Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah kabupaten di sebuah pulau, seorang kepala daerah punya kebijakan populis. Ia dekat dengan rakyat. Telepon selulernya tak pernah berhenti berdering saban hari. “Dari rakyat yang rindu,” katanya. Warga kerap mengerubutinya jika ia hadir di sebuah tempat, untuk sekadar melihat wajah dan mencium tangan pemimpinnya.
Ia punya tiga filosofi yang membimbing hidupnya. Pertama, filosofi lebah. Menghasilkan madu (manfaat) bagi rakyat. Pemimpin harus berada di tengah rakyatnya, tak boleh berjarak. Jarak bisa berubah jadi prasangka. Ia ibarat ilalang kering, mudah terbakar. Kedua, filosofi batu karang. Biar dihantam musuh dari delapan penjuru angin, ia kukuh belaka. Sebagai petahana, ia terpilih kembali dengan perolehan suara tinggi. Ketiga, filosofi lilin. Ia menerangi mereka yang dikepung kegelapan meski tubuhnya meleleh.
Ia Syaukani HR. Waktu itu menjabat Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tiga filosofinya luruh. Dugaan, sangkaan, dakwaan, dan vonis mengantarkannnya sebagai narapidana korupsi. Lebah itu tak lagi dikerumuni. Batu karang itu remuk redam. Lilin itu padam, tubuhnya lumer, tak ada lagi sisa nyala api.
Di lain daerah, lain pulau, seorang kepala daerah juga menjadi karang hancur. Padahal, ihwal hidupnya penuh inspirasi. Ia yang tumbuh dari keluarga papa menempa diri menjadi saudagar ketika muda usia. Suara mengajinya yang memukau dan kerja kerasnya dalam berwirausaha menjadikan ia serupa model ideal anak muda di daerahnya. Namanya membubung. Ia masuk politik mencoba peruntungan calon bupati. Ia sukses menjadi bupati. Daerahnya pun naik kelas melompati beberapa tingkatan.
Reputasinya yang berkilau menjadi tiket meraih peruntungan berikutnya. Ia jadi gubernur termuda waktu itu. Ia umumkan Visi Riau 2020 sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Semboyan ‘Esa hilang dua terbilang, takkan Melayu hilang di bumi’ digemakan kembali. Korupsi mengantarkannya ke bui. Ia Rusli Zainal, Gubernur Riau.
Di pulau lain lagi, cerita serupa terjadi. Kita pun tak percaya. Seorang bupati yang amat cemerlang masuk bui. Ada banyak yang menitikkan air mata. Ia pengusaha yang jadi pemimpin penuh visi, perintis rupa-rupa inovasi, antara lain pembuatan KTP tercepat (3 menit), pusat pelayanan terpadu, sistem daring hinggga ke desa-desa, pengembangan padi organik hingga menembus ekspor Timur Tengah. Peraih enam kali Adipura, penerima aneka penghargaan dari dalam dan luar negeri. Pusat pun menganjurkan para kepala daerah belajar darinya. Ia Untung Wiyono, Bupati Sragen (2001-2011), Jateng.
Masih ada cerita serupa itu. Mereka yang gigih merintis hidup lewat jalan terjal, menundukkannya, jadi inspirasi, menggenggam kekuasaan, lalu terjerembap. Mereka bisa beramsal dengan filosofi apa saja: lebah, lilin, karang, pohon kelapa, matahari, bintang, dan seterusnya. Mereka memang pernah jadi ‘bintang’ pada masanya.
Kini juga muncul beberapa pemimpin daerah penuh inspirasi. Mereka ‘bintang’ harapan. Namun, ingat, kekuasaan itu ‘memabukkan’ kata Al-Ghazali. Lord Acton menguatkan, “Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang absolut pasti korup absolut.” Saya kira, belajar dari para ‘bintang’ yang tumbang, khususnya KPK yang akan fokus pada pencegahan, amat penting menjaga mereka agar kekuasaan tetap menyehatkan sebab bermanfaat bagi umat. Juga Ombudsman, yang aksi-aksinya belum punya fibrasi, harus lebih berani mengawasi birokrasi di segala lini. Kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, meski indeks persepsi korupsi Indonesia 2015 membaik, reformasi birokrasi belum menyentuh substansi. Itu juga sebuah upaya ‘menjaga bintang’. Terlalu sayang potensi mereka hilang, bahkan tak layak untuk dikenang.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved