Bangsa Pembelajar

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
03/2/2016 05:00
Bangsa Pembelajar
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) menghadiri 'groundbreaking' pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Cikalong Wetan, Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (21/1).(ANTARA/Hafidz Mubarak A.)

DI perkebunan Walini, Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti tanda dimulainya pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta. Dari Walini, Presiden menyampaikan bangsa yang akan menjadi pemenang dalam era kompetisi ialah mereka yang bisa mengambil keputusan cepat dan melaksanakan pembangunan secara cepat.

Kita tidak menutup mata bahwa kita hidup di era serbacepat. Hanya, untuk menjadi pemenang kita harus ditopang manusia-manusia berkualitas. Kita tak boleh berhenti menempa bangsa ini menjadi bangsa pembelajar. Kita harus menjadi negara produsen, bukan hanya konsumen.

Dalam pembangunan kereta cepat, kita jangan sekadar menjadi konsumen. Kita hanya bangga menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kereta cepat, tetapi tidak ada nilai tambah yang bisa kita petik dari keberadaan kereta cepat itu.

Untuk itu, bangsa Indonesia harus dipacu untuk menguasai teknologi. Perguruan-perguruan tinggi harus dipaksa mempelajari teknologi agar bisa memancing para mahasiswa mendalami dan menguasai teknologi. Dengan itulah, kita berharap suatu saat menjadi negara produsen. Kita masih ingat pada 1960-an ketika kita pertama kali membangun pabrik semen di Gresik. Saat itu, kita bersama-sama India memulai industrialisasi. Hanya, demi mengejar kecepatan kita memilih cara turn-key project, sedangkan India memilih ikut terlibat dalam proses pembangunannya.

Memang, kita kemudian mampu lebih cepat memiliki pabrik semen ketimbang India. Namun, India memperoleh pelajaran berharga dari proses pembangunan pabrik semen sehingga pabrik kedua dan ketiga bisa dibangun sendiri oleh bangsa India. Kita bertahun-tahun bergantung pada negara lain dan terpaksa membeli lagi teknologi negara lain ketika hendak membangun pabrik semen berikutnya.

Kita tentu harus menarik pelajaran dari kesalahan masa lalu. Kita harus menjadi bangsa pembelajar karena dengan itulah, kita akan bisa menjadi bangsa besar. Tidak ada yang salah kita memulai jalan dengan meniru. Jepang, Korea, dan Tiongkok bisa menguasai teknologi tinggi dimulai dengan meniru. Tetapi kemudian melanjutkan dengan mendalami dan juga mengembangkan produk yang mereka tiru itu.

Kereta cepat yang kita beli dari Tiongkok bukanlah murni penemuan mereka. Kalau kita lihat sejarahnya, mimpi pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping untuk memiliki kereta cepat baru coba direalisasikan di zaman Presiden Jiang Zemin. Perdana Menteri Zhu Rongji meminta produsen kereta cepat dari Jerman, Jepang, dan Prancis untuk mempresentasikan teknologi mereka. Ternyata Tiongkok kemudian memilih untuk membuat sendiri dengan memadukan teknologi yang dibeli dari Alstom, Prancis, Siemens, Jerman, Bombardier, Kanada, dan Kawasaki Heavy Industries, Jepang.

Pertanyaannya, apakah kita bisa secerdik Tiongkok dalam soal kereta cepat? Itulah yang harus jujur kita jawab. Apakah pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta merupakan mimpi sesaat atau sejak lama? Apa strategi yang disiapkan agar kita bisa menguasai teknologinya dan menjadi produsen kereta cepat? Sudahkah kita siapkan orang-orang untuk menguasai teknologi?

Era serbacepat tidak cukup ditandai keputusan cepat, tetapi juga harus disertai kecerdikan agar kita tidak terbawa arus. Kelak sejarah akan membuktikan, apakah kita mampu mentransformasikan diri menjadi bangsa pembelajar atau sebaliknya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima