Masela

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
06/2/2016 00:17
Masela
(ANTARA/Widodo S Jusuf)

RAPAT kabinet terbatas, Selasa (2/2), berlangsung hangat. Presiden Joko Widodo senang ada perdebatan tentang pengelolaan Blok Masela di Laut Arafura. Namun, Presiden belum mengambil keputusan apakah pengelolaan gas alam cair dilakukan di darat atau di laut. Semua akan ditentukan setelah ia mendengar hasil kajian tim independen.

Siapa sebenarnya pemenang dari perdebatan yang tidak pernah berujung ini? Pemenang sesungguhnya ialah kontraktor production sharing (KPS) yang menjadi pengelola lapangan gas Abadi, yaitu Inpex (Jepang) dan Shell (Belanda). Mengapa? Karena bisnis LNG lebih ditentukan pasar. Pengelola lapangan gas harus mendapat jaminan ada pasar yang menyerap produksi mereka. Kalau eksploitasi dilakukan sebelum ada pasar, mereka akan dipermainkan pembeli.

Kita pernah punya pengalaman itu ketika mengeksploitasi Blok Tangguh. Tiongkok yang semula berminat membeli gas dari Tangguh, membatalkannya dan memutuskan membeli dari Australia. Presiden Megawati Soekarnoputri sampai harus berdansa dengan Presiden Jiang Zemin agar Tiongkok mau membeli gas Tangguh. Itu pun kemudian hanya diberikan untuk memasok kebutuhan Fujian dengan harga yang dianggap terlalu murah.

Inpex pasti senang melihat perdebatan di antara para pejabat Indonesia. Kian lama perdebatan itu berlangsung, kewajiban mereka untuk membangun fasilitas pengolahan LNG bisa ikut mundur. Apalagi Inpex belum membutuhkan gas dari Blok Masela sekarang, melainkan baru pada 2030 untuk memasok pasar Jepang.

Mengapa Inpex baru butuh gas Blok Masela 14 tahun lagi? Karena mereka baru mendapatkan pasokan LNG dari Darwin, Australia. Pertengahan 2016, proyek mereka di Darwin akan berproduksi dengan volume 8,4 juta ton per tahun. Sebenarnya Inpex sudah mendapat izin mengeksplorasi Blok Masela pada 1998. Eksplorasi yang mereka lakukan dua tahun kemudian menemukan lapangan gas Abadi. Eksplorasi lanjutan pada 2002 dan 2007-2008 memastikan adanya cadangan yang besar. Pada Desember 2010 sebetulnya pemerintah Indonesia sudah menyetujui eksploitasi menggunakan model pengelolaan LNG terapung dengan produksi 2,5 juta ton per tahun.

Kalau saja kita konsisten menjalankan keputusan, seharusnya Blok Masela sudah bisa kita nikmati sekarang. Pembangunan fasilitas LNG membutuhkan waktu 5 hingga 7 tahun. Seperti proyek Inpex di Darwin baru diputuskan pada 2011 dan pertengahan tahun ini sudah berproduksi. Apalagi kemudian terbukti cadangan gas di Blok Masela lebih besar dan produksinya bisa ditingkatkan menjadi 7,5 juta ton per tahun.

Eksploitasi gas di Darwin membawa manfaat ekonomi kepada Australia minimal US$3,5 miliar per tahun. Jumlah tenaga kerja yang bisa diserap dalam pembangunan proyek sekitar 2.700 orang dan ketika beroperasi dibutuhkan sekitar 300 karyawan. Kita ketinggalan kereta karena semangat yang dibawa pejabat hanya kompetisi. Padahal, semangat berkompetisi seharusnya dibawa ketika bersaing dengan bangsa lain. Ke dalam seharusnya kooperasi.

Kita tidak tahu perdebatan sekarang ini murni karena faktor nasionalisme atau ada kepentingan pihak lain. Yang pasti perdebatan ini sebenarnya sudah selesai pada 2010, tetapi dihidupkan lagi enam tahun kemudian. Tidak mengherankan bila kita dulu 350 tahun dijajah Belanda dan 3,5 tahun dijajah Jepang karena kita terlalu mudah diadu domba.

Revolusi mental sepertinya tidak perlu dilakukan jauh-jauh. Presiden harus memulainya dari rumah sendiri.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.