Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)
BELAJAR tak kaget konon seni menjadi bijaksana. Jujur saya sedang latihan untuk tidak mudah kaget mengarungi demokrasi yang penuh anomali ini. Namun, sama sekali tak berpretensi menjadi bijak. Itu semata agar tidak mudah jatuh sakit. Kalau mudah kaget, marah, lalu mengumbar sumpah serapah, kita bisa terkena gangguan neurosis, bahkan bisa majenun.
Karena itu, saya tak kaget ketika membaca berita dua anggota Komisi VII DPR berduel seusai rapat kerja dengan Menteri ESDM Sudirman Said, Rabu (8/4) silam. Saya 'bersyukur', Mulyadi (Partai Demokrat) dan Mustofa Assegaf (PPP), yang baku pukul itu, tak membuang watak asli: mereka yang bernalar pendek cenderung menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Tak peduli publik letih menunggu good news karena setelah dilantik awal Oktober tahun lalu, mereka masih 'asyik masyuk' dengan urusan mereka sendiri. Bukan urusan publik.
Saya tak kaget. Saya baru kaget kalau mengikuti galibnya negara bahwa anggota dewan itu 'terhormat'. Sejak politik diniagakan di pasar dan publik tak lagi dimuliakan, tapi diajak serta menjual suara, saya melihat anggota DPR serupa pedagang. Ia membeli suara di musim kampanye dan 'menjualnya' setelah duduk di parlemen (tentu anggota dewan yang terpilih bukan karena berdagang tak masuk golongan ini).
Saya tak kaget ketika mendengar anggota DPR, dulu aktivis ormas, kini kaya raya. Salah satu rumahnya di Jakarta amat besar dengan kolam renang menawan. Di kampungnya ia tokoh kebanggaan daerah. Saya juga tak kaget, meski jalan Jakarta macet luar biasa dan 30 juta penduduk Indonesia megap-megap dalam kemiskinan, ada anggota dewan yang mobil mewahnya berjejer tak hanya di rumah, tapi di banyak tempat. Sebagai pedagang politik dalam beberapa tahun pastilah mereka untung besar.
Saya tak kaget ketika membaca berita anggota DPRD di Lampung Timur, dua tahun lalu, bersekongkol dengan belasan pemerkosa daripada membela korban, gadis miskin yang putus SMP. Padahal, keluarga gadis itu melapor ke wakil rakyat agar keadilan bisa hadir (meski untuk seorang yang kegadisannya direnggut paksa beramai-ramai, keadaan tak akan bisa pulih dengan keadilan model apa pun). Gadis itu tak punya kuasa untuk menghimpun suara ketimbang belasan pemerkosa. Dalam usaha dagang politik, para pemerkosa lebih bisa meraih 'laba'. Para penjahat itu tetap berkeliaran!
Saya tak kaget ketika seorang kawan bercerita, tetangganya di Bogor setelah menjadi anggota DPRD kabupaten 'mengisolasi' diri. Rumahnya dibangun paling mewah, dipagar besi tinggi nan kukuh. Ia telah menjadi anggota dewan!
Ada begitu banyak 'cerita' tentang wakil rakyat kita. Contoh-contoh itu hanyalah butiran debu. Ada 3.600 anggta DPRD, 74 anggota DPR, 290 kepala daerah tersangkut korupsi. Angka-angka itu nyaris tak punya 'vibrasi' untuk mengurangi laku korupsi. Faktanya, menurut ICW, pelaku korupsi yang ditangkap KPK umumnya kelas teri. Anda bayangkan jika setiap ada pejabat publik tersangka korupsi, duel, pesta narkoba, dan lain-lain, kita kaget dan marah, alangkah habis energi kita. Terlebih lagi jika mereka yang kelas kakap tertangkap!
Hidup, kata Milan Kundera, adalah perangkap. "Kita lahir tanpa ditanyai, terkunci di dalam tubuh yang tidak pernah kita pilih. Namun, dunia yang terbentang luas juga harus menyediakan jalan keluar yang konstan." Jika demokrasi di tangan para politikus rakus/banal menjadi perangkap, harus ada aktor utama penyedia kemungkinan jalan keluar itu. Tak kaget hanya cara bertahan sementara.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima