Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TAK ada yang salah dengan para ca bau kan (perempuan) yang menyanyikan lagu-lagu klasik Tionghoa bersyair asmara. Apa yang salah dengan para perempuan pribumi di Betawi yang mencari penghidup-an dengan menyanyi, menghibur para tetamu? Pastilah, di masa Hindia Belanda, hiburan di atas perahu-perahu yang tambat di Kali Angke yang bening punya kelasnya sendiri. Tentu pula tak bisa dihindari ada cerita asmara dalam hubungan penghibur dan yang dihibur; para saudagar Tionghoa. Mungkin juga kemudian ada yang ‘berjodoh’.
Tinung yang bernama asli Siti Noerhajati, pribumi Betawi, contoh penghibur ternama. Ia populer tak hanya karena parasnya yang cantik, tapi juga nyanyiannya yang merdu dan tariannya (cokek) yang indah. Ia menjadi selir Tan Peng Liang, saudagar tembakau Tionghoa dari Semarang.
Kisah asmara itu terjadi di Kalijodo. Novel Ca-Bau-Kan karya Remmy Sylado tak hanya mengangkat sepenggal kisah ‘kejayaan’ Kalijodo di masa lalu, tapi lebih dari itu semacam pembebasan mengangkat sesuatu yang tabu di masa Orde Baru, mengangkat kisah kehidupan puak Tionghoa. Bahkan, novel ini kemudian difilmkan.
Di masa kemerdekaan, seperti diceritakan tokoh Betawi Ridwan Saidi, di atas Kali Angke, peh cun atawa pesta air kerap digelar setiap 100 hari kalender Imlek. Inilah pesta, ketika muda-mudi bersampan di Kali Angke, mencari jodoh. Para bujang di atas perahu, yang tertarik para gadis di atas sampan yang lain, akan melempar kue tiong cu pia. Ca bau kan yang cocok juga akan melempar kue yang sama pada pemuda pelempar kue. Inilah berjodoh dengan cara yang indah. Akan tetapi, pada 1958 Wali Kota Jakarta Raya, Sudiro, melarang pesta air mencari jodoh itu.
Kalijodo, bukan kisah ‘hari ini’. Konon cerita asmara di situ telah berlangsung sejak abad ke-18. Cerita asmara Kalijodo yang tua itu, pesta air mencari jodoh terbuka dan riang pascakemerdekaan, sejak 1970-an justru menjadi lokus transaksi seks.
Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membulatkan tekad hendak menutup tempat hiburan itu dan dikembalikan sebagai ruang terbuka hijau. Alasannya, Ibu Kota baru mempunyai 10% lahan terbuka hijau dari yang seharusnya 30%, dan area itu memang milik Pemprov Jakarta.
Kita tahu, umumnya setiap lokalisasi prostitusi, di situ selalu ada cerita yang ‘mengikuti’: perjudian, para jagoan--yang kemudian bermetamorfosis menjadi ‘tokoh’--berebut lahan untuk memberi rasa ‘aman’. Juga di Kalijodo. Ada cerita para ‘jagoan’. Itu sebabnya, ‘penertiban’ manusia yang sudah berpuluh tahun mencari penghidupan pasti tak sederhana.
Kalijodo seperti sekarang ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka yang mencari penghidupan di situ. Mereka butuh makan. Sejarah para ca bau kan yang menghibur dengan lagu-lagu klasik, cerita mencari jodoh gadis-bujang di atas sampan dengan melempar kue tiong cu pia, mestinya bisa dikembangkan sebagai sebuah ‘kearifan’ masa silam yang kemudian jadi tak melanggar norma dan hukum. Ia bisa menjadi sebuah festival kreatif, misalnya.
Membiarkan terlalu lama Kalijodo menjadi berkembang seperti sekarang, lalu ditutup begitu rupa, tentu semena-mena. Kalijodo juga pelajaran, seperti penggusuran-penggusuran lain, yakni pelanggaran yang dibiarkan negara jadi membesar. Oknum aparat negara juga kerap memanfaatkannya. Kita setuju penertiban, tapi ingat mereka manusia. Pemprov Jakarta mestinya memberi penghidupan yang lebih pada mereka.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved