Kalijodo

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
16/2/2016 00:00
Kalijodo
(ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA)

TAK ada yang salah dengan para ca bau kan (perempuan) yang menyanyikan lagu-lagu klasik Tionghoa bersyair asmara. Apa yang salah dengan para perempuan pribumi di Betawi yang mencari penghidup-an dengan menyanyi, menghibur para tetamu? Pastilah, di masa Hindia Belanda, hiburan di atas perahu-perahu yang tambat di Kali Angke yang bening punya kelasnya sendiri. Tentu pula tak bisa dihindari ada cerita asmara dalam hubungan penghibur dan yang dihibur; para saudagar Tionghoa. Mungkin juga kemudian ada yang ‘berjodoh’.

Tinung yang bernama asli Siti Noerhajati, pribumi Betawi, contoh penghibur ternama. Ia populer tak hanya karena parasnya yang cantik, tapi juga nyanyiannya yang merdu dan tariannya (cokek) yang indah. Ia menjadi selir Tan Peng Liang, saudagar tembakau Tionghoa dari Semarang.

Kisah asmara itu terjadi di Kalijodo. Novel Ca-Bau-Kan karya Remmy Sylado tak hanya mengangkat sepenggal kisah ‘kejayaan’ Kalijodo di masa lalu, tapi lebih dari itu semacam pembebasan mengangkat sesuatu yang tabu di masa Orde Baru, mengangkat kisah kehidupan puak Tionghoa. Bahkan, novel ini kemudian difilmkan.

Di masa kemerdekaan, seperti diceritakan tokoh Betawi Ridwan Saidi, di atas Kali Angke, peh cun atawa pesta air kerap digelar setiap 100 hari kalender Imlek. Inilah pesta, ketika muda-mudi bersampan di Kali Angke, mencari jodoh. Para bujang di atas perahu, yang tertarik para gadis di atas sampan yang lain, akan melempar kue tiong cu pia. Ca bau kan yang cocok juga akan melempar kue yang sama pada pemuda pelempar kue. Inilah berjodoh dengan cara yang indah. Akan tetapi, pada 1958 Wali Kota Jakarta Raya, Sudiro, melarang pesta air mencari jodoh itu.

Kalijodo, bukan kisah ‘hari ini’. Konon cerita asmara di situ telah berlangsung sejak abad ke-18. Cerita asmara Kalijodo yang tua itu, pesta air mencari jodoh terbuka dan riang pascakemerdekaan, sejak 1970-an justru menjadi lokus transaksi seks.

Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membulatkan tekad hendak menutup tempat hiburan itu dan dikembalikan sebagai ruang terbuka hijau. Alasannya, Ibu Kota baru mempunyai 10% lahan terbuka hijau dari yang seharusnya 30%, dan area itu memang milik Pemprov Jakarta.

Kita tahu, umumnya setiap lokalisasi prostitusi, di situ selalu ada cerita yang ‘mengikuti’: perjudian, para jagoan--yang kemudian bermetamorfosis menjadi ‘tokoh’--berebut lahan untuk memberi rasa ‘aman’. Juga di Kalijodo. Ada cerita para ‘jagoan’. Itu sebabnya, ‘penertiban’ manusia yang sudah berpuluh tahun mencari penghidupan pasti tak sederhana.

Kalijodo seperti sekarang ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka yang mencari penghidupan di situ. Mereka butuh makan. Sejarah para ca bau kan yang menghibur dengan lagu-lagu klasik, cerita mencari jodoh gadis-bujang di atas sampan dengan melempar kue tiong cu pia, mestinya bisa dikembangkan sebagai sebuah ‘kearifan’ masa silam yang kemudian jadi tak melanggar norma dan hukum. Ia bisa menjadi sebuah festival kreatif, misalnya.

Membiarkan terlalu lama Kalijodo menjadi berkembang seperti sekarang, lalu ditutup begitu rupa, tentu semena-mena. Kalijodo juga pelajaran, seperti penggusuran-penggusuran lain, yakni pelanggaran yang dibiarkan negara jadi membesar. Oknum aparat negara juga kerap memanfaatkannya. Kita setuju penertiban, tapi ingat mereka manusia. Pemprov Jakarta mestinya memberi penghidupan yang lebih pada mereka.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima