Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

DI perkebunan Walini, Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti tanda dimulainya pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta. Dari Walini, Presiden menyampaikan bangsa yang akan menjadi pemenang dalam era kompetisi ialah mereka yang bisa mengambil keputusan cepat dan melaksanakan pembangunan secara cepat.
Kita tidak menutup mata bahwa kita hidup di era serbacepat. Hanya, untuk menjadi pemenang kita harus ditopang manusia-manusia berkualitas. Kita tak boleh berhenti menempa bangsa ini menjadi bangsa pembelajar. Kita harus menjadi negara produsen, bukan hanya konsumen.
Dalam pembangunan kereta cepat, kita jangan sekadar menjadi konsumen. Kita hanya bangga menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kereta cepat, tetapi tidak ada nilai tambah yang bisa kita petik dari keberadaan kereta cepat itu.
Untuk itu, bangsa Indonesia harus dipacu untuk menguasai teknologi. Perguruan-perguruan tinggi harus dipaksa mempelajari teknologi agar bisa memancing para mahasiswa mendalami dan menguasai teknologi. Dengan itulah, kita berharap suatu saat menjadi negara produsen. Kita masih ingat pada 1960-an ketika kita pertama kali membangun pabrik semen di Gresik. Saat itu, kita bersama-sama India memulai industrialisasi. Hanya, demi mengejar kecepatan kita memilih cara turn-key project, sedangkan India memilih ikut terlibat dalam proses pembangunannya.
Memang, kita kemudian mampu lebih cepat memiliki pabrik semen ketimbang India. Namun, India memperoleh pelajaran berharga dari proses pembangunan pabrik semen sehingga pabrik kedua dan ketiga bisa dibangun sendiri oleh bangsa India. Kita bertahun-tahun bergantung pada negara lain dan terpaksa membeli lagi teknologi negara lain ketika hendak membangun pabrik semen berikutnya.
Kita tentu harus menarik pelajaran dari kesalahan masa lalu. Kita harus menjadi bangsa pembelajar karena dengan itulah, kita akan bisa menjadi bangsa besar. Tidak ada yang salah kita memulai jalan dengan meniru. Jepang, Korea, dan Tiongkok bisa menguasai teknologi tinggi dimulai dengan meniru. Tetapi kemudian melanjutkan dengan mendalami dan juga mengembangkan produk yang mereka tiru itu.
Kereta cepat yang kita beli dari Tiongkok bukanlah murni penemuan mereka. Kalau kita lihat sejarahnya, mimpi pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping untuk memiliki kereta cepat baru coba direalisasikan di zaman Presiden Jiang Zemin. Perdana Menteri Zhu Rongji meminta produsen kereta cepat dari Jerman, Jepang, dan Prancis untuk mempresentasikan teknologi mereka. Ternyata Tiongkok kemudian memilih untuk membuat sendiri dengan memadukan teknologi yang dibeli dari Alstom, Prancis, Siemens, Jerman, Bombardier, Kanada, dan Kawasaki Heavy Industries, Jepang.
Pertanyaannya, apakah kita bisa secerdik Tiongkok dalam soal kereta cepat? Itulah yang harus jujur kita jawab. Apakah pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta merupakan mimpi sesaat atau sejak lama? Apa strategi yang disiapkan agar kita bisa menguasai teknologinya dan menjadi produsen kereta cepat? Sudahkah kita siapkan orang-orang untuk menguasai teknologi?
Era serbacepat tidak cukup ditandai keputusan cepat, tetapi juga harus disertai kecerdikan agar kita tidak terbawa arus. Kelak sejarah akan membuktikan, apakah kita mampu mentransformasikan diri menjadi bangsa pembelajar atau sebaliknya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved