GBHN

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
20/1/2016 05:30
GBHN
(MI/Ramdani)

RAPAT Kerja Nasional PDI Perjuangan mengangkat isu pembangunan yang maju-mundur, tak ubahnya tarian Poco-Poco. Salah satu yang dianggap PDIP sebagai penyebabnya ialah tidak adanya garis besar haluan negara. Karena itu, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu menyampaikan gagasan untuk menghidupkan kembali acuan seperti GBHN, agar pembangunan negara bisa berkesinambungan.

Ide itu ternyata tak menggelinding karena dianggap lebih didasarkan kepada romantika sejarah. Amendemen terhadap UUD 1945 tidak memungkinkan dihasilkannya kembali GBHN. Kita sudah tidak mengenal lagi lembaga tertinggi negara, juga presiden sebagai mandataris MPR.

Kita kerap mempersoalkan ketatanegaraan dari sistem semata. Kita melupakan faktor orang yang melaksanakan sistem. Padahal, orang dan sistem merupakan dua sisi dari satu mata uang. Pada era Orde Lama dan Orde Baru, kita bisa menerapkan sistem itu karena memiliki pemimpin kuat.

Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto merupakan pemimpin yang bervisi ke depan. Mereka bisa mengartikulasikan pemikiran kepada tim di bawahnya untuk diterjemahkan dalam program. Konsep itu pun dibawa ke forum legislatif untuk ditetapkan sebagai arah pembangunan negara.

Keduanya bukan saja visioner, melainkan juga bersikap kerja get things done. Presiden Soeharto memperkenalkan konsep pembangunan jangka panjang 25 tahun, bahkan periode keduanya ia sebut sebagai tahap tinggal landas menuju negara industri.

Dengan itulah kita memiliki tahapan pembangunan yang mudah diukur tingkat keberhasilannya. Setiap periode lima tahun menjadi kelanjutan periode berikutnya. Itulah yang membuat dalam 25 tahun pembangunan tahap pertama, kita mampu membangun pertanian dan industri berbasis pertanian. Setelah itu, seharusnya kita memasuki tahap pembangunan jangka panjang kedua yang akan membawa kita membangun industri manufaktur dan menjadikan kita sebagai negara industri.

Sayang rencana pembangunan jangka panjang kedua itu tidak selesai. Ketidaksukaan kita kepada Presiden Soeharto membuat kita antipati kepada semua yang sudah ia lakukan, termasuk rencana pembangunan yang sudah dirumuskan. Setelah reformasi, cara pandang kita menjadi miopik. Rencana pembangunan jangka panjang yang ditetapkan dalam UU lebih menjadi keputusan politik hasil kompromi sesaat. Tidak ada platform nasional buah gagasan hebat para pemikir besar bangsa.

Tak usah heran bila terjemahan rencana pembangunan lima tahun lebih bertumpu pada pemikiran presiden terpilih. Apalagi, lima presiden terpilih setelah reformasi tak secemerlang Bung Karno dan Pak Harto. Mereka juga tak mampu mengartikulasikan pikiran dalam hal yang mudah dipahami rakyat. Selain itu, pemimpin yang terpilih menjadikan pemimpin sebelumnya 'musuh'. Mereka tak mau melanjutkan ide pemimpin sebelumnya karena dianggap hanya membawa platform parpol pengusung. Kalau PDIP serius dengan gagasan menghidupkan GBHN, mereka harus mengajak pemimpin partai lain duduk bersama merumuskan platform nasional.

Indonesia seperti apa yang hendak kita bangun 25 tahun ke depan dan disepakati sebagai pegangan bersama siapa pun presidennya. Lalu, kita kumpulkan putra-putra terbaik agar menerjemahkan platform nasional itu dalam rencana pembangunan jangka panjang. Tanpa itu, kita hanya bernostalgia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima