Hukum yang Menyadarkan

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
19/1/2016 04:30
Hukum yang Menyadarkan
(MI/M Irfan)

ALI Fauzi, sang bekas teroris, bercerita tentang kemakmuran hidupnya dulu. Adik kandung Amrozi dan Mukhlas, bomber Bali 1, itu mengaku saat aktif jadi teroris kondisi keuangannya berkecukupan. Tabungannya menggelembung hingga miliaran rupiah. Ia bebas menggunakannya tanpa harus membuat laporan pertanggungjawaban. Namun, seperti umumnya pelaku durjana, hidupnya tak tenang. Ia dikepung ketakutan bertumpuk-tumpuk. Energinya terkuras untuk mengubur rasa bersalah.

"Dulu saya enggak tenang, ke sana-kemari dibuntuti. Masuk ke Indonesia takut ditangkap. Beda dengan sekarang. Saya gemuk karena sudah tenang. Saya fokus ke keluarga dan aktif di masyarakat," katanya dalam sebuah dialog pencegahan terorisme di kalangan pendidik, di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, November tahun lalu.

Trio pelaku bom Bali I (Oktober 2002), Amrozi, Mukhlas, Imam Samudra, yang menewaskan 202 orang dan melukai 209 dieksekusi mati di Bukit Nirbaya, Nusa Kambangan, enam tahun kemudian. Meski uang melimpah, Ali Fauzi, sang instruktur bom Jamaah Islamiyah, menyatakan undur dari organisasi penebar ketakutan itu. Nasihat Ali Imron (salah satu kakaknya), perlakuan manusiawi polisi dan Kementerian Agama, dan jatuhnya banyak korban meluruhkan keyakinan jihad yang keliru itu. "Para teroris itu melakukan bom bukan ingin melihat berapa jumlah orang yang mati, melainkan ingin lihat Indonesia hancur," kata Ali yang kini duta perdamaian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Ali Fauzi benar. Bom-bom selanjutnya memang membuat wajah Indonesia babak belur meski tak hancur. Akan tetapi, teror di Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis pekan silam, yang amatiran itu, alih-alih membuat kita takut, bahkan menjadi olok-olok. Selain mudah dilumpuhkan polisi dan TNI, warga Jakarta melawan dengan aneka cara. Tagar #KamitidakTakut di media sosial jelas yang paling lugas dan menantang. Aneka olok-olok yang lucu lewat meme bisa jadi ekspresi sikap santai warga Jakarta. Namun, bisa jadi benar, keberanian juga bisa muncul dari rasa takut. Rasa takut yang mengental justru bukti tujuan teror berhasil.

Jangan lupa, bom Thamrin juga sebuah penanda. Sebuah 'maklumat' bahwa jaringan Islamic States di Asia Tenggara ada dan beraktivitas. Bahkan, ada yang mengingatkan kita jangan terlena. Jangan kelewat mengolok-olok dan lupa antisipasi bahaya yang berpotensi membuat kita binasa. Jangan-jangan 'gaya amatiran' itu bagian dari strategi. IS yang rapi organisasinya, amat ketat menerima calon anggota, dan mampu menggaji tinggi para 'mujahid'-nya pasti tak mau merugi.

Fakta itu jelas. IS, yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi, seperti tengah menjadi 'demam' dunia. Propaganda mereka lewat sedikitnya 2.700 situs web mampu memikat banyak peminat. Sejak didirikan pada 2013, sedikitnya kini organisasi penebar ketakutan itu mempunyai 22 ribu anggota dari berbagai negara. IS menawarkan kembali gagasan kejayaan Islam untuk meneguhkan khilafah islamiah. Iming-iming 'surga' plus gaji tinggi pastilah jadi magnet yang amat kuat. Mereka yang beragama dan berbangsa dengan jalur sempit, serupa tumbu (bakul besar) ketemu tutup, klop.

Hukum, undang-undang, rumah penjara, ceramah-ceramah agama, deradikalisasi, distribusi ekonomi berkeadilan, dan pendidikan berkualitas mestinya jadi jalan sempit bagi para teroris dan simpatisan mereka melakukan aksi kembali. Jika benar para mantan narapidana teroris, seperti Bahrun Naim, justru jadi kian punya perbawa dalam jaringan perbuatan durjana, hukum dan penjara di negeri ini terbukti tak menjerakan. Ia justru mengukuhkan. Mestinya itu tak boleh terjadi. Negara harus lebih banyak lagi menjadikan mereka mengikuti jejak Ali Fauzi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.