Menjaga Madu

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
17/4/2015 00:00
Menjaga Madu
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)
SAYA masih menyimpan memori ketika kanak-kanak menyaksikan pemilihan kepala desa. Ada lima kandidat, masing-ma-sing punya simbol hasil perkebunan. Misalnya kandidat A, simbolnya padi, B kelapa, dan seterusnya. Mereka berjejer duduk di atas panggung dengan simbol diikat di sebuah tiang.

Ukuran 'kehebat-an' sang kandidat ialah berapa ekor sapi/kerbau dipotong. Yang terbanyak itulah yang paling ramai dikunjungi. Yang terpilih bukan yang memotong kerbau terbanyak, melainkan yang paling layak. Ini pemilih rasional. Sang pemenang diarak menuju rumah didampingi Pak Bupati. Ini pula kali pertama saya menyaksikan pemilihan demokratis jauh sebelum pemilihan presiden dan kepala daerah.

Lepas ada yang mengatakan pemilihan kepala desa muasal politik uang, tapi setahu saya, dulu, menjadi kepala desa sebuah kehormatan. Dedikasi. Tak ada fasilitas mencolok, kecuali tanah bengkok. Menjadi pemimpin itu pengabdian. Hari-hari ini saya mendengar ada yang habis Rp1 miliar untuk memenangi pemilihan kepala desa. Saya tak percaya ini sebuah pengabdian!

Akan tetapi, berapa pun biaya dihabiskan, desa tetaplah lokus penuh antipoda. Ia 'rumah besar', 'ibu' yang melahirkan orang-orang kota, juga menghidupinya, tapi kemudian dilupakan. Desa seperti nasib ibu si Malin Kundang, tetapi hebatnya ia tak pernah mengutuknya menjadi batu. Ia tetap menanti kapan 'anak-anaknya' kembali. Desa ialah panggung kenangan: yang menghibur dan yang memedihkan; kehidupan yang tenang dan yang gersang. Tetapi, yang pasti, desa adalah sumber kearifan lokal dan kebersamaan. Desa ialah oasis orang-orang kota yang penat. Tetapi, di tangan para politikus yang tamak, banyak desa seperti sengaja dibuat tak berdaya, agar setiap hajatan politik bisa menjadi pasar suara.

Karena itu, saya gembira dengan UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Mestinya bisa membebaskan desa dari nasibnya yang buruk itu. Ini pengakuan dan penghormatan atas desa dengan keberagamannya. Bukankah dengan beragam nama, desa telah ada sebelum Republik Indonesia ada? Kini UU memberi kejelasan status dan kepastian hukum atas desa dalam sistem ketatanegaraan. Agar desa berkembang, mandiri, dan mendapatkan keadilan. Kearifan lokal, adat, tradisi, dan budaya masyarakat juga mesti dikembangkan.

Dalam lima tahun ini 74.093 desa akan mendapat dana Rp56,3 triliun (setiap desa Rp1 miliar-Rp1,4 miliar) dibagikan bertahap tahun ini. Pada 2018 desa mestinya sudah terasa perubahannya. Inilah yang disebut Jokowi sebagai upaya membangun Indonesia dari pinggiran. Kita menunggu derap pembangunan desa yang bertalu-talu.

Namun, segera pula terbayang 33.000 desa tertinggal (44% ) dari desa yang ada, tentu perlu waktu lama lagi untuk mandiri dan sejahtera. Desa-desa serupa itulah yang berpuluh tahun menjadi sumber kemiskinan.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar memperkirakan untuk desa-desa serupa ini sedikitnya perlu dana Rp120 triliun. Jika desa-desa itu sejahtera, urbanisasi pasti tak akan menyesakkan kota, tenaga kerja kasar tak 'bermigrasi' ke luar negeri bersama kepedihan-kepedihannya. Ini tugas pemerintahan Jokowi.

Selain gembira, saya juga cemas. Khawatir 'madu' dana desa itu berubah jadi 'racun'. Sebab, uang puluhan juta rupiah saja bisa jadi sumber korupsi, apalagi ratusan juta tiap tahun. Karena itu, sebelum uang datang harus benar-benar dipastikan kesiapan aparat desa. Tanpa bimbingan serius, 'madu' itu benar-benar bisa membunuh para penerimanya. Dana desa pun akhirnya bukan lagi berkah, melainkan musibah.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.