Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA tak peduli pemimpin dilahirkan atau diciptakan. Saya tak peduli pemimpin super kaya Vladimir Putin atau papa seperti Jose Mujica. Saya tak peduli pemimpin lahir dari keluarga miskin seperti Lee Myung Bak atau lahir di istana seperti Hassanah Bolkiah. Saya juga tak peduli pemimpin dari kalangan saudagar kaya seperti Silvio Berlusconi atau dari kelas pekerja Hugo Chavez. Peduli saya bagaimana ketika ia memimpin, juga apakah itu diperoleh dengan cara 'terang' atau 'sembunyi'?
Yang pasti pemimpin tak lahir dari advertensi; juga pidato-pidato di televisi. Tentu, reklame, televisi, dan media massa bisa mengantarkan mereka ke pintu gerbang pemimpin. Akan tetapi, kapasitas sang pemimpin itulah yang utama. Kita tahu beberapa nama waktu lalu sangat percaya diri menghiasi papan-papan iklan dan media massa, sayang akhirnya undur pergi. Salah satunya, Rizal Mallarangeng. Ada banyak yang menunggu saban doktor ilmu politik lulusan Ohio State University itu tampil di televisi.
Performanya penuh gairah, dikelilingi anak-anak dan penduduk desa. Ia merangkul, membimbing, dan membawa mereka menuju dunia baru.
Motonya cerdas, 'Generasi baru, harapan baru'. Sayang ia batal maju sebagai calon Presiden 2009. (Apa kabar Bung Rizal?) Karena itu, saya bungah munculnya beberapa nama yang berkehendak menjadi 'pemimpin'. Hary Tatanoesudibjo, yang terutama.
Ia saudagar sukses lewat bendera MNC Group. Muda, kaya, berpendidikan, energik, dan punya media. Jalannya menuju panggung pemimpin lewat politik. Mula-mula Tanoe berlabuh di Partai NasDem, lalu Hanura, kemudian mendirikan Partai Perindo (Perhimpunan Indonesia). Lewat partai inilah ia kini menempa diri menjadi calon pemimpin bangsa. Kegagalannya pada Pemilu 2014 memompakan hasrat maju kembali. Kita hargai Tanoe.
Ia memasuki dunia terbuka, dunia publik, dunia politik. Dalam politik, yang privat ditanggalkan, yang publik diutamakan. Dalam politik, yang solider jadi kekuatan, yang soliter jadi kelemahan. Dalam politik altruisme digalakkan, egoisme disisihkan. Dalam politik, calon pemimpin mesti siap berdiri di tengah lapang dan diteropong bahkan 'ditelanjangi' dari delapan penjuru angin. Alangkah mulianya politik, mestinya! Sebab, ikhwal calon pemimpin menjadi santapan publik.
Laku yang agung dan yang lancung jadi jelas! Bahkan, mestinya calon pemimpin juga mengumumkan berbagai sisi lemahnya dan meminta publik mengawalnya. Dalam konteks proses itu pula, saya melihat panggilan Kejaksaaan Agung pada Tanoe atas dugaan pelanggaran hukum dalam bisnis, justru ini ujian di ruang publik sebagai calon pemimpin.
Respons Tanoe lewat pesan pendek (sandek) kepada jaksa Yulianto itulah yang disayangkan. Tentu ada debat seru di situ. Silakan ahli hukum, ahli semiotik, linguistik forensik, psikolinguistik, dan ahli lain yang punya otoritas keilmuan berdebat menganalisis pesan pendek Tanoe.
Beberapa soal saya setuju. Namun, kenapa Tanoe berkirim sandek? Kenapa pula domain hukum yang 'publik' dibawa ke domain privat, menyapa 'Mas Yulianto'.
Saya semula berharap Tanoe merespons rencana panggilan Kejagung dengan cepat hadir di Gedung Bundar. Inilah panggung terbaik untuk menunjukkan kepada publik, siapa yang cemar dan siapa yang benar. Saya berharap Tanoe sampai, menjadi 'pimpinan negeri ini', yang hendak 'memberantas oknum-oknum penegak hukum yang transaksaksional'. Sepakat.
Buktikanlah di pengadilan bahwa Anda yang benar dan Kejaksaan Agung cemar. Jika Anda yang benar, inilah tiket penting calon pemimpin, yang disebut sejarawan Arnold Toynbee sebagai kaum 'minoritas dominan'. Saya menunggu Anda memang layak berada dalam barisan itu.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved