Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI terorisme kerap kita nujum, tapi kapan dan di mana lokus persisnya, itu yang terus jadi 'rahasia'. Itu sebabnya, ketika para pelaku bunuh diri menggelar 'konser' -- istilah mereka, yang menurut rencana akan digelar akhir tahun-- di seputar Sarinah, Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin siang, kita terkejut. Padahal, kita tahu sepanjang tahun silam, Datasemen Khusus 88 Antiteror, sedikitnya telah menangkap 74 terduga teroris, 65 di antaranya menjadi tersangka.
Penagkapan itu maknanya jelas, aktivitas kelompok radikal penebar teror di Indonesia meningkat. Polisi juga telah meminta masyarakat waspada dan mendukung aparat memerangi kelompok radikal. Namun, kapan dan di mana 'panggung konser' bakal digelar, sungguh tak ternujum. Mereka punya hitung-hitungan waktu dan tempat terbaik.
Para tokoh seperti Syafii Maarif, Said Agil Siradj, Azyumardi Azra, telah pula berkali-kali mengutuk dan meminta masyarakat tak tergoda dengan ajakan mereka. Teroris, kata Syafii, ialah musuh kemanusiaan dan peradaban, agama yang mereka pahami juga sesat. Akan tetapi, para penebar kekerasan tak pernah peduli pada lebelisasi apa pun; pada kutukan apa pun.
Mereka hanya peduli pada satu hal: melaksanakan perinta 'sang amir' yang menurut mereka mulia, tapi menurut akal sehat kita itu terkutuk, yakni menebar ketakutan seluas-luasnya. Mati, yang mereka imani, adalah jalan terbaik. Ia seperti para gladiator yang siap mati dalam duel terbuka dan berucap salam memuliakan Caesar. "Ave Caesar, morituri te solutant." (Salam untuk yang mulia dari kami yang segera akan mati). Kematian sebagai jalan mulia!
Bukan kali ini saja bom meneror Jakarta. Beberapa kali di tahun-tahun silam, Ibu Kota, menjadi pilihan mereka menggelar konser kekerasan. Akan tetapi, tetaplah tak percaya ketika Jalan Thamrin, yang tak jauh dari Istana Negara, dipilih jadi lokus kekerasan. Di era ini, ketika gadget selalu ada dalam genggaman, segeralah gambar pelaku tersebar di media sosial dan media massa. Dengan penampilan casual: berjins, berkaos, bersepatu keats, bertopi, menggendong ransel, berbaur dengan masyarakat, lalu menembak polisi dari jarak dekat, dan kemudian meledakkan diri, semuanya dalam gadget kita. Untuk sementara, kata polisi, ISIS (Islamic State of Irak and Syiria) diduga berada di balik serangan yang newaskan tujuh dan melukai 15 orang.
Sosok seperti Sidney Jones, Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik, boleh saja beranalisis ISIS tak bakal eksis di Indonesia, karena Islam tak jadi minoritas yang tertekan dan demokrasi berjalan baik, tapi itu bukan pegangan mati. Bahwa "Indonesia tidak memiliki pemerintahan yang represif, tidah sedang dijajah, kondisi politik yang stabil, dan muslim di sana (Indonesia) bukan minoritas yang teraniaya," kata Jones, memang betul. Namun, Indonesia dengan 250 juta penduduk pastilah target penting di Asia Tenggara.
Kekerasan selalu punya wajahnya yang tak terprediksi. ISIS tengah menjadi magnit baru mereka yang hobi berpetualang lewat jalan kekerasan. Bisa jadi mereka dari kalangan agama yang mengalami diisorientasi iman, plus kemiskinan yang memilin-milin, maka berjodohlah ia. Maka, keadilan dan kesejahteraan masyarakat, menjadi kunci terbaik mengatasi radikalisme ini.
Saya setuju Presiden Joko Widodo yang menegaskan, negara dan bangsa tak boleh kalah oleh aksi teror. Ia mengutuk aksi kekerasan yang biadab itu. Inilah afirmasi negara yang jelas maknanya. Terlalu sayang bangsa ini kehilangan nyali dan keyakinan diri terhadap segelintir orang yang merobek-robek ketenteraman hidup bersama. Tentu saja kewajiban negara pula membimbing mereka untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya.
Sepanjang tahun lalu kita menyaksikan banyak negara jadi sasaran kekerasan, seperti Prancis, Mesir, Tunisia, Turki, dan hari ini negeri kami tercinta mengalami mimpi buruk itu. Menurut Ketua PB NU Said Aqil Siradj, ada 800 orang Indonesia yang ikut berperang di Suriah. Jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit meski jika diprosentasi penduduk yang 250 juta jiwa, termasuk kecil. Mereka telah mendapat pengalaman lapangan yang nyata. Jalan terbaik tentu menyadarkan mereka agar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Aqil Siradj, berkali-kali mengingatkan kita akan tiga konsep ukhuwah (persaudaraan). Ketiga itu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Ia meminta persaudaraan bangsa dan persaudaraan umat manusia didahulukan. Alasannya jelas, tanpa negara, bagaimana umat Islam bisa melakukan aktivitas keagamaan dengan tenang dan aman tanpa negara? Dan, konser kekerasan awal tahun, mestinya menguatkan tekad itu. ***
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved