Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

PEKAN lalu, Forum Energi Bersih digelar di Bali. Forum itu membicarakan inisiatif untuk tidak lagi bertumpu pada energi berbasis fosil.
Perkembangan teknologi untuk energi bersih sudah begitu pesat. Sekarang bukan lagi saatnya omong doang. Banyak negara sudah mempraktikkannya.
Salah satunya dilakukan Jepang. Stadion sepak bola yang dibangun di Suita, Osaka, menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi.
Panel sel surya berkekuatan 500 Kw dipasang di atap stadion. Sebagai negara empat musim, Jepang tidak dilimpahi sinar matahari sepanjang tahun. Namun, penggunaan panel sel surya mampu menghemat anggaran sampai US$45 ribu per tahun.
Indonesia memiliki banyak kelebihan untuk mengembangkan energi bersih, seperti sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, air bisa diolah jadi energi, angin juga tersedia jadi tenaga listrik.
Ada lagi potensi yang sangat besar, yaitu panas bumi. Lalu, mengapa kita begitu lamban mengembangkan energi bersih?
Itu disebabkan rezim keuangan kita masih menggunakan cara pandang biaya murah.
Para pejabat Kementerian Keuangan hanya berorientasi menjaga keuangan negara yang sehat, enggan memberi insentif para pengembang energi bersih.
Tanpa dipacu mengembangkan energi bersih, orang akan mencari mudahnya. Apalagi kini harga minyak dunia sangat rendah. Harga batu bara juga berada di titik terendah.
Pembangunan pembangkit listrik 35 Gw semuanya berbasis energi fosil. Padahal, energi berbasis fosil melepaskan CO2 ke udara yang memicu efek rumah kaca yang kita hadapi saat ini.
Conferences of Parties 21 akhir tahun lalu di Paris mendesak negara di dunia untuk melakukan langkah nyata mengurangi pelepasan CO2.
Indonesia sudah berjanji mengurangi CO2 hingga tinggal 26% pada 2020. Namun, bagaimana peta jalan ke arah sana, belum kita lihat.
Semua masih business as usual dan tidak terlihat langkah bergegas mendorong masyarakat ikut serta melakukannya.
Banyak negara menerapkan pajak untuk pelepasan CO2.
Pembangkit listrik yang menggunakan batu bara dikenai pajak karena mereka tidak berorientasi pada penciptaan lingkungan yang bersih. Sebaliknya, kepada mereka yang mengembangkan energi bersih diberikan insentif.
Hal yang sama berlaku pada masyarakat. Mereka yang mau menggunakan mobil listrik atau hibrida mendapat insentif harga lebih murah.
Tidak seperti di Indonesia, mobil hibrida dikategorikan kendaraan mewah sehingga harga jualnya jauh lebih tinggi. Tidak mengherankan bila tidak banyak masyarakat mau beralih ke mobil hibrida.
Kita membutuhkan kesungguhan bila tidak ingin dikucilkan sebagai negara yang tidak peduli lingkungan.
Harus ada perubahan paradigma agar setiap orang terpacu untuk sesedikit mungkin melepaskan CO2 ke udara. Tanpa itu kita hanya menjadi peserta dari forum ke forum. Kita harus memacu anak-anak Indonesia untuk menguasai teknologinya.
Di Indonesia sebagai negara kepulauan, pengembangan energi bersih paling feasible dilakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Tidaklah mungkin membangun pembangkit di 17.500 pulau yang tersebar di Indonesia.
Pembangkit tenaga surya, air, atau angin paling cocok untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang tak banyak jumlahnya.
Presiden Jokowi pernah meresmikan pembangkit listrik tenaga surya di Bali.
Kini butuh percepatan menuju energi bersih.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved