Heboh Pakan

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
10/2/2016 05:30
Heboh Pakan
(ANTARA/Abriawan Abhe)

BARU saja kita merayakan Tahun Baru Imlek. Pada Tahun Monyet kita berharap semua bisa lebih baik. Setidaknya bisnis bisa berkembang lebih lancar, sehingga tahun lalu menjadi titik terendah dari siklus ekonomi kita.

Banyak hal yang bisa kita petik dari pengalaman bangsa Tionghoa. Salah satunya dalam hal kepemimpinan. Pepatah Tionghoa antara lain mengatakan: "Pemimpin dan yang dipimpin janganlah setengah kilogram, lima ons.". Pepatah itu mengajarkan agar pemimpin memiliki kelebihan. Entah itu kelebihan dalam wisdom atau kemampuan untuk melihat persoalan dengan lebih luas.

Sekarang ini kita sedang dihebohkan urusan pakan ternak. Oleh karena input yang keliru, tiba-tiba ada kebijakan melarang impor jagung untuk pakan. Alasannya produksi dalam negeri melimpah dan peternak serta perusahaan pakan ternak sebaiknya menggunakan hasil petani lokal.

Persis ketika tahun lalu, kita memperkirakan produksi padi meningkat, sehingga tidak perlu impor. Ternyata basis data yang dikeluarkan tidak akurat. Akibatnya sempat terjadi kekurangan beras dan harga melonjak. Pemerintah akhirnya mengoreksi dengan mengeluarkan izin impor kepada Badan Urusan Logistik.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution ketika itu berniat memperbaiki data yang ada. Semua dilakukan agar pemerintah tidak keliru mengambil keputusan. Sebab, dampaknya bisa berpengaruh terhadap tingkat inflasi dan pemerintah harus membayar mahal kekeliruan yang sudah terlanjur terjadi.

Belum lagi bibir kering mengucapkan, persoalan yang hampir sama kembali terjadi. Sekarang ini terjadi pada pakan ternak. Larangan impor jagung membuat bahan utama pakan ternak langka di pasaran. Akibatnya harga jagung menjadi melonjak dan dampaknya kepada harga pakan. Tingginya harga pakan bukan hanya menyulitkan peternak, tetapi juga memberatkan konsumen karena harga ayam dan telur pun menjadi mahal.

Kekacauan pada rantai produksi peternakan unggas sekarang ini tidak bisa dianggap enteng. Masalahnya yang terganggu banyak pihak mulai dari konsumen, peternak, hingga pengusaha pakan ternak. Konsumen terganggu oleh harga ayam dan telur yang mahal, peternak terganggu oleh langka dan mahalnya pakan ternak, sementara pengusaha pakan direpotkan oleh tidak adanya bahan baku.

Padahal unggas merupakan usaha yang dikerjakan mulai pengusaha kecil hingga besar. Daging ayam dan telur selama ini mampu dicukupi oleh produk peternak dalam negeri. Bahkan kita mampu menjadikan unggas sebagai salah satu ekspor peternakan.

Sekarang banyak pihak yang terganggu bisnisnya. Terutama peternak kecil dan menengah banyak yang terpaksa menghentikan kegiatannya. Penyebabnya, karena kita salah dalam melihat budidaya jagung yang dikembangkan petani. Sentral jagung nasional seperti Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi bukanlah sentral yang menjadikan jagung sebagai tanaman utama. Jagung yang kita kembangkan umumnya ditanam dengan cara tumpang sari.

Produktivitas jagung kita juga berbeda dengan jagung di Thailand, Brasil, atau Amerika. Mereka menanam jagung memang khusus untuk pakan ternak yang bijiannya lebih keras dan produktivitasnya tinggi. Jagung ditanam di hamparan lahan yang luas dan dikelola dengan mekanisasi tinggi.

Sepanjang budidaya jagung masih seperti sekarang, maka kita tidak mungkin melakukan swasembada jagung. Apalagi lahan yang dimiliki petani kita sangatlah terbatas. Kalau mereka harus memilih untuk melakukan tanaman, pasti mereka akan memilih padi daripada jagung, karena harga jual yang lebih tinggi.

Penting bagi para pengambil keputusan memahami kehidupan petani dan memiliki data yang benar. Kalau tidak kita seakan membela petani, tetapi mengganggu sistem yang lebih besar.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.