Konser Awal Tahun

15/1/2016 07:24
Konser Awal Tahun
Polisi menyisir area di kawasan pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1).(MI/Ramdani)

AKSI terorisme kerap kita nujum, tapi kapan dan di mana lokus persisnya, itu yang terus jadi 'rahasia'. Itu sebabnya, ketika para pelaku bunuh diri menggelar 'konser' -- istilah mereka, yang menurut rencana akan digelar akhir tahun-- di seputar Sarinah, Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin siang, kita terkejut. Padahal, kita tahu sepanjang tahun silam, Datasemen Khusus 88 Antiteror, sedikitnya telah menangkap 74 terduga teroris, 65 di antaranya menjadi tersangka.

Penagkapan itu maknanya jelas, aktivitas kelompok radikal penebar teror di Indonesia meningkat. Polisi juga telah meminta masyarakat waspada dan mendukung aparat memerangi kelompok radikal. Namun, kapan dan di mana 'panggung konser' bakal digelar, sungguh tak ternujum. Mereka punya hitung-hitungan waktu dan tempat terbaik.

Para tokoh seperti Syafii Maarif, Said Agil Siradj, Azyumardi Azra, telah pula berkali-kali mengutuk dan meminta masyarakat tak tergoda dengan ajakan mereka. Teroris, kata Syafii, ialah musuh kemanusiaan dan peradaban, agama yang mereka pahami juga sesat. Akan tetapi, para penebar kekerasan tak pernah peduli pada lebelisasi apa pun; pada kutukan apa pun.

Mereka hanya peduli pada satu hal: melaksanakan perinta 'sang amir' yang menurut mereka mulia, tapi menurut akal sehat kita itu terkutuk, yakni menebar ketakutan seluas-luasnya. Mati, yang mereka imani, adalah jalan terbaik. Ia seperti para gladiator yang siap mati dalam duel terbuka dan berucap salam memuliakan Caesar. "Ave Caesar, morituri te solutant." (Salam untuk yang mulia dari kami yang segera akan mati). Kematian sebagai jalan mulia!

Bukan kali ini saja bom meneror Jakarta. Beberapa kali di tahun-tahun silam, Ibu Kota, menjadi pilihan mereka menggelar konser kekerasan. Akan tetapi, tetaplah tak percaya ketika Jalan Thamrin, yang tak jauh dari Istana Negara, dipilih jadi lokus kekerasan. Di era ini, ketika gadget selalu ada dalam genggaman, segeralah gambar pelaku tersebar di media sosial dan media massa. Dengan penampilan casual: berjins, berkaos, bersepatu keats, bertopi, menggendong ransel, berbaur dengan masyarakat, lalu menembak polisi dari jarak dekat, dan kemudian meledakkan diri, semuanya dalam gadget kita. Untuk sementara, kata polisi, ISIS (Islamic State of Irak and Syiria) diduga berada di balik serangan yang newaskan tujuh dan melukai 15 orang.

Sosok seperti Sidney Jones, Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik, boleh saja beranalisis ISIS tak bakal eksis di Indonesia, karena Islam tak jadi minoritas yang tertekan dan demokrasi berjalan baik, tapi itu bukan pegangan mati. Bahwa "Indonesia tidak memiliki pemerintahan yang represif, tidah sedang dijajah, kondisi politik yang stabil, dan muslim di sana (Indonesia) bukan minoritas yang teraniaya," kata Jones, memang betul. Namun, Indonesia dengan 250 juta penduduk pastilah target penting di Asia Tenggara.

Kekerasan selalu punya wajahnya yang tak terprediksi. ISIS tengah menjadi magnit baru mereka yang hobi berpetualang lewat jalan kekerasan. Bisa jadi mereka dari kalangan agama yang mengalami diisorientasi iman, plus kemiskinan yang memilin-milin, maka berjodohlah ia. Maka, keadilan dan kesejahteraan masyarakat, menjadi kunci terbaik mengatasi radikalisme ini.

Saya setuju Presiden Joko Widodo yang menegaskan, negara dan bangsa tak boleh kalah oleh aksi teror. Ia mengutuk aksi kekerasan yang biadab itu. Inilah afirmasi negara yang jelas maknanya. Terlalu sayang bangsa ini kehilangan nyali dan keyakinan diri terhadap segelintir orang yang merobek-robek ketenteraman hidup bersama. Tentu saja kewajiban negara pula membimbing mereka untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya.

Sepanjang tahun lalu kita menyaksikan banyak negara jadi sasaran kekerasan, seperti Prancis, Mesir, Tunisia, Turki, dan hari ini negeri kami tercinta mengalami mimpi buruk itu. Menurut Ketua PB NU Said Aqil Siradj, ada 800 orang Indonesia yang ikut berperang di Suriah. Jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit meski jika diprosentasi penduduk yang 250 juta jiwa, termasuk kecil. Mereka telah mendapat pengalaman lapangan yang nyata. Jalan terbaik tentu menyadarkan mereka agar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Aqil Siradj, berkali-kali mengingatkan kita akan tiga konsep ukhuwah (persaudaraan). Ketiga itu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Ia meminta persaudaraan bangsa dan persaudaraan umat manusia didahulukan. Alasannya jelas, tanpa negara, bagaimana umat Islam bisa melakukan aktivitas keagamaan dengan tenang dan aman tanpa negara? Dan, konser kekerasan awal tahun, mestinya menguatkan tekad itu. ***



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima