Pelajaran

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
02/2/2016 00:15
Pelajaran
(SETPRES/AGUS SUPARTO)

PELAJARAN itu bernama Muhammad Kusrin. Pelajaran bahwa kreativitas dan semangat kewirausahaan lelaki yang hanya tamat sekolah dasar itu bukannya difasilitasi, tapi justru dipenjara.

Pelajaran bahwa negara alpa--mungkin sengaja--tak 'membina' warganya yang pantang menyerah.

Untunglah lelaki berbadan kecil ini tak bermental kerdil.

Kisah hidupnya yang pedih sejak kanak-kanak dan mampu ditaklukannya menjadikan Kusrin mempunyai harga.

Itu sebabnya, ketika bekas kuli bangunan ini bersama sang istri, Siti Aminah, diterima Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Senin (25/1), saya gembira.

Akan tetapi, segera pula membayang ketika ia digelandang polisi, Mei tahun lalu, dan lebih dari 100 televisi rakitannya dimusnahkan.

Padahal, televisi hasil daur ulang dari tabung-tabung komputer dan televisi bekas itulah napas hidupnya.

Juga napas hidup puluhan karyawannya.

Saya membayangkan pula ketika palu hakim berdentam.

Ia dinyatakan melanggar konstitusi yang mengatur industri dan regulasi soal Standar Nasional Indonesia (SNI).

Hukum yang angkuh. Benar tak pandang bulu, tetapi alpa tak menyelisik ihwal usaha kecil yang dibangun dengan semangat kewirausahaan yang tinggi.

Justru kenapa negara, pemerintah setempat, tak hadir membina? Negara justru hadir untuk memenjara.

"Saya sebenarnya sudah berupaya mencari-cari informasi, tapi tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan label SNI," kata Kusrin bercerita.

Ketika itu di bawah bendera UD Haris Elektronika, produksi televisi rakitan Kusrin mencapai 100 unit setiap hari.

Dengan jumlah karyawan 30 orang, produknya tak hanya ada di kabupatennya, Karanganyar, Jawa Tengah, tetapi telah melebar ke Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.

Wajar jika kepedihannya begitu dalam. Tiga tahun sebelumnya, usahanya juga nyaris jatuh karena ada penggelapan dari bagian pemasaran.

Setelah kasus itu, seperti diakui sang istri, setiap melihat orang yang tak dikenalnya jadi trauma.

Kita mafhum, meski pasar televisi rakitan Kusrin sudah menyebar di beberapa kota di Jawa Tengah, lelaki dari Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, ini pastilah tak mudah menghimpun kembali semangatnya.

"Istri sayalah yang selalu menguatkan saya," kata lelaki kelahiran 36 tahun silam itu.

Tentu saja, kini Kusrin telah memegang label SNI.

Televisi merek Maxreen yang diambil dari nama dirinya, Mas Kusrin, juga Zener dan Veloz, dinilai Menteri Perindustrian Saleh Husin punya mutu tinggi, tak kalah dengan merek lain.

Bahkan, ia siap memproduksi televisi yang lebih canggih jika pasar memintanya.

Akan tetapi, pasarnya tak bertabrakan dengan televisi pabrikan.

Harga jualnya per unit Rp400 ribu-Rp500 ribu. Jerih payah Kusrin akhirnya terlihat dan bahkan diapresiasi Kepala Negara.

Pemerintah akan segera membantu mengurus patennya.

Presiden secara pribadi juga memberi bantuan materiil. Bantuan Presiden tentu pantas diterima Kusrin.

Namun, tak boleh lagi ada potensi kreatif seperti Kusrin harus dikenal pucuk pimpinan negara karena penjara.

Bagaimana jika Kusrin menyerah?

Negara tak hanya kehilangan seorang yang punya potensi, tapi juga kehilangan 'sumber' yang bisa mengins-pirasi ribuan, bahkan jutaan orang.

Sekali lagi, Kusrin adalah sebuah pelajaran, bahwa negara tak boleh lagi hanya duduk manis menunggu bola, menunggu laporan.

Bola ada di lapangan.

Kita percaya masih banyak orang seperti Kusrin, yang terus 'menyalakan lilin' untuk menerangi negeri ini.

Cukuplah pelajaran itu dipikul oleh Kusrin.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima