Kado dari Presiden

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
11/2/2016 05:25
Kado dari Presiden
(ANTARA/Ahmad Subaidi)

HARI Pers Nasional kali ini dirayakan dengan kado istimewa dari Presiden Jokowi. Kado itu berupa kritik tajam dan harapan kepada pers nasional yang disampaikan dalam bahasa terus terang, lugas, apa adanya.

Presiden boleh dikata tidak membaca naskah pidato, melainkan membaca satu per satu berhelai-helai print out berita, yang judulnya bermuatan pesimisme, dan karena itu pers menyebarluaskan pesimisme. Semula Presiden hendak mempresentasikan semua judul berita itu agar terbaca gamblang oleh insan pers, akan tetapi tidak terlaksana, karena agaknya panitia tidak merancang venue sedemikian rupa sehingga Presiden dapat berpidato seraya mempresentasikan pokok-pokok pikirannya di layar.

Acara puncak Hari Pers Nasional berlangsung Selasa (10/2), di tepi pantai, menghadap laut, di kawasan potensi wisata Mandalika, Lombok Tengah, NTB. Mentari bersinar tajam, kiranya membuat layar presentasi 'terlalu terang benderang' untuk menampilkan aksara. Bukankah proyektor perlu secercah kegelapan agar yang diproyeksikan baik terbaca?

Presiden Jokowi membaca satu per satu judul berita yang sejujurnya memang menyentak insan pers. Antara lain, 'Indonesia Diprediksi akan Hancur', 'Semua Pesimis Target Pertumbuhan Ekonomi Tercapai', 'Pemerintah Gagal Aksi Teror, Tak akan Habis Sampai Kiamat pun', 'Kabut Asap tak Teratasi Riau Terancam Merdeka'. Presiden bahkan membaca judul yang lebih sensasional, 'Indonesia akan Bangkrut, Hancur', 'Rupiah akan Tembus Rp15.000, Jokowi-JK akan Ambyar'.

Kata Presiden, kalau judul seperti itu diteruskan di era kompetisi ini, yang muncul ialah pesimisme, etos kerja tidak terbangun dengan baik. "Yang muncul adalah hal-hal yang tidak produktif, bukan produktivitas."

Beita-berita itu menimbulkan distrusting, ketidakpercayaan. Presiden berharap agar seluruh insan pers dan media turut membangun optimisme, etos kerja masyarakat, bukan sebaliknya. Secara spesifik presiden melontarkan gagasan media televisi membangun karakter cinta bangsa dengan cara tiap satu jam menyediakan sedikit saja durasi dari jam siaran yang panjang untuk menayangkan lagu-lagu kebangsaan.

Secara tidak langsung Presiden pun mengajak becermin balik ke era pembredelan pers. Bila dahulu pemerintah menekan pers, sekarang pers menekan pemerintah. Dahulu setelah ditekan, berita langsung yang baik-baik.

Tersirat sentilan, kenapa di era kebebasan pers, hidup tanpa tekanan, yang terbit malah yang buruk-buruk? Kenapa dalam kebebasan pers yang dihormati Presiden itu, justru diproduksi pesimisme?

Semua itu penting untuk introspeksi. Pers yang kerjanya, antara lain atas nama fungsi kontrol mengungkap kebobrokan pihak lain, kini sepatutnya memeriksa diri sendiri. Pertama, rupanya euforia kebebasan pers belum normal benar. Rupanya masih membekas dalam-dalam, rasa sakit sisa-sisa 32 tahun ditekan pemerintah. Belum tuntas terpuaskan, tersembuhkan, lahirlah berita-berita pesimisme, menekan pemerintah. Sepertinya tidak layak headline, bila tidak dramatis-negatif. Semoga saya salah.

Kedua, jangan-jangan terjadi proses involutif di news room, penyempitan perspektif dan pemajalan sudut pandang. Hasilnya ialah pesimisme, karakter tidak memercayai pemerintah. Lagi-lagi, semoga saya keliru.

Terakhir, good news is good news. Media sang pembawa dan penyebar optimisme berkaitan dengan perubahan mindset dari bad news is good news. Bukan perkara baru, bukan pula perkara gampang. Terimakasih, Presiden Jokowi memberi kado terindah, mengingatkan perkara itu, di acara puncak Hari Pers Nasional.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.