APBN-P

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
20/2/2016 00:00
APBN-P
(MI/DUTA)

BRUNEI Darussalam merupakan negara yang penerimaan negaranya bergantung pada migas.

Di tengah situasi harga minyak terpuruk, Brunei mencoba lebih realistis dalam menyusun anggaran.

Saat bertemu di Jakarta akhir tahun lalu, Menteri Energi Brunei Pehin Mohammad Yasmin Umar mengaku dirinya sempat dikritik keras anggota parlemen karena menetapkan harga minyak US$40 per barel dalam penyusunan anggaran.

Pehin Yasmin dinilai terlalu rendah menetapkan harga patokan sehingga mengurangi kemampuan anggaran Brunei.

Namun, ia merasa itulah patokan paling realistis karena harga minyak dunia tahun ini masih akan berada pada titik yang rendah.

Daripada menunggu tanpa kepastian harga minyak kembali naik, Pehin Yasmin mengajak anggota parlemen mencari alternatif lain untuk meningkatkan penerimaan negara.

Di sisi lain, perlu dipikirkan cara untuk menggunakan anggaran negara seefisien mungkin agar bermanfaat bagi rakyat banyak.

Ketika Brunei menetapkan harga minyak US$40, kita masih mematok US$50 per barel dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016.

Kini, saat harga minyak masih di bawah US$30, wajar apabila pemerintah limbung.

Penerimaan pajak penghasilan migas hingga pertengahan Februari baru Rp5 triliun dari target Rp90 triliun.

Apalagi rendahnya harga minyak berdampak pada harga komoditas lain, yang menjadi andalan penerimaan kita.

Revisi APBN menjadi keniscayaan.

Pemerintah perlu menyampaikan Rancangan APBN Perubahan ke DPR untuk merumuskan anggaran lebih realistis.

Kita menata kembali rencana pendapatan dan belanja agar tidak lebih besar pasak daripada tiang.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro memperkirakan penerimaan negara tahun ini bisa berkurang Rp200 triliun dari perkiraan.

Untuk itu, perlu dipikirkan pos-pos yang bisa dihemat tanpa mengurangi target pertumbuhan yang diinginkan.

Kita memang tidak perlu menurunkan target pertumbuhan 5,3% tahun ini karena perekonomian kita tidak hanya bertumpu pada pemerintah.

Kita masih memiliki swasta dan BUMN sebagai motor pertumbuhan.

Apalagi BI sudah memberikan kelonggaran kredit dengan menurunkan suku bunga acuan, BI rate, menjadi 7%.

Penetapan simpanan giro wajib minimum perbankan juga diturunkan dari 7,5% menjadi 6,5%.

Ruang bagi terjadinya investasi pun masih terbuka lebar.

Kalau saja rencana pembangunan pembangkit listrik 35 Gw mampu direalisasikan, setiap tahun akan ada investasi sekitar Rp200 triliun.

Itu sudah 30% dari target investasi yang dicanangkan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Investasi itu pun mendorong tumbuhnya industri penunjang karena pembangunan pembangkit listrik membutuhkan konduktor aluminium, trafo, dan baja.

Jutaan orang juga bisa terserap untuk membangun proyek.

Belum lagi kalau pemerintah menekuni investasi di sektor migas serta pertambangan.

Banyak proyek migas yang tinggal eksploitasi seperti Blok Masela.

Sekarang para pengusaha menunggu maunya Presiden.

Kajian untuk dilakukan eksploitasi di tengah laut sudah dibuat sejak tiga tahun lalu.

Sekarang Presiden goyah karena ada yang berpendapat pengolahan di darat lebih bermanfaat.

Persoalan sekarang terletak pada keyakinan kita.

Kalau kita menghendaki ada percepatan pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi, kuncinya sepenuhnya di tangan kita.

Kalau saat meresmikan pelaksanaan pembangunan kereta cepat Presiden menegaskan bahwa pemenang dalam era kompetisi ialah yang paling cepat mengambil keputusan, konsistensi sikap seperti itulah yang kita butuhkan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima