Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RAPAT Kerja Nasional PDI Perjuangan mengangkat isu pembangunan yang maju-mundur, tak ubahnya tarian Poco-Poco. Salah satu yang dianggap PDIP sebagai penyebabnya ialah tidak adanya garis besar haluan negara. Karena itu, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu menyampaikan gagasan untuk menghidupkan kembali acuan seperti GBHN, agar pembangunan negara bisa berkesinambungan.
Ide itu ternyata tak menggelinding karena dianggap lebih didasarkan kepada romantika sejarah. Amendemen terhadap UUD 1945 tidak memungkinkan dihasilkannya kembali GBHN. Kita sudah tidak mengenal lagi lembaga tertinggi negara, juga presiden sebagai mandataris MPR.
Kita kerap mempersoalkan ketatanegaraan dari sistem semata. Kita melupakan faktor orang yang melaksanakan sistem. Padahal, orang dan sistem merupakan dua sisi dari satu mata uang. Pada era Orde Lama dan Orde Baru, kita bisa menerapkan sistem itu karena memiliki pemimpin kuat.
Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto merupakan pemimpin yang bervisi ke depan. Mereka bisa mengartikulasikan pemikiran kepada tim di bawahnya untuk diterjemahkan dalam program. Konsep itu pun dibawa ke forum legislatif untuk ditetapkan sebagai arah pembangunan negara.
Keduanya bukan saja visioner, melainkan juga bersikap kerja get things done. Presiden Soeharto memperkenalkan konsep pembangunan jangka panjang 25 tahun, bahkan periode keduanya ia sebut sebagai tahap tinggal landas menuju negara industri.
Dengan itulah kita memiliki tahapan pembangunan yang mudah diukur tingkat keberhasilannya. Setiap periode lima tahun menjadi kelanjutan periode berikutnya. Itulah yang membuat dalam 25 tahun pembangunan tahap pertama, kita mampu membangun pertanian dan industri berbasis pertanian. Setelah itu, seharusnya kita memasuki tahap pembangunan jangka panjang kedua yang akan membawa kita membangun industri manufaktur dan menjadikan kita sebagai negara industri.
Sayang rencana pembangunan jangka panjang kedua itu tidak selesai. Ketidaksukaan kita kepada Presiden Soeharto membuat kita antipati kepada semua yang sudah ia lakukan, termasuk rencana pembangunan yang sudah dirumuskan. Setelah reformasi, cara pandang kita menjadi miopik. Rencana pembangunan jangka panjang yang ditetapkan dalam UU lebih menjadi keputusan politik hasil kompromi sesaat. Tidak ada platform nasional buah gagasan hebat para pemikir besar bangsa.
Tak usah heran bila terjemahan rencana pembangunan lima tahun lebih bertumpu pada pemikiran presiden terpilih. Apalagi, lima presiden terpilih setelah reformasi tak secemerlang Bung Karno dan Pak Harto. Mereka juga tak mampu mengartikulasikan pikiran dalam hal yang mudah dipahami rakyat. Selain itu, pemimpin yang terpilih menjadikan pemimpin sebelumnya 'musuh'. Mereka tak mau melanjutkan ide pemimpin sebelumnya karena dianggap hanya membawa platform parpol pengusung. Kalau PDIP serius dengan gagasan menghidupkan GBHN, mereka harus mengajak pemimpin partai lain duduk bersama merumuskan platform nasional.
Indonesia seperti apa yang hendak kita bangun 25 tahun ke depan dan disepakati sebagai pegangan bersama siapa pun presidennya. Lalu, kita kumpulkan putra-putra terbaik agar menerjemahkan platform nasional itu dalam rencana pembangunan jangka panjang. Tanpa itu, kita hanya bernostalgia.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved