yang harus kita pikirkan ialah bagaimana membuat perbankan kita menjadi lebih efisien. Caranya tentu tidak dengan cara komando yang memaksakan. OJK, BI, Perbanas, dan pelaku perbankan harus duduk bersama-sama mencari jalan untuk membangun sistem perbankan yang solid.

Sistem perbankan yang baik itu bukan hanya memperkuat bank dengan keuntungan menggiurkan, melainkan juga bagaimana membuat bank mampu menjalankan fungsi intermediasi. Kita sering diingatkan, bank bukanlah lembaga yang 'beternak uang'. Uang itu alat untuk menggerakkan perekonomian.

Wapres Jusuf Kalla berulang kali menyampaikan hal itu. Kalau sekarang kita mengeluhkan soal deindustrialisasi yang terjadi, reindustrialisasi tidak pernah akan bisa kita lakukan apabila suku bunga terlalu mahal.

Sepanjang tidak ada gairah orang untuk berinvestasi, bank harus membayar dana simpanan pihak ketiga yang lebih mahal. Lingkaran setan itulah yang sekarang terjadi dan perbankan pun tidak pernah bisa menikmati manfaat optimal dari industri yang mereka kembangkan.

Sepanjang tidak ada keberanian untuk memutus rantai itu, kita akan terus berkutat pada persoalan yang sama. Kita bukan hanya terus saling menyalahkan, melainkan juga akan ketinggalan kereta karena bangsa bangsa lain lebih bergegas dalam membangun negara mereka.

Permintaan pemerintah agar dunia perbankan berbenah diri jangan dilihat sebagai perintah. Namun, itu imbauan agar perbankan ikut memikirkan solusi untuk bangsa ini agar lebih cepat membangun.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima