Faktor Psikologis

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
14/2/2015 00:00
Faktor Psikologis
(MI/SENO)
NILAI mata uang India, rupee, pernah tertekan sangat dalam. Perdana Menteri Manmohan Singh sudah mengeluarkan
berbagai kebijakan untuk mencegah pelemahan rupee, tetapi rupee bergeming.

Langkah nonekonomi akhirnya dicoba. Singh mengganti menteri keuangan yang kebetulan kosong. Ia mencari orang India yang lulusan luar negeri. Masyarakat India memiliki obsesi belajar di luar negeri dan siapa yang berhasil dianggap orang hebat.

Singh menunjuk seorang ahli hukum lulusan Universitas Harvard, Palaniappan Chidambaram. Begitu pengumuman menteri keuangan disampaikan, nilai tukar rupee langsung menguat.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan sering kali nilai tukar bukan disebabkan faktor ekonomi. Pasar lebih sering bermain dengan persepsi dan faktor psikologis yang menentukan nilai tukar.

''Sering kan kita melihat. Ketika nama Sri Mulyani disebutkan akan menduduki jabatan tertentu, langsung nilai rupiah menguat. Mengapa? Karena pasar menganggap Sri Mulyani akan memberi dampak yang positif dalam kebijakan ekonomi ke depan,'' kata Budi.

Kamis lalu, nilai tukar rupiah tiba-tiba kembali tertekan. Para analis menyebutkan, krisis Yunani menjadi penyebab. Kekhawatiran akan bangkrutnya Yunani dan keputusan pemerintah baru negeri itu keluar dari Uni Eropa membuat pasar uang nervous.

Krisis di Yunani bukan baru terjadi. Sejak dua tahun lalu, Yunani mengalami tekanan ekonomi. Italia dan Spanyol pun mengalami resesi. Tingkat pengangguran di negara itu mencapai 25%. Namun, kita tahu, tidak seperti perusahaan yang kemudian tutup ketika bangkrut, tidak pernah ada negara yang bubar meski ekonominya porakporanda.

Walaupun kita akui ada krisis di Yunani, bukan itu yang menjadi penyebab melemahnya nilai tukar rupiah. Ada faktor psikologis di tengah masyarakat yang merasakan tidak ada kepemimpinan di negeri ini. Kita punya presiden, punya pemerintahan, tetapi dalam sebulan terakhir ini kehadirannya tidak terasakan.

''Where are you Mr President?'' itulah yang kembali kita dengar. Dulu orang mempertanyakan kepada SBY. Sekarang pertanyaan itu ditujukan kepada Jokowi. ''Di mana Presiden yang biasanya cepat dan berani untuk mengambil keputusan?''

Baru dua minggu menjadi presiden, Jokowi berani menaikkan harga BBM. Padahal, dua tahun orang mendorong SBY untuk melakukan itu tidak berani ia melakukannya. Kenapa sekarang sudah satu bulan kegaduhan politik terjadi, perseteruan Polri dan KPK tidak kunjung diselesaikan?

Tidak ada keputusan tanpa risiko. Menaikkan harga BBM risikonya bahkan jauh lebih tinggi, karena berkaitan dengan kehidupan rakyat. Kisruh Polri-KPK sebenarnya hanya berkaitan dengan elite. Aneh jika Presiden tidak segera menyelesaikannya.

Buying time yang terlalu lama menimbulkan perasaan pemerintahan tidak ada. Ketika pemerintahan dianggap absen, faktor psikologis yang muncul ialah ketidakpastian. Ekspresi kegundahan masyarakat dicerminkan pada nilai tukar rupiah yang tiba-tiba melemah begitu dalam.

Semoga Jokowi menyadari hal itu karena kita harus membangun negeri. Kita berharap Jokowi kembali kepada jati dirinya yang dipilih rakyat karena ketulusannya. Keputusan diambil karena suara hatinya, bukan suara orang lain.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.