Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TIONGKOK ialah cerita purbani yang terus tumbuh dalam memori dan sihir masa kini yang terus menggugah imajinasi. Ia bukan semata kenangan tapi justru tantangan yang menggairahkan. Ia tak serupa Yunani, yang punya masa lalu yang gemilang, tapi Negeri Para Dewa itu kini seperti tak terkoneksi dengan sejarah dan para pemikirnya yang agung. Arkaisme Tiongkok justru amat bersambung dengan realitas hari ini. Kata banyak pengagumnya, kemajuan Tiongkok hari ini ialah sebuah kenicayaan!
Kalam sejarah Negeri Naga itu bercerita, betapa calon pemimpin di zaman klasik diuji kejujuran, keterampilan kesatria (berperang), menghapal sajak para pujangga dan menjelaskan arti berbait-bait puisi. Para pemimpin Tiongkok di zaman lama tak boleh jiwanya suwung dan pengetahuannya tak berjejak pada nilai-nilai masyarakatnya. Sastra tak hanya bicara mimpi, nilai-nilai kehidupan, tapi juga fantasi masa depan. Itu sebabnya cerita para leluhur tak dikubur tapi ditempatkan pada posisi luhur. Ia sumber nilai kebajikan.
Jelas, Tiongkok tak maju dari ruang hampa. Akan tetapi, juga tak jemawa dan merasa cukup dari sejarahnya. Justru sejarahnya yang kelam pada Revolusi Kebudayaan ala Mao Zedong yang, yang mematikan puluhan juta penduduknya, jadi pelajaran berharga: menyatukan bangsa. Negeri ini pun jujur, belajar pengendalian dari Jepang, kegigihan dari orang Korea, akurasi dari orang Jerman, dan strategi pemasaran dari orang Amerika. Inilah akulturasi nilai-nilai unggul. Bukankah di masa lalu Tiongkok punya pengaruh besar dalam relasi kebudayaan Asia Timur, terutama Jepang dan Korea?
Mao yang menyatukan, Deng Xiaoping memompakan spirit berniaga. Ilmu dan teknologi Barat yang menjejakkan efisiensi terus dipelajari. Dalam The Chinese Century, Oded Shenkar mengutip Intitute of International Education, pada 2002-2003 saja dari daratan Tiongkok lebih 64.000 mahasiswa belajar di berbagai perguruan tinggi Amerika. Lebih dari 100.000 mahasiswa belajar di Eropa, Australia, Jepang, dan puluhan ribu lagi belajar di negara-negara lain. Ini belum termasuk mahasiswa dari Hong Kong dan Taiwan yang mencapai lebih dari 30.000 ribu. Angka ini jelas terus meningkat saban tahun.
(Sementara di Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana sejak tahun 1970-an berteriak, pentingnya negara lebih banyak mengirim mahasiswa ke Eropa dan Amerika, menjadi hasrat yang tak bersambut). Pemerintah Tiongkok kemudian menawarkan faslitas tinggi bagi lulusan terbaik luar negeri untuk kembali. Namun, kemajuan negeri itu membuat mereka kemudian kembali dengan kesadaran sendiri. Mereka ingin 'mengabdi' demi negeri yang dicintai. Di samping itu, negeri ini juga rajin membujuk sarjana-sarajana terbaik luar negeri untuk mengisi pusat-pusat penelitian kelas dunia. Jadilah Tiongkok hari ini raksasa dunia sesesungguhnya dengan cadangan devisa 3,89 triliun dolar Amerika (Desember 2015). Inilah satu-satunya negara yang mampu memproduksi barang dengan teknologi tinggi hingga perkakas rumah tangga yang tertumpu pada padat karya. Sebutlah sembarang benda, Tiongkok pasti memproduksinya.
Oded Shenkar yang selama 30 tahun menekuni China, melihat dibandingkan dengan negara mana pun kemajuan tiongkok ungguh yang paling dramatis. Negeri ini bisa mempercepat kemajuan yang pernah di lakukan Amerika, Jepang, dan Kore Selatan. Shenkar sampai pada kesimpulan, apa pun problem yang menerpa negeri itu, memang bisa menghambat, tapi tak bisa menghentikkan laju negeri berpenduduk 1,4 juta manusia itu. (Jangan lupa masih ada , 40 juta diaspora China di berbagai belahan dunia, yang menjadi berkah negeri itu).
John Naisbitt dan Doris (Naisbitt) pastilah yang paling memuja Tiongkok. Dalam China's Megatrends, ia menulis salah satu kunci sukses Tiongkok ialah para pemimpinnya mampu bekerja efisien untuk menyiapkan masa depan. Ini bisa terjadi karena Tiongkok tak menghabiskan energi untuk mengurus politik, tak dipusingkan pemilihan umum, pergantian partai dan pemimpin yang berkuasa. Tak ada berdemonstrasi menuntut berbagai urusan, seperti galibnya di negeri-negeri yang mempraktekkan demokrasi liberal. Dan, negeri ini juga keras berperang melawan korupsi.
Kini negara mana yang bisa menghindar dari Tiongkok? Terlebih Indonesia sebagai negara pasar, konsumen yang hanya menunggu. Apa saja yang serba Cina, terutama barang industri, yang dulu menjadi sumber olok-olok sebagai benda kasta sudra, kini jelas harus total dikoreksi. Jelas bedanya Tiongkok raksasa produksi, Indonesia raksasa konsumsi.
Tahun Baru China, Imlek, yang mendapat ‘kemerdekaan’ perayaan semasa Presiden Abdurrahman Wahid, mestinya menjadi berkah, bukan sekadar perayaan , saling berucap Gong Xi Fat Cai. Bagi kita ini mestinya inspirasi membangun diri. Kini belajar dari China tak lagi jauh seperti dulu, seperti sering kita dengar dari para ulama.***
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved