PLN Jilid II

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
23/1/2016 00:50
PLN Jilid II
(ANTARA/Umarul Faruq)

TAHUKAH kapasitas terpasang pembangkit listrik yang kita miliki sepanjang 70 tahun merdeka?

Total daya yang kita miliki sekitar 47 gigawatt.

Rata-rata, tiap tahun kita hanya mampu membangun sekitar 670 Mw.

Jumlah itu tentu sangat tidak memadai untuk negara dengan penduduk 250 juta jiwa. Apalagi, tingkat pertumbuhan permintaan sekitar 8,8%.

Tidak usah heran apabila konsumsi listrik per kapita kita hanya 0,8 Mwh, lebih rendah daripada Vietnam dan Thailand.

Itu pun hanya 84% warga kita yang menikmati listrik.

Masalah makin parah oleh terbatasnya jaringan transmisi.

Sebanyak 40% listrik di Jawa Timur, misalnya, tidak bisa termanfaatkan karena ketiadaan jaringan transmisi.

Padahal, kapasitas listrik di Jatim mencapai 9 ribu Mw. Itu pemborosan luar biasa.

Atas dasar itulah, rencana pembangunan pembangkit listrik 42 Gw dalam 5 tahun ke depan dikatakan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir tidak ubahnya seperti membangun PLN kedua.

Itu merupakan pekerjaan raksasa karena kita akan melompat dari kemampuan membangun pembangkit listrik rata-rata 670 Mw menjadi rata-rata 8 ribu Mw.

Lebih dari 10 kali lipat per tahun.

Belum lagi jaringan transmisi yang harus dibangun minimal 9 ribu kilometer per tahun.

Total investasi yang dibutuhkan sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.000 triliun.

Dari rencana itu, PLN membangun 10 Gw, sisanya diserahkan kepada swasta.

Memang sempat muncul pertanyaan tentang perlunya kita membangun pembangkit listrik sebesar itu.

Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli sempat menuduh rencana itu sebagai rekayasa orang yang berbisnis di industri kelistrikan dan hanya akan membebani PLN.

Namun, Dirut PLN mengatakan jumlah itu merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi karena negara mempunyai kewajiban memenuhi target elektrifikasi 94% pada 2019.

Dengan jumlah tambahan kapasitas seperti itu pun, konsumsi listrik per kapita bangsa Indonesia tetap pada angka 0,8 Mwh.

Kini pekerjaan rumah kita tidak memperdebatkan target pembangunan pembangkit listrik, tetapi bagaimana memecahkan berbagai kendala.

Persoalannya sangat beragam, mulai dari teknologi, pilihan energi, pendanaan, ketersediaan lahan, dukungan masyarakat, sampai soal hukum.

Sofyan Basir mencontohkan persoalan hukum terkait dengan pembebasan lahan.

Ada tiga titik di Jawa Tengah yang harus dilewati untuk membangun menara tranmisi.

Masyarakat menolak jika harga pembebasan lahan berdasarkan nilai jual objek pajak.

Kalau tak dipenuhi, jaringan transmisi tidak akan terbangun dan listrik yang dihasilkan tidak akan bisa dimanfaatkan.

Kalau permintaan warga dipenuhi, pegawai PLN bisa dianggap merugikan keuangan negara.

Lalu, disepakati mengikuti harga permintaan warga dengan disaksikan aparat kepolisian, kejaksaan, dan pengawas keuangan.

Namun, tak lama kemudian pegawai PLN diperkarakan melakukan tindak korupsi.

Sejak kasus itu, tidak ada lagi pegawai PLN yang mau mengambil risiko.

Rencana pembangunan PLN jilid II memang langkah revolusioner. Untuk itu, harus ada keberanian dari bangsa ini untuk melakukan lompatan besar.

Jika tidak, kita akan terus hidup dalam 'kegelapan'. Apalagi, pembangunan itu membutuhkan 301.300 km konduktor aluminium, 2.600 set trafo, dan 3,5 juta ton baja.

Itu merupakan peluang bagi industri dalam negeri.

Tenaga kerja yang akan terserap langsung 650 ribu orang, dan tidak langsung 3 juta orang.

Ini pekerjaan raksasa dari bangsa ini.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima