PMK

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
30/1/2016 01:02
PMK
(Setpres/Rusman)

AKHIR tahun lalu, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Sumatra Barat dan menyempatkan diri melihat sapi jenis simmental yang dikembangbiakkan di Balai Pembibitan Ternak Unggul di Payakumbuh.

Presiden kagum melihat sapi bibit yang jumlahnya sekitar 1.200 ekor dan diternakkan di padang rumput seluas 720 hektare itu.

Sapi-sapi tersebut menjadi modal meningkatkan produktivitas sapi potong di peternak.

Dengan kawin silang menggunakan inseminasi buatan, sapi-sapi lokal kita akan memiliki bobot badan lebih berat.

Saat ini kita masih kekurangan sapi potong.

Untuk itulah kita terpaksa mengimpor daging dari Australia dan Selandia Baru guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebenarnya kita bisa memenuhi kebutuhan daging dalam negeri apabila dilakukan program pengembangan sapi potong.

Dalam seminar nasional Restorasi Kebijakan Ekonomi di Surabaya, Kamis (28/1), Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyampaikan petani di daerahnya masih bisa meningkatkan produksi lebih dari 22% seperti yang dipasok sekarang.

Kuncinya terletak pada izin menggunakan lahan yang belum dioptimalkan.

Soekarwo mengambil contoh tanah milik Angkatan Laut di Grati.

Kalau saja tanah itu bisa dikerjasamakan dengan pemerintah provinsi dan swasta untuk pengembangan sapi potong, bukan mustahil kita bisa memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.

Hanya, semua itu butuh waktu.

Yang diperlukan ialah rencana kerja untuk mencapai kemandirian daging sapi.

Setelah itu kita harus konsisten menjalankannya.

Peternak Indonesia merupakan sosok yang kreatif dan mampu mengembangkan usaha apabila diberi kesempatan.

Persoalan pada kita, sering semua maunya terjadi dengan seketika.

Ketidaksabaran itulah yang membuat kita melompat dalam mengambil konklusi.

Kita merasa tidak pernah mampu swasembada daging dan putusannya kemudian membuka keran impor.

Paket Deregulasi IX yang dikeluarkan Rabu lalu bahkan mengambil keputusan lebih ekstrem.

Oleh karena pasokan daging selama ini hanya dari Australia dan Selandia Baru, kita merasa harganya dipermainkan kedua negara tersebut.

Untuk mengurangi ketergantungan, kita memutuskan membuka dari negara lain seperti India dan Brasil.

Sebenarnya impor yang dibatasi dari Australia dan Selandia Baru bukan tidak ada alasannya.

Dua negara itulah yang benar-benar terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK).

Sementara itu, di kawasan ASEAN, kita satu-satunya negara yang terbebas dari penyakit yang sangat menurunkan produktivitas sapi.

Perjuangan membebaskan diri dari PMK tidak mudah.

Kita butuh waktu 100 tahun untuk mengeradikasi PMK sejak penyakit itu pertama muncul di Malang pada 1887. Biaya yang kita keluarkan untuk bebas PMK amat mahal.

Pemerintah hendaknya tidak menggampangkan mengubah aturan dari basis negara menjadi zona.

Persyaratan yang harus dilalui sangat berat.

Pertama, para ahli kita harus bisa memastikan bahwa zona di sebuah negara importir benar-benar terbebas dari PMK.

Kedua, sapi-sapi yang dimpor dari sana harus dimasukkan ke karantina dan itu harus di sebuah pulau khusus.

Kalau kita sekadar melihat impor daging dari India lebih murah, kita akan membayar mahal dari sisi akibat apabila dua persyaratan itu tidak dipenuhi.

Presiden tidak akan lagi melihat simmental yang gemuk seperti di Payakumbuh apabila wabah PMK merebak lagi di Indonesia.

Penting bagi para pemimpin untuk berpikir dulu pendapatan, karena sesal kemudian tidak berguna.

Lebih baik kita berpikir jangka panjang mengembangkan peternakan sapi potong daripada sekadar mengimpor hanya karena takut inflasi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima